Jejeran pohon kelapa itu tampak rapi berbaris. Ujung-ujung pelepah dan daunnya bergoyang halus di elus angin pagi yang sejuk. Anisa duduk di serambi rumah orang tuanya. Matanya memandang lepas melewati pucuk-pucuk tertinggi daun pohon kelapa. Menatap lepas ke langit yang berwarna biru pucat dengan gumpalan-gumpalan kecil awan. Hari begitu cerah, secerah harapan yang terpatri dalam otaknya. Anisa tersenyum penuh arti.
Tadi pagi selepas sarapan bersama suami dan buah hatinya yang masih kecil, anisa telah membulatkan tekad untuk merantau ke negri yang belum pernah ada dalam bayangan pikiran sebelumnya. Negri yang kini menjadi primadona untuk merubah nasib seperti yang telah di buktikan beberapa sahabatnya.
Anisa, wanita dengan wajah yang oriental dengan mata sayu dan agak sipit, mirip wajah cantik melankolis penyanyi asal china. Anisa kecil adalah seorang anak yang tidak begitu mengenal dunia luar. Waktunya dihabiskan untuk membantu orang tuanya dan mengurusi adik-adiknya. Meski begitu anisa kecil adalah anak yang periang, pandai bergaul dan pintar.
.*****
Anisa baru saja selesai menunaikan ibadah di sepertiga akhir malam. Matanya yang sayu sebenarnya telah lelah tapi kebersihan hatinya menggerakkan tubuh yang letih itu untuk bangun di setiap akhir malam, beribadah dan mendoakan mereka, orang-orang yang datang dalam takdir kehidupannya. Dengan luwes di rapikannya mukenah dan sajadah kemudian di letakkan disisi pembaringannya.
Di rebahkannya tubuh yang akhir-akhir ini sedikit kurus karena terlalu dipaksakan untuk berpikir dan bekerja. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang gelap, segelap bayangan masa depannya sekarang. Suaminya telah berkali-kali merusak janji dan kepercayaannya. melupakan apa yang dulu pernah di ucapkan ketika dirinya akan berangkat ke negri ini. Saling menjaga dan menyayangi di kala dekat maupun jauh. Begitulah kalimat yang dulu dia dan suaminya ucapkan sesaat sebelum perjalanan panjang mengantarkan anisa ke negri ini. Bukankah apa yang sekarang di lakukannya adalah untuk kebahagiaaan dan masa depan keluarga kecilnya?
Terlalu sakit setiap kali mengingat pengkhianatan ini, belum lagi kondisi orang tua dan adik-adiknya yang tak akur dan selalu saling menyalahkan membuatnya semakin tertekan. Anisa menarik napas, matanya masih memandang kosong dalam gelap seolah menghitung atau mencari sesuatu. Mungkin sebuah jawaban. Tiba-tiba dari sudut-sudut matanya berjatuhan buliran-buliran bening dan dingin, merembes membasahi bantal. Anisa tertidur dalam keadaan menangis.
Hari hari dirantau di lewatinya dengan bekerja dalam kesedihan, hingga seorang laki-laki berpenampilan meyakinkan menawarkan cinta kepadanya. Anisa yang sedang goyah jiwanya hanyut dalam buaian cinta yang telah lama di rindukan. Tutur kata yang memikat dan sosoknya yang di pandang berwibawa dari lelaki itu membuatnya terlena. Di berikannya cinta dan kasih sayang yang telah lama mengendap. Hari-harinya kini kembali bersemi, sajak-sajak romantis lahir dari bibirnya yang mungil.
telah datang padaku
wajah rupawan dengan gaya jalan seorang pangeran
ku tak mampu lagi bersembunyi sendiri
ketika ia menawarkan kepadaku kedamaian
aku larut dalam asmara yang memabukkan itu
di hapuskannya luka-luka di hatiku
tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi
dia, sang pahlawanku
memberi luka baru
lebih sakit dari masa laluku
Lelaki yang di pujanya mengkhianatinya dengan cara yang hampir sama dengan perbuatan suaminya dulu. Anisa merasakan dunia begitu kejam pada dirinya. Sebenarnya Sang maha pemberi musibah begitu menyayanginya, hingga tidak di biarkan anisa tertipu kebahagiaan semu. Anisa mulai menyadari kesalahannya.
Hari-hari penuh kesibukan kembali menemani waktunya, mengajaknya berlari. Dengan terseok-seok anisa mengikuti kemauan sang waktu. Dia tidak ingin berhenti di sini. Sebuah senjata kini di milikinya, senjata yang di letakkan dalam hati. Senjata yang tercipta dari rentetan ujian dan gelombang kedukaan. Kesabaran.
Terbuka kembali mata hatinya dan di mulai lagi perjuangan meretas mimpi yang sempat terabaikan itu. Sekali lagi sang Maha pemberi ujian membuktikan kasihnya. Di berikan pada anisa sebuah keindahan baru. Seorang laki-laki datang memperkenalkan diri. Mengaku tulus mencintainya. Siap mengorbankan jiwa demi kebahagiaannya. Sekali lagi anisa menemukan cinta. Kali ini cinta itu lain dari cinta yang pernah di kenalnya. Anisa terpikat pada laki-laki yang dengan cara yang tidak biasa ini menawarkan ketenangan seperti yang dia idamkan. Sajak dan puisi indah kembali mewarnai hari-hari dalam hidupnya.
seorang laki-laki mengundangku ke taman
taman tempat para dewa dewi merangkai warna pelangi
aku penuhi undangannya
dengannya ku rajut kembali asa-asa yang terserak
sampai nurani berbisik mengajakku pulang
ku tulis di batu taman
untuk yang telah rela mencuri angin surga
aku begitu terbuai dalam keteduhan kelembutanmu
aku ingin berlama-lama di sini
tapi aku harus kembali pulang
aku belum layak ada di tempat ini
Laki-laki yang mengaku menyayangi anisa itu hanya bisa berdiri mematung. Membiarkan anisa berlalu. Dia ingin mengajak anisa ikut bersamanya, tapi dia juga tak berani menentang hukum sang Khalik. Sebuah sajak singkat keluar di sela redam tangisnya.
hai perempuan yang berkerudung senja
bilamana waktu mempertemukan kita kembali
meski hari begitu malam
aku tetap mengenalmu
karna aku selalu melihat mu
dengan mata hatiku
aku tetap mengenalimu
Anisa membalikkan tubuhnya, dia tersenyum. Dia membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan laki-laki yang masih tegak menatapnya.
*********
Musim semi kembali datang. Anisa menghirup udara pagi itu dengan kelegaan. Kini dia mengerti jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri. Angin yang menggerakkan daun atau daun yang melahirkan angin, tak lagi di pedulikannya. Biarlah semua menentukan pilihan dan bertanggung jawab pada pilihannya. Seperti yang sedang di lakukannya, Sekarang.
Selasa, 26 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

JANGAN LEMAH GITU DONG ANISSA! SALAM DARIKU YA,.!HE..HE
BalasHapus