kenapa awan punya warna putih dan hitam?..., kenapa senja selalu mempesona? kenapa angin suka membawa bau tak sedap? kenapa malam penuh dengan rahasia? Aaaah..., aku semakin merasa bodoh saja mendengar pertanyaanmu.
"ko cuma senyum?" kau lagi-lagi bertanya, bahkan sekedar senyumku pun kau pertanyakan. Tahukah kamu dik, setiap pertanyaanmu adalah cerita hidupmu yang penuh keperihan dan karena aku tak pernah bisa membuat sebuah kenangan indah tentang kita maka aku hanya bisa tersenyum dan diam. Sementara engkau, meski hanya dengan bertanya ringan akan selalu terkenang selamanya dalam memori hidupku.
"kakak gak suka ya dengan pertanyaanku?"
duh lagi-lagi kau bertanya ringan, padahal dalam hatiku saat ini hanya ingin diam menikmati waktu-waktu terakhir kebersamaan kita.
"suka kok" akupun terpaksa menjawab karena kutangkap wajah jutekmu sekilas. "makasih ya" ujarku kemudian.
"lho..lho... ko' terima kasih? kakak berterima kasih untuk apa? aku kan bertanya kak, bukan memberi hadiah... parasmu berubah heran setelah mendengar ucapanku. Sesaat kemudian engkaupun mengenali dengan baik tanda-tanda kekecewaanku.
"kak..., maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu... maafkan karena selama ini telah membuatmu banyak berharap kepadaku."
Aku semakin tak tahu harus berkata apa karna kulihat wajahmu merasa bersalah begitu rupa.
"hei... ngomong apa kamu dik, ko minta maaf segala... emang kamu salah apa ma kakak? kita berdua ini benar semua lho hanya berbeda pendapat. hihihihi..., aku tertawa kecut mencoba menghilangkan keresahanku sendiri.
"dik...?" aku kemudian menatapnya serius.
"iya kak.." jawabmu pendek menunggu ucapanku selanjutnya.
"ga' papa ding, kakak cuma kpingin manggil kamu aja..." aku memaksakan bibirku tersenyum, menghilangkan kalimat yang telah kususun dan siap meluncur keluar. Jika kalimat ini sampai keluar aku yakin aku akan menjadi laki-laki paling pecundang kepadamu.
(aku ingin membawa lari kamu dari sini, dari orang-orang yang mengaku menyayangimu)
"kak... udah malam, kakak pulang sana..."kata-katamu memecah kebisuan kita
"hmmm... bentar lagi ya... kan belum terlalu malam sekarang... bentaaar lagi...,boleh ya,...ya boleh kan?" tanyaku merajuk. Sungguh aku ingin sedikit lebih lama lagi disini karena besok semua akan jadi masa lalu dan kita akan kembali ke keadaan kita masing-masing. Tidak ada lagi kita sepasang kekasih, yang ada hanya engkau dan aku sebagai dua orang yang saling mendoakan.
Dan engkau mengangguk pelan. kemudian engkau tatap bulan yang mirip buah kesukaanku itu. Sementara kau menatap langit malam yang temaram aku berlama-lama menatap wajahmu. terakhir kali...
hayo... lagi mandang aku ya?" candamu tanpa menoleh ke arahku dan tetap menatap gugusan bintang dan bulan yang mirip pisang itu.
"emang napa..? gak boleh ya?" tanyaku pura-pura kesal. ikh, napa sih dik kamu mencandaiku disaat hatiku sedang tak ingin tertawa. aku hanya mampu bertanya dalam hati saja.
"kakak sekarang pulang ya..., aku dah capek banget nih, dah ngantuk berat. kakak tahu kan besok seperti biasa aku harus kerja. kerja yang berat untuk ukuranku. Demi ayah dan ibu, dan keluargaku."
"hmm... ya, ya..ya..." aku hanya bisa berucap itu dan mengangguk.
aku pun bangkit dan melangkah pergi meninggalkanmu.
(semuanya sudah berakhir ya... demi ketenangan dan kejernihan hati kita, memang ini jalan terbaik. Diatas itu semua, memang yang kita cari adalah ridho dan kasih sayangNYA. Dan aku malu karena memaksakan suatu dosa kepadamu. maafkan dan maafkan kakak yang beberapa waktu ini menjadi orang yang menyebalkan dan hanya menambah berat beban pikiranmu saja. masa lalu memang tak mungkin kakak bawa selamanya bersanding dengan hari ini, suka tidak suka dia harus ditinggal dan di simpan)
Sabtu, 27 Juni 2009
Selasa, 09 Juni 2009
bercanda dengan diri sendiri
hari ini sebenarnya hati lagi bersedih, tapi ku coba mengalihkannya dengan menulis di blog. Tidak seperti biasanya yang tentang perenungan, kali ini aku ingin mengarang cerita humor... aah semoga saja lucu kalaupun tidak ya bearti aku memang tidak bakat menghibur orang, hmmm...
Dimulai....
suatu sore udin curhat pada bejo tentang masa depan hubungannya dengan novi, anak orang kaya di kampungnya.
udin : "jo..., aku sudah bosen pacaran backstreet, tp klo terang2an kayaknya ga bakal deh di izinin ma orang tuanya novi"
bejo : "kamu usaha lebih giat lagi dunk"
udin : "udah.. tapi tetep aja lah jo, berapa sih upah seorang buruh?"
bejo : "klo gitu doa, b'doa tiap malam..."
udin : "itu juga udah aku lakuin, tiap malam bangun dan sholat trs b'doa..."
bejo : "gimana bunyi doanya?"
udin : " ya..gitu.., aku minta rezeqiku lebih banyak..."
bejo : (begaya pinter, sambil jari2nya mukul jidatnya sendiri..)" kayaknya doanya salah din..."
udin : "kamu punya doa yang mujarab jo?" (udin tampak serius menunggu jawaban bejo)
bejo : aaah... eeeee... doanya gini din..., kamu bedoa biar keluarga cewek kamu melarat gimana? drpd kamu bdoa biar kamu kaya tp ga juga terkabul sapa tahu kalo di balik jadi terkabulkan...!!"
udin : "sinting kamu jo..!!"
******
seorang pemuda yang baru saja di tolak cintanya mengirim sms pada pujaan hatinya dengan pesan ancaman
"gara-gara kamu menolakku, maka aku akan bunuh diri besok pagi"
kemudian sang gadis membala sms tersebut "kenapa harus nunggu besok, sekarang dong bunuh dirinya!"
si pemuda membalas sms itu "besok kan hari libur, kalo hari ini aku masih sibuk kerja!!"
******
si otong, bocah yang baru berumur lima tahun adalah anak tetangga japra. otong kritis banget. Suatu sore selepas sholat ashar japra berjongkok mengamati tanaman di terasnya, kemudian otong datang menghampiri dengan wajah bingung...
japra : "kamu napa tong?"(sambil melihat ada orang gila lewat di depan kami)
otong: "anu oom.. ada burung..."
japra : "ooo, itu orang gila..., kalo orang gila ya gitu tong.., burungnya kelihatan jawabku apa adanya... kupikir si otong melihat burungnya orang gila tapi ternyata salah.
otong :" berarti oom juga orang gila dong...?"
japra : (kaget)"lho?"
otong : " itu burung oom kelihatan.. katanya sambil cekikikan..."
japra : "ups.. baru sadar, jongkok pake sarung lum pake cd terlalu ketarik ke atas... asem, malu berat niy!!"
******
ok, sekian dulu mencoba bikin cerita lucunya. kalau gak lucu maklum ya, namanya juga hati lagi sedih.
Dimulai....
suatu sore udin curhat pada bejo tentang masa depan hubungannya dengan novi, anak orang kaya di kampungnya.
udin : "jo..., aku sudah bosen pacaran backstreet, tp klo terang2an kayaknya ga bakal deh di izinin ma orang tuanya novi"
bejo : "kamu usaha lebih giat lagi dunk"
udin : "udah.. tapi tetep aja lah jo, berapa sih upah seorang buruh?"
bejo : "klo gitu doa, b'doa tiap malam..."
udin : "itu juga udah aku lakuin, tiap malam bangun dan sholat trs b'doa..."
bejo : "gimana bunyi doanya?"
udin : " ya..gitu.., aku minta rezeqiku lebih banyak..."
bejo : (begaya pinter, sambil jari2nya mukul jidatnya sendiri..)" kayaknya doanya salah din..."
udin : "kamu punya doa yang mujarab jo?" (udin tampak serius menunggu jawaban bejo)
bejo : aaah... eeeee... doanya gini din..., kamu bedoa biar keluarga cewek kamu melarat gimana? drpd kamu bdoa biar kamu kaya tp ga juga terkabul sapa tahu kalo di balik jadi terkabulkan...!!"
udin : "sinting kamu jo..!!"
******
seorang pemuda yang baru saja di tolak cintanya mengirim sms pada pujaan hatinya dengan pesan ancaman
"gara-gara kamu menolakku, maka aku akan bunuh diri besok pagi"
kemudian sang gadis membala sms tersebut "kenapa harus nunggu besok, sekarang dong bunuh dirinya!"
si pemuda membalas sms itu "besok kan hari libur, kalo hari ini aku masih sibuk kerja!!"
******
si otong, bocah yang baru berumur lima tahun adalah anak tetangga japra. otong kritis banget. Suatu sore selepas sholat ashar japra berjongkok mengamati tanaman di terasnya, kemudian otong datang menghampiri dengan wajah bingung...
japra : "kamu napa tong?"(sambil melihat ada orang gila lewat di depan kami)
otong: "anu oom.. ada burung..."
japra : "ooo, itu orang gila..., kalo orang gila ya gitu tong.., burungnya kelihatan jawabku apa adanya... kupikir si otong melihat burungnya orang gila tapi ternyata salah.
otong :" berarti oom juga orang gila dong...?"
japra : (kaget)"lho?"
otong : " itu burung oom kelihatan.. katanya sambil cekikikan..."
japra : "ups.. baru sadar, jongkok pake sarung lum pake cd terlalu ketarik ke atas... asem, malu berat niy!!"
******
ok, sekian dulu mencoba bikin cerita lucunya. kalau gak lucu maklum ya, namanya juga hati lagi sedih.
Senin, 01 Juni 2009
mujarad 4
kali ketiga aku datang ke kota ini. Apakah aku akan bisa membawanya ke hadapan ibu?. Aku menyusuri jalan menuju rumah anisa. Kali ini tanpa istirahat dan bersilahturahmi dengan pak ustadz baik hati itu.
****
Anisa memandangi ikan-ikan yang hilir mudik dan memakan pakan yang di taburkan. Dia gelisah, ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Ada apa dengan jiwanya, diapun tak tahu. Hanya dia sadar kehidupannya kini tidak lagi sama dengan yang dulu. perceraian membawanya pada status baru.
"dia pasti datang... jika dia mengajakku harus kujawab apa. Ya Allah beri aku jawaban, jangan besok tapi sekarang. jangan biarkan hamba dalam keraguan." anisa bergumam sendiri sambil menatap kincir air yang ada di kolam ikan.
Tok..tok tok tok... "assala mu'alaikum.... "
Terdengar bunyi pintu di ketup dan suara orang memberi salam, suara seorang laki-laki. "hmm.. dia tlah datang...memenuhi undangan hatinya sendiri, ...dan aku... adakah aku juga di undang oleh hatiku untuk perjalanan baru ini??" anisa menunduk. Terdengar suara ibunya dari belakang. anisa berdiri, dia memandang wajah ibunya, seolah meminta pilihan.
"ada tamu kamu di depan, sana temui..." ibunya berkata singkat melihat anisa hanya diam berdiri mematung.
Anisa menyibakkan gorden pintu tengah dan tersenyum. Laki-laki yang melihatnya pun langsung tersenyum dan terlihat gembira. Sebuah pertemuan yang telah ditunggu lama akhirnya terjadi juga. setelah berbincang sebentar keduanya terdiam. ada kekakuan dari keduanya.
"aku datang melamarmu..." berkata pelan laki laki itu memecah kebisuan. Dia tampak ragu mengucapkan kalimat indah itu. Bukan karena ragu pada kesiapan dirinya tapi ragu pada sikap Anisa yang tampak takut begitu mendengar kata-kata itu. "Ada apa anisa? jawablah..." kembali laki-laki berpenampilan sederhana itu mengulang kembali kata-katanya, tapi anisa hanya menunduk.
"Bukankah kau mencintaiku? kau juga pernah datang ke tempatku... adakah kau tidak suka dengan diri dan keadaanku?." terlihat semakin lelah wajah laki-laki yang memang belum beristirahat dari sejak datang ke kota anisa ini. Kini wajah itu semakin terlihat memelas.
"..k...kak... maafkan anisa..., anisa tak mampu..., tak bisa memenuhi keingnan kakak..., anisa takut..., anisa bingung...,....u..gggh.."
Tak ada suara yang keluar dari mulut anisa selain tangis yang tiba-tiba meledak memecah suasana yang barusan sepi.
Laki-laki yang di panggil kakak oleh anisa itu terkejut mengartikan maksud ucapan anisa. Dia semakin tak mengerti karena kini anisa menangis. perlahan dia berjongkok di depan anisa, tangannya diulurkan hendak meraih wajah yang sesenggukan itu tapi setengah jalan dia urungkan niatnya. Dia kembali duduk, terdiam. bathinnya kini menangis. Jika bukan karena rasa sayang yang begitu dalam, mungkin saat ini dia goncangkan tubuh anisa dan memaksanya berterus terang tentang maksud kalimat yang sepotong-sepotong tadi. Sangat lama rasa itu mengendap dan di biarkan terkekang di hati, kini ketika tak ada alasan untuk menahannya lagi rasa itu harus tergerus kembali. "Mengapa..., mengapa?"
Beberapa kali laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkan kepalanya karena sepertinya ia juga tak sanggup untuk tidak ikut meneteskan air mata.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya laki-laki itu memberanikan diri berjongkok kembali di depan anisa. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan mengangkat wajah anisa yang masih menunduk dan terisak, dia bertanya sekali lagi...
"An..., katakan apa yang kau inginkan? tatap aku.., lihat mataku An..., bisakah kau berterus terang tentang kalimatmu tadi?"
Anisa masih diam. Hanya menatap mata laki-laki yang dari kedua sudut matanya mulai keluar bening air mata.
"A..an..., sekali lagi ku bertanya..."
" Maukah engkau menjadi istriku? Aku tak peduli semuanya...,"
" aku datang kesini dengan cinta yang telah lama ku redam dalam jiwa.... Aku datang kepadamu dengan niat untuk membawamu kehadapan ibuku..., Aku datang kerumahmu untuk memohon izin pada orang tuamu...."
"Izinkan aku berusaha membahagiakanmu..."
Sekali lagi anisa diam. tapi kali ini dia mulai bisa mengendalikan gundah hatinya. Ditatapnya tajam mata laki-laki itu.
"Kak... maafkan aku... aku belum siap... maafkan aku.... maafkan aku" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut anisa.
Laki-laki yang berjongkok di depan anisa langsung terduduk lemas di lantai begitu mendengar jawaban anisa. Tak ada lagi yang bisa di katakannya. Hatinya terasa hancur, tapi dia tak bisa mengatakan apa-apa. Meski anisa tidak mengatakan dengan jelas alasan penolakannya tapi dia memaklumi jika dalam hati anisa ada rasa trauma yang belum bisa sembuh setelah kegagalan dan ketidak percayaannya pada sosok seorang suami.
