gugusan awan
semilir angin
lambaian pohon nyiur
berebut menerima kedatanganku
mentari yang hangat
bumi yang kupijak
dan gemericik air pancuran bambu
menyalamiku dengan syahdu
tapi tidak lama langit meredup
suasana terasa asing
...
********
Akhirnya aku tiba kembali di kota ini. kota tempat calon istriku, semoga. Dengan langkah mantap ku berjalan menuju rumah ustadz muda itu. Suasana hatiku benar-benar gembira. Didalam tas ransel yang kubawa ada sepotong pakaian pemberiannya dulu, kemeja putih dan celana lapang. Akan kupakai saat menemuinya nanti. Ada sebuah kado juga untuknya, sekuntum bunga teratai didalam toples kecil. Semoga itu bisa membuat dia mengingat kembali mimpi-mimpi kami dulu. Kubayangkan dia akan tersenyum dan menerimaku dengan hati berbunga.
Penampilanku kali ini juga berbeda dengan yang dulu, kali ini aku benar-benar merapikan diri. Tidak ada jambang, kumis dan rambut gondrong yang acak-acakan. Aku ingin terlihat rapi di depannya, Agar dia mengenaliku dan tahu bahwa aku benar-benar memperhatikan permintaanya dulu jika takdir memang mempertemukan kami. Semua ini kulakukan untuk dia, anisaku.
Setelah beristirahat sejenak di rumah pak ustadz kemudian aku diantar beliau menuju rumah anisa. Ah sepertinya ada sandungan dalam niatanku ini. Dirumah itu hanya ada orang tua dan saudara-saudaranya serta seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak kecil itu memandangku tajam, entah apa yang ada di pikiran polosnya. Andai bisa, ingin ku katakan kepadanya agar dia mengizinkan aku menjalani kehidupan bersama dia dan ibunya. Aku memang belum pernah bertemu dengan anak anisa, hanya tahu dari cerita anisa dulu. "kemana ibumu pergi nak?" aku berkata dalam hati sambil tersenyum ramah pada anak itu.
Anisa telah dua hari ini pergi dari rumah, entah kemana. Atau mungkin keluarganya menutupi keberadaannya. Aku tak berani bertanya terlalu jauh. Sebelum pergi menurut orang tuanya anisa hanya mengatakan kalau dia ada suatu keperluan ke luar kota, dan tidak lama akan kembali. Setelah menceritakan perkenalanku dulu dengan anisa dan mengutarakan niatku datang kesini, aku kemudian pamit. Keluarganya menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anisa.
Telah dua hari aku menginap di rumah pak ustadz tapi tidak juga ada kepulangan anisa. Aku mulai merasa tak enak terlalu lama tinggal dan merepotkan keluarga pak ustadz.
"Dimana kamu anisa... kenapa selalu ada aral untuk mendapatkanmu. Ya Allah bagaimana lagi aku harus melanjutkannya... tunjukkan sebuah pilihan padaku." jiwaku meradang. Aku lalui malam itu dengan merenung, melamun dan entah sebutan apalagi untuk menjelaskan perasaan dan emosi yang terangkum jadi satu.
Pagi ini setelah berpamitan pada pak ustadz dan mampir ke orang tua anisa, aku pun langsung pulang. Aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan pada ibu. Aku terbayang wajah ibu yang tersenyum mengantarkan keberangkatanku ke kota ini, kini aku tak sanggup membayangkan wajah ibu ketika aku datang nanti. Aku ingin memberikan padanya seorang anak menantu yang begitu baik, yang akan menyayanginya, sama seperti rasa sayangku pada ibu tapi hal itu belum mampu ku wujudkan.
Dengan wajah lusuh aku memasuki halaman rumah, ibu yang berada di teras langsung berjalan menyambutku.
"ada apa nak, kenapa wajahmu murung seperti ini? mana calon mantu ibu?" pertanyaan-pertanyaan ibu mengunci mulutku, aku bingung. Kulihat wajah ibu juga ikut sedih, beliau memahami kalau anaknya sedang tidak enak hati. Tapi tidak lama kemudian beliau tertawa. Aneh..., ibu belum pernah tertawa seriang ini, apalagi melihat anaknya lagi bersedih seperti saat ini. ada apa dengan ibu, apa dia menyembunyikan sesuatu?