Tanpa mengatakan apa-apa, laki laki itu berdiri dan meraih tas pakaiannya yang tergeletak disisi kursi tempat duduknya Kemudian berjalan pelan keluar.
"panggil aku An.. tahan langkahku ini..., berlarilah..., katakan kau mau jadi istriku...." jerit hati laki-laki itu Sambil berjalan dengan kepala sedikit tertunduk semakin jauh meninggalkan halaman rumah anisa. Tapi tak ada kata-kata yang terdengar seperti keinginannya.
"jika masih ada rasa sayangmu untukku...jika dalam hatimu ada keyakinan untuk bersamaku...panggil namaku sekarang...!!! sebut namaku sekarang!!! sebelum aku benar-benar pulang dan tak kan lagi datang ke kotamu..." sekali lagi Hatinya berharap. Ingin sekali Dia menengok dan membalikkan badannya, memastikan apakah anisa masih menatap dan memandanginya atau memang membiarkannya pulang dalam keadaan hancur seperti ini, tapi tak jadi dilakukannya. Dia hanya berhenti sebentar di persimpangan jalan kecil yang menuju rumah anisa itu. Kemudian dia bergegas mempercepat langkahnya dan hilang di belokkan jalan.
********
Dan setiap senja datang
aku akan selalu mengingat ini
(tulisan di lembar terakhir buku diary)
****
Anisa memandangi ikan-ikan yang hilir mudik dan memakan pakan yang di taburkan. Dia gelisah, ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Ada apa dengan jiwanya, diapun tak tahu. Hanya dia sadar kehidupannya kini tidak lagi sama dengan yang dulu. perceraian membawanya pada status baru.
"dia pasti datang... jika dia mengajakku harus kujawab apa. Ya Allah beri aku jawaban, jangan besok tapi sekarang. jangan biarkan hamba dalam keraguan." anisa bergumam sendiri sambil menatap kincir air yang ada di kolam ikan.
Tok..tok tok tok... "assala mu'alaikum.... "
Terdengar bunyi pintu di ketup dan suara orang memberi salam, suara seorang laki-laki. "hmm.. dia tlah datang...memenuhi undangan hatinya sendiri, ...dan aku... adakah aku juga di undang oleh hatiku untuk perjalanan baru ini??" anisa menunduk. Terdengar suara ibunya dari belakang. anisa berdiri, dia memandang wajah ibunya, seolah meminta pilihan.
"ada tamu kamu di depan, sana temui..." ibunya berkata singkat melihat anisa hanya diam berdiri mematung.
Anisa menyibakkan gorden pintu tengah dan tersenyum. Laki-laki yang melihatnya pun langsung tersenyum dan terlihat gembira. Sebuah pertemuan yang telah ditunggu lama akhirnya terjadi juga. setelah berbincang sebentar keduanya terdiam. ada kekakuan dari keduanya.
"aku datang melamarmu..." berkata pelan laki laki itu memecah kebisuan. Dia tampak ragu mengucapkan kalimat indah itu. Bukan karena ragu pada kesiapan dirinya tapi ragu pada sikap Anisa yang tampak takut begitu mendengar kata-kata itu. "Ada apa anisa? jawablah..." kembali laki-laki berpenampilan sederhana itu mengulang kembali kata-katanya, tapi anisa hanya menunduk.
"Bukankah kau mencintaiku? kau juga pernah datang ke tempatku... adakah kau tidak suka dengan diri dan keadaanku?." terlihat semakin lelah wajah laki-laki yang memang belum beristirahat dari sejak datang ke kota anisa ini. Kini wajah itu semakin terlihat memelas.
"..k...kak... maafkan anisa..., anisa tak mampu..., tak bisa memenuhi keingnan kakak..., anisa takut..., anisa bingung...,....u..gggh.."
Tak ada suara yang keluar dari mulut anisa selain tangis yang tiba-tiba meledak memecah suasana yang barusan sepi.