Tidak tahan melihat wajahku yang tidak cakep semakin bertambah jelek karena melongo, ibu kemudian bercerita. Dua hari sejak kepergianku ke kota anisa, seorang wanita yang sangat cantik datang ke rumah. Dia memperkenalkan diri sebagai anisa, anisa ku. Dia menitipkan sebuah surat untukku. Tak sabar aku segera merobek amplop surat yang di sodorkan ibu.
kakak...
terima kasih karena engkau selalu menyayangiku, aku bahagia. Salam dan sembah sungkem untuk ibu.
anisa
Begitu pendek suratnya, aku baca berulang kali sampai aku hapal tiap katanya, tapi tidak ada kata-kata tentang masa depannya, tentang keinginan-keinginannya, tentang aku dan dia, tentang kami.
"dia wanita yang cantik sekali. kulitnya putih bersih, sopan dan ramah. ibu menyukainya. dia juga mengajari ibu memasak lho, katanya masakan dari negri orang sipit sana, rasanya aneh. kami tertawa bersama di dapur.... Hmmm, cukup lama dia ada disini tapi ketika ibu memintanya menginap, dia tidak mau. Dia hanya minta di tunjukkan kamarmu yang berantakan itu. Dia masuk ke dalam kamarmu sebentar. Dari balik gorden kamar, ibu mengintip apa yang dia lakukan. Dia hanya memandang fhoto dirinya yang terpajang di kamarmu, kemudian tangannya yang halus itu menyentuh dan membelai lembut sprei ranjangmu. Dia memejamkan matanya. Lalu dia keluar. ada genangan air mata dalam kelopak matanya yang bening... setelah itu dia menulis dan menitipkan surat itu."
Aku mendengarkan cerita ibu tentang kehadiran wanitaku di rumah ini. Aku kemudian bertanya, Bu katakan apa yang harus anakmu lakukan sekarang?" aku meminta nasehatnya, aku meminta doanya. Urusan jodohku harus segera terjawab.
"Berangkatlah lagi, jemput dia, katakan..., Ibu memohon kepadanya agar dia mau menjadi anak ibu. Ibu menjawab dengan wajah penuh senyum. Aku pun langsung menganggukkan kepala.
"Segera Bu, kali ini aku tidak akan pulang tanpa membawanya!!!"
Kamis, 28 Mei 2009
mujarad 2
siang terik di tengah gurun dua sosok manusia terlihat saling berpelukan. Aku mendekatinya. Samar kulihat karena debu beterbangan dengan kencang. seorang wanita berjongkok memeluk bocah kecil, berusaha melindunginya dari terjangan debu yang kencang. Dia menatapku. Bibirnya kering, wajahnya pucat dengan rambut riap tak teratur. "Dia..anisa..., anisaaa...." aku berteriak memanggil sebuah nama.
"Hei..bangun..bangun...., kamu mimpi. kamu menangis? nyebut..nyebut..., ada apa nak, mimpi apa? Ibu membangunkanku dari mimpi yang menakutkan itu. Kutarik nafas dalam-dalam, kuterima segelas air putih yang di sodorkan ibu. Jantungku kembali tenang. Ada apa disana, ada apa dengan keadaan wanita yang kusayang itu? Aku tak bisa menduga arti mimpiku. Malam itu aku tidak sanggup memicingkan mata lagi. Kusebut namanya berkali-kali. Kudoakan keselamatan dan memohon perlindungan kepada Allah untuknya.
Kutulis semua keadaan perasaanku di buku diary. Setiap kali mengingat wanita itu aku hanya bisa berdoa, dan berdoa. Memasrahkan dan memohon ampun atas hatiku yang tak sanggup menghilangkan perasaan cinta ini. "Ampuni hamba yang selalu dzholim ini ya Allah..."
Beberapa kali ibu mengingatkanku untuk segera mencari pendamping hidup, bahkan beliau menyodorkan beberapa nama, bermaksud menjodohkanku, tapi aku tak bisa menerimanya. Hatiku tak bisa mengingkari apa yang aku mimpikan meskipun itu sebenarnya suatu dosa dan hanya bertepuk sebelah tangan.
**********
Tahun berganti, umurku semakin tua dan mulai menjadi perbincangan tetangga sebagai orang tidak laku jodoh. Aku tak begitu memikirkannya. Sebenarnya akupun berusaha menghapus wanita itu dari hatiku, tapi setiap kali ku hadirkan sosok lain dalam hatiku, jiwaku menolaknya.
Suatu malam, selesai melaksanakan ibadah sunnah, aku merenung. Aku berusaha membuat keputusan, kali ini aku harus bisa. Entah darimana mulai memikirkannya, saat itu tiba-tiba melintas sebuah pilihan. Aku akan datangi wanita itu. Anisa, aku akan mencarimu, memastikan engkau bahagia, setelah itu aku pun akan ikhlas.
Pagi hari selesai melaksanakan sholat subuh, aku berkemas. Dua potong pakaian, sarung, dan beberapa perlengkapan lain kumasukan pada tas ranselku. Aku kemudian meminta izin ke ibu. Dengan besar hati ibu mengizinkan pencarianku yang tidak jelas arahnya itu.
Bermodalkan uang tabungan yang ada, aku menggunakan bus umum menuju kota anisa. Alamat yang pernah dia berikan padaku sbenarnya tidak lengkap, tapi kemantapan hatiku mengalahkan semuanya. Aku harus dan pasti menemukannya. Gumamku meyakinkan diri sendiri.
********
Beberapa tempat telah kudatangi, alamat dan nama tempat yang mirip atau memiliki kesamaan dengan cerita yang dulu pernah anisa katakan padaku telah ku jelajahi, tapi tak kutemukan sosoknya. Aku mulai putus asa. Uang bekalku sudah sangat tipis.
Hari masih pagi ketika ku beristirahat di sebuah masjid. Sambil beristirahat, ku cuci pakaian yang kotor. Wajahku pun semakin dekil, rambut mulai kusut dan tubuh semakin kurus karena mengurangi jatah makanku sendiri agar uang bekal ini masih cukup untuk pulang nanti.
Seharian aku dimasjid ini. Kuputuskan selesai sholat isya ini aku akan pulang kembali. Adzan isya baru saja berkumandang. Beberapa orang tampak menuju masjid. Aku tersenyum sendiri melihat beberapa kekeluarga mengajak anak-anaknya sholat berjamaah di masjid ini. Saat hendak menuju tempat wudhlu dalam cahaya lampu yang tidak terang aku berpapasan dengan seorang perempuan muda menggandeng anaknya memasuki serambi depan masjid. Wajahnya mirip sekali dengan anisa. Anisa, ...diakah anisa ku itu? Hatiku berdegup kencang. Aku tak berani bertanya, ku biarkan wanita dan anaknya itu berlalu melewatiku.
Selesai sholat isya berjamaah aku bergegas menuju serambi masjid, ku tunggu dia dan anaknya pulang. Akhirnya wanita yang sangat mirip dengan anisa itu memang keluar. Dia keluar paling akhir dari dalam masjid. Seperti tadi aku hanya bisa memandangnya. Sementara wania itu tampak acuh saja, mungkin tidak merasakan ada orang yang memperhatikannya.
Tiba-tiba suara seseorang menegurku sambil menepuk pundakku.
" saudaraku..., tidak baik melihat wanita dengan pandangan lama seperti itu."
Aku menoleh dan membalikkan tubuhku. Didepanku berdiri laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dariku. Dia adalah imam sholat isya tadi. Aku mencoba tersenyum, menghilangkan rasa kaget tadi.
"ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng dan tersenyum. Tidak berani menyakan siapa wanita tadi. Aku pun diajak berbincang sambil dudk di teras masjid. Setelah itu bapak yang baik hati ini mengajakku pulang ke rumahnya. Aku dipersilahkan menginap. Sebelum tidur kami sempat mengobrol, dan akhirnya aku mengaku jujur padanya. Kuceritakan tujuan perjalanan ini. ternyata wanita tadi memang benar anisa adanya. Dia tinggal bersama anak dan suaminya, tak jauh dari rumah pak ustadz muda ini. Aku di nasehati agar mengubur rasa cintaku kepadanya dan di minta agar besok segera pulang, meninggalkan tempat ini.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku terbangun dari tidurku yang tidak bisa pulas. Aku beranjak bangun menuju kamar mandi yang berad di sudut kamar. Aku ingin menunaikan ibadah sunnah seperti biasa. Selesai mengerjakan sholat malam, dengan menahan air mata yang mulai terasa memadati kelopak mata, aku berdoa untuk anisa dan keluarga kecilnya. Suaraku menjadi serak dan sesekali ada tarikan nafas.
"Ya Allah, berikan kebahagiaan untuk anisa dan keluarganya, ...jauhkan dia dan keluarganya dari fitnah dan musibah, ...dan jadikan aku ikhlas pada setiap kehendakMU, ...Ampuni juga hamba yang selama ini telah dhzolim pada diri hamba sendiri..." Kemudian kusebut asmaNya berulang kali sampai jiwaku merasa tenang kembali .
Di sebelah kamar yang ku tempati ternyata pak ustadz muda juga sedang menunaikan ibadah sepertiga malam, dan dia mendengar semua rintihan doa-doaku. Aku tidak tahu jika dia ikut mengamini setiap doa yang ku panjatkan.
Selepas sholat subuh berjamaah di masjid, aku memohon diri, pamit pada ustadz muda yang baik hati itu. Sebelumnya pak ustadz muda itu meminta alamatku entah untuk apa.
************
Setahun setelah kepergianku ke kota anisa dan menemukannya, aku masih belum juga di karunia pendamping hidup. Aku mulai malas untuk mencari, waktuku kuhabiskan dengan bekerja segiat-giatnya membangun usaha di bidang pertanian. Aku merasakan kebahagiaan meski setiap malam menjelang tidur tak bisa ku pungkiri bahawa aku membutuhkan seorang istri untuk melengkapi kebahagiaan hidupku.
sore itu sepulang dari perkebunan, aku duduk di teras melepas lelah. Ibuku menghampiri, di tangannya ada sepucuk surat yang di sodorkan kepadaku.
"ada surat dari pak pos tadi siang, ibu gak kenal pengirimnya. ini..." aku menerima surat yang di berikan ibu. tertulis pengirimnya nama seorang laki-laki.
kepada saudaraku
semoga senantiasa engkau dalam keadaan hati dan jiwa yang berbahagia selalu. Aku akan mengabarkan kepadamu sebuah berita. Entah ini menjadi berita bahagia untukmu atau bukan, tapi hatiku mendorong tanganku untuk menulis dan memberitahukannya kepadamu.
Aku tak perlu bercerita banyak, karena ku yakin engkau tahu asal dan alasan dari cerita yang ingin ku sampaikan. Empat bulan lalu anita bercerai. Kita tidak tahu keinginan dan kehendak serta takdir Allah, kabar ini aku sampaikan kepadamu dengan tujuan jika engkau memang belum menemukan belahan jiwa, pendamping hidupmu, segeralah engkau datang kemari.
semoga Allah mengampuni kita dan selalu menunjukkan pilihan terbaik untuk hidup kita.
ku tutup surat itu. Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau bersedih.
"bu... sepertinya, jodohku segera datang..., tapi aku mohon ibu bersedia menerima keadaan mantu ibu itu dengan kedua tangan terbuka"
ibuku tersenyum. Dia malah balik bertanya, "kapan kau akan membawanya ke hadapan ibu? oh ya nak, ibu sudah tahu wanitamu. ketika engkau pergi, ibu membaca diarymu. Maafkan ibu ya..., ibu mernyayangi kamu. Ibu tunggu calon mantu ibu dengan kedua tangan akan ibu peluk dia seperti ibu memelukmu..." ibu tersenyum dan masuk kedalam rumah. Tinggal aku yang bengong. Bahagia dan tak percaya.