Laki-laki yang di panggil kakak oleh anisa itu terkejut mengartikan maksud ucapan anisa. Dia semakin tak mengerti karena kini anisa menangis. perlahan dia berjongkok di depan anisa, tangannya diulurkan hendak meraih wajah yang sesenggukan itu tapi setengah jalan dia urungkan niatnya. Dia kembali duduk, terdiam. bathinnya kini menangis. Jika bukan karena rasa sayang yang begitu dalam, mungkin saat ini dia goncangkan tubuh anisa dan memaksanya berterus terang tentang maksud kalimat yang sepotong-sepotong tadi. Sangat lama rasa itu mengendap dan di biarkan terkekang di hati, kini ketika tak ada alasan untuk menahannya lagi rasa itu harus tergerus kembali. "Mengapa..., mengapa?"
Beberapa kali laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkan kepalanya karena sepertinya ia juga tak sanggup untuk tidak ikut meneteskan air mata.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya laki-laki itu memberanikan diri berjongkok kembali di depan anisa. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan mengangkat wajah anisa yang masih menunduk dan terisak, dia bertanya sekali lagi...
"An..., katakan apa yang kau inginkan? tatap aku.., lihat mataku An..., bisakah kau berterus terang tentang kalimatmu tadi?"
Anisa masih diam. Hanya menatap mata laki-laki yang dari kedua sudut matanya mulai keluar bening air mata.
"A..an..., sekali lagi ku bertanya..."
" Maukah engkau menjadi istriku? Aku tak peduli semuanya...,"
" aku datang kesini dengan cinta yang telah lama ku redam dalam jiwa.... Aku datang kepadamu dengan niat untuk membawamu kehadapan ibuku..., Aku datang kerumahmu untuk memohon izin pada orang tuamu...."
"Izinkan aku berusaha membahagiakanmu..."
Sekali lagi anisa diam. tapi kali ini dia mulai bisa mengendalikan gundah hatinya. Ditatapnya tajam mata laki-laki itu.
"Kak... maafkan aku... aku belum siap... maafkan aku.... maafkan aku" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut anisa.
Laki-laki yang berjongkok di depan anisa langsung terduduk lemas di lantai begitu mendengar jawaban anisa. Tak ada lagi yang bisa di katakannya. Hatinya terasa hancur, tapi dia tak bisa mengatakan apa-apa. Meski anisa tidak mengatakan dengan jelas alasan penolakannya tapi dia memaklumi jika dalam hati anisa ada rasa trauma yang belum bisa sembuh setelah kegagalan dan ketidak percayaannya pada sosok seorang suami.
Tanpa mengatakan apa-apa, laki laki itu berdiri dan meraih tas pakaiannya yang tergeletak disisi kursi tempat duduknya Kemudian berjalan pelan keluar.
"panggil aku An.. tahan langkahku ini..., berlarilah..., katakan kau mau jadi istriku...." jerit hati laki-laki itu Sambil berjalan dengan kepala sedikit tertunduk semakin jauh meninggalkan halaman rumah anisa. Tapi tak ada kata-kata yang terdengar seperti keinginannya.
"jika masih ada rasa sayangmu untukku...jika dalam hatimu ada keyakinan untuk bersamaku...panggil namaku sekarang...!!! sebut namaku sekarang!!! sebelum aku benar-benar pulang dan tak kan lagi datang ke kotamu..." sekali lagi Hatinya berharap. Ingin sekali Dia menengok dan membalikkan badannya, memastikan apakah anisa masih menatap dan memandanginya atau memang membiarkannya pulang dalam keadaan hancur seperti ini, tapi tak jadi dilakukannya. Dia hanya berhenti sebentar di persimpangan jalan kecil yang menuju rumah anisa itu. Kemudian dia bergegas mempercepat langkahnya dan hilang di belokkan jalan.
********
Dan setiap senja datang
aku akan selalu mengingat ini
(tulisan di lembar terakhir buku diary)
Langganan:
Postingan (Atom)