"Hei..bangun..bangun...., kamu mimpi. kamu menangis? nyebut..nyebut..., ada apa nak, mimpi apa? Ibu membangunkanku dari mimpi yang menakutkan itu. Kutarik nafas dalam-dalam, kuterima segelas air putih yang di sodorkan ibu. Jantungku kembali tenang. Ada apa disana, ada apa dengan keadaan wanita yang kusayang itu? Aku tak bisa menduga arti mimpiku. Malam itu aku tidak sanggup memicingkan mata lagi. Kusebut namanya berkali-kali. Kudoakan keselamatan dan memohon perlindungan kepada Allah untuknya.
Kutulis semua keadaan perasaanku di buku diary. Setiap kali mengingat wanita itu aku hanya bisa berdoa, dan berdoa. Memasrahkan dan memohon ampun atas hatiku yang tak sanggup menghilangkan perasaan cinta ini. "Ampuni hamba yang selalu dzholim ini ya Allah..."
Beberapa kali ibu mengingatkanku untuk segera mencari pendamping hidup, bahkan beliau menyodorkan beberapa nama, bermaksud menjodohkanku, tapi aku tak bisa menerimanya. Hatiku tak bisa mengingkari apa yang aku mimpikan meskipun itu sebenarnya suatu dosa dan hanya bertepuk sebelah tangan.
**********
Tahun berganti, umurku semakin tua dan mulai menjadi perbincangan tetangga sebagai orang tidak laku jodoh. Aku tak begitu memikirkannya. Sebenarnya akupun berusaha menghapus wanita itu dari hatiku, tapi setiap kali ku hadirkan sosok lain dalam hatiku, jiwaku menolaknya.
Suatu malam, selesai melaksanakan ibadah sunnah, aku merenung. Aku berusaha membuat keputusan, kali ini aku harus bisa. Entah darimana mulai memikirkannya, saat itu tiba-tiba melintas sebuah pilihan. Aku akan datangi wanita itu. Anisa, aku akan mencarimu, memastikan engkau bahagia, setelah itu aku pun akan ikhlas.
Pagi hari selesai melaksanakan sholat subuh, aku berkemas. Dua potong pakaian, sarung, dan beberapa perlengkapan lain kumasukan pada tas ranselku. Aku kemudian meminta izin ke ibu. Dengan besar hati ibu mengizinkan pencarianku yang tidak jelas arahnya itu.
Bermodalkan uang tabungan yang ada, aku menggunakan bus umum menuju kota anisa. Alamat yang pernah dia berikan padaku sbenarnya tidak lengkap, tapi kemantapan hatiku mengalahkan semuanya. Aku harus dan pasti menemukannya. Gumamku meyakinkan diri sendiri.
********
Beberapa tempat telah kudatangi, alamat dan nama tempat yang mirip atau memiliki kesamaan dengan cerita yang dulu pernah anisa katakan padaku telah ku jelajahi, tapi tak kutemukan sosoknya. Aku mulai putus asa. Uang bekalku sudah sangat tipis.
Hari masih pagi ketika ku beristirahat di sebuah masjid. Sambil beristirahat, ku cuci pakaian yang kotor. Wajahku pun semakin dekil, rambut mulai kusut dan tubuh semakin kurus karena mengurangi jatah makanku sendiri agar uang bekal ini masih cukup untuk pulang nanti.
Seharian aku dimasjid ini. Kuputuskan selesai sholat isya ini aku akan pulang kembali. Adzan isya baru saja berkumandang. Beberapa orang tampak menuju masjid. Aku tersenyum sendiri melihat beberapa kekeluarga mengajak anak-anaknya sholat berjamaah di masjid ini. Saat hendak menuju tempat wudhlu dalam cahaya lampu yang tidak terang aku berpapasan dengan seorang perempuan muda menggandeng anaknya memasuki serambi depan masjid. Wajahnya mirip sekali dengan anisa. Anisa, ...diakah anisa ku itu? Hatiku berdegup kencang. Aku tak berani bertanya, ku biarkan wanita dan anaknya itu berlalu melewatiku.
Selesai sholat isya berjamaah aku bergegas menuju serambi masjid, ku tunggu dia dan anaknya pulang. Akhirnya wanita yang sangat mirip dengan anisa itu memang keluar. Dia keluar paling akhir dari dalam masjid. Seperti tadi aku hanya bisa memandangnya. Sementara wania itu tampak acuh saja, mungkin tidak merasakan ada orang yang memperhatikannya.
Tiba-tiba suara seseorang menegurku sambil menepuk pundakku.
" saudaraku..., tidak baik melihat wanita dengan pandangan lama seperti itu."
Aku menoleh dan membalikkan tubuhku. Didepanku berdiri laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dariku. Dia adalah imam sholat isya tadi. Aku mencoba tersenyum, menghilangkan rasa kaget tadi.
"ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng dan tersenyum. Tidak berani menyakan siapa wanita tadi. Aku pun diajak berbincang sambil dudk di teras masjid. Setelah itu bapak yang baik hati ini mengajakku pulang ke rumahnya. Aku dipersilahkan menginap. Sebelum tidur kami sempat mengobrol, dan akhirnya aku mengaku jujur padanya. Kuceritakan tujuan perjalanan ini. ternyata wanita tadi memang benar anisa adanya. Dia tinggal bersama anak dan suaminya, tak jauh dari rumah pak ustadz muda ini. Aku di nasehati agar mengubur rasa cintaku kepadanya dan di minta agar besok segera pulang, meninggalkan tempat ini.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku terbangun dari tidurku yang tidak bisa pulas. Aku beranjak bangun menuju kamar mandi yang berad di sudut kamar. Aku ingin menunaikan ibadah sunnah seperti biasa. Selesai mengerjakan sholat malam, dengan menahan air mata yang mulai terasa memadati kelopak mata, aku berdoa untuk anisa dan keluarga kecilnya. Suaraku menjadi serak dan sesekali ada tarikan nafas.
"Ya Allah, berikan kebahagiaan untuk anisa dan keluarganya, ...jauhkan dia dan keluarganya dari fitnah dan musibah, ...dan jadikan aku ikhlas pada setiap kehendakMU, ...Ampuni juga hamba yang selama ini telah dhzolim pada diri hamba sendiri..." Kemudian kusebut asmaNya berulang kali sampai jiwaku merasa tenang kembali .
Di sebelah kamar yang ku tempati ternyata pak ustadz muda juga sedang menunaikan ibadah sepertiga malam, dan dia mendengar semua rintihan doa-doaku. Aku tidak tahu jika dia ikut mengamini setiap doa yang ku panjatkan.
Selepas sholat subuh berjamaah di masjid, aku memohon diri, pamit pada ustadz muda yang baik hati itu. Sebelumnya pak ustadz muda itu meminta alamatku entah untuk apa.
************
Setahun setelah kepergianku ke kota anisa dan menemukannya, aku masih belum juga di karunia pendamping hidup. Aku mulai malas untuk mencari, waktuku kuhabiskan dengan bekerja segiat-giatnya membangun usaha di bidang pertanian. Aku merasakan kebahagiaan meski setiap malam menjelang tidur tak bisa ku pungkiri bahawa aku membutuhkan seorang istri untuk melengkapi kebahagiaan hidupku.
sore itu sepulang dari perkebunan, aku duduk di teras melepas lelah. Ibuku menghampiri, di tangannya ada sepucuk surat yang di sodorkan kepadaku.
"ada surat dari pak pos tadi siang, ibu gak kenal pengirimnya. ini..." aku menerima surat yang di berikan ibu. tertulis pengirimnya nama seorang laki-laki.
kepada saudaraku
semoga senantiasa engkau dalam keadaan hati dan jiwa yang berbahagia selalu. Aku akan mengabarkan kepadamu sebuah berita. Entah ini menjadi berita bahagia untukmu atau bukan, tapi hatiku mendorong tanganku untuk menulis dan memberitahukannya kepadamu.
Aku tak perlu bercerita banyak, karena ku yakin engkau tahu asal dan alasan dari cerita yang ingin ku sampaikan. Empat bulan lalu anita bercerai. Kita tidak tahu keinginan dan kehendak serta takdir Allah, kabar ini aku sampaikan kepadamu dengan tujuan jika engkau memang belum menemukan belahan jiwa, pendamping hidupmu, segeralah engkau datang kemari.
semoga Allah mengampuni kita dan selalu menunjukkan pilihan terbaik untuk hidup kita.
ku tutup surat itu. Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau bersedih.
"bu... sepertinya, jodohku segera datang..., tapi aku mohon ibu bersedia menerima keadaan mantu ibu itu dengan kedua tangan terbuka"
ibuku tersenyum. Dia malah balik bertanya, "kapan kau akan membawanya ke hadapan ibu? oh ya nak, ibu sudah tahu wanitamu. ketika engkau pergi, ibu membaca diarymu. Maafkan ibu ya..., ibu mernyayangi kamu. Ibu tunggu calon mantu ibu dengan kedua tangan akan ibu peluk dia seperti ibu memelukmu..." ibu tersenyum dan masuk kedalam rumah. Tinggal aku yang bengong. Bahagia dan tak percaya.
Selasa, 26 Mei 2009
mujarad
Jejeran pohon kelapa itu tampak rapi berbaris. Ujung-ujung pelepah dan daunnya bergoyang halus di elus angin pagi yang sejuk. Anisa duduk di serambi rumah orang tuanya. Matanya memandang lepas melewati pucuk-pucuk tertinggi daun pohon kelapa. Menatap lepas ke langit yang berwarna biru pucat dengan gumpalan-gumpalan kecil awan. Hari begitu cerah, secerah harapan yang terpatri dalam otaknya. Anisa tersenyum penuh arti.
Tadi pagi selepas sarapan bersama suami dan buah hatinya yang masih kecil, anisa telah membulatkan tekad untuk merantau ke negri yang belum pernah ada dalam bayangan pikiran sebelumnya. Negri yang kini menjadi primadona untuk merubah nasib seperti yang telah di buktikan beberapa sahabatnya.
Anisa, wanita dengan wajah yang oriental dengan mata sayu dan agak sipit, mirip wajah cantik melankolis penyanyi asal china. Anisa kecil adalah seorang anak yang tidak begitu mengenal dunia luar. Waktunya dihabiskan untuk membantu orang tuanya dan mengurusi adik-adiknya. Meski begitu anisa kecil adalah anak yang periang, pandai bergaul dan pintar.
.*****
Anisa baru saja selesai menunaikan ibadah di sepertiga akhir malam. Matanya yang sayu sebenarnya telah lelah tapi kebersihan hatinya menggerakkan tubuh yang letih itu untuk bangun di setiap akhir malam, beribadah dan mendoakan mereka, orang-orang yang datang dalam takdir kehidupannya. Dengan luwes di rapikannya mukenah dan sajadah kemudian di letakkan disisi pembaringannya.
Di rebahkannya tubuh yang akhir-akhir ini sedikit kurus karena terlalu dipaksakan untuk berpikir dan bekerja. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang gelap, segelap bayangan masa depannya sekarang. Suaminya telah berkali-kali merusak janji dan kepercayaannya. melupakan apa yang dulu pernah di ucapkan ketika dirinya akan berangkat ke negri ini. Saling menjaga dan menyayangi di kala dekat maupun jauh. Begitulah kalimat yang dulu dia dan suaminya ucapkan sesaat sebelum perjalanan panjang mengantarkan anisa ke negri ini. Bukankah apa yang sekarang di lakukannya adalah untuk kebahagiaaan dan masa depan keluarga kecilnya?
Terlalu sakit setiap kali mengingat pengkhianatan ini, belum lagi kondisi orang tua dan adik-adiknya yang tak akur dan selalu saling menyalahkan membuatnya semakin tertekan. Anisa menarik napas, matanya masih memandang kosong dalam gelap seolah menghitung atau mencari sesuatu. Mungkin sebuah jawaban. Tiba-tiba dari sudut-sudut matanya berjatuhan buliran-buliran bening dan dingin, merembes membasahi bantal. Anisa tertidur dalam keadaan menangis.
Hari hari dirantau di lewatinya dengan bekerja dalam kesedihan, hingga seorang laki-laki berpenampilan meyakinkan menawarkan cinta kepadanya. Anisa yang sedang goyah jiwanya hanyut dalam buaian cinta yang telah lama di rindukan. Tutur kata yang memikat dan sosoknya yang di pandang berwibawa dari lelaki itu membuatnya terlena. Di berikannya cinta dan kasih sayang yang telah lama mengendap. Hari-harinya kini kembali bersemi, sajak-sajak romantis lahir dari bibirnya yang mungil.
telah datang padaku
wajah rupawan dengan gaya jalan seorang pangeran
ku tak mampu lagi bersembunyi sendiri
ketika ia menawarkan kepadaku kedamaian
aku larut dalam asmara yang memabukkan itu
di hapuskannya luka-luka di hatiku
tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi
dia, sang pahlawanku
memberi luka baru
lebih sakit dari masa laluku
Lelaki yang di pujanya mengkhianatinya dengan cara yang hampir sama dengan perbuatan suaminya dulu. Anisa merasakan dunia begitu kejam pada dirinya. Sebenarnya Sang maha pemberi musibah begitu menyayanginya, hingga tidak di biarkan anisa tertipu kebahagiaan semu. Anisa mulai menyadari kesalahannya.
Hari-hari penuh kesibukan kembali menemani waktunya, mengajaknya berlari. Dengan terseok-seok anisa mengikuti kemauan sang waktu. Dia tidak ingin berhenti di sini. Sebuah senjata kini di milikinya, senjata yang di letakkan dalam hati. Senjata yang tercipta dari rentetan ujian dan gelombang kedukaan. Kesabaran.
Terbuka kembali mata hatinya dan di mulai lagi perjuangan meretas mimpi yang sempat terabaikan itu. Sekali lagi sang Maha pemberi ujian membuktikan kasihnya. Di berikan pada anisa sebuah keindahan baru. Seorang laki-laki datang memperkenalkan diri. Mengaku tulus mencintainya. Siap mengorbankan jiwa demi kebahagiaannya. Sekali lagi anisa menemukan cinta. Kali ini cinta itu lain dari cinta yang pernah di kenalnya. Anisa terpikat pada laki-laki yang dengan cara yang tidak biasa ini menawarkan ketenangan seperti yang dia idamkan. Sajak dan puisi indah kembali mewarnai hari-hari dalam hidupnya.
seorang laki-laki mengundangku ke taman
taman tempat para dewa dewi merangkai warna pelangi
aku penuhi undangannya
dengannya ku rajut kembali asa-asa yang terserak
sampai nurani berbisik mengajakku pulang
ku tulis di batu taman
untuk yang telah rela mencuri angin surga
aku begitu terbuai dalam keteduhan kelembutanmu
aku ingin berlama-lama di sini
tapi aku harus kembali pulang
aku belum layak ada di tempat ini
Laki-laki yang mengaku menyayangi anisa itu hanya bisa berdiri mematung. Membiarkan anisa berlalu. Dia ingin mengajak anisa ikut bersamanya, tapi dia juga tak berani menentang hukum sang Khalik. Sebuah sajak singkat keluar di sela redam tangisnya.
hai perempuan yang berkerudung senja
bilamana waktu mempertemukan kita kembali
meski hari begitu malam
aku tetap mengenalmu
karna aku selalu melihat mu
dengan mata hatiku
aku tetap mengenalimu
Anisa membalikkan tubuhnya, dia tersenyum. Dia membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan laki-laki yang masih tegak menatapnya.
*********
Musim semi kembali datang. Anisa menghirup udara pagi itu dengan kelegaan. Kini dia mengerti jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri. Angin yang menggerakkan daun atau daun yang melahirkan angin, tak lagi di pedulikannya. Biarlah semua menentukan pilihan dan bertanggung jawab pada pilihannya. Seperti yang sedang di lakukannya, Sekarang.
Tadi pagi selepas sarapan bersama suami dan buah hatinya yang masih kecil, anisa telah membulatkan tekad untuk merantau ke negri yang belum pernah ada dalam bayangan pikiran sebelumnya. Negri yang kini menjadi primadona untuk merubah nasib seperti yang telah di buktikan beberapa sahabatnya.
Anisa, wanita dengan wajah yang oriental dengan mata sayu dan agak sipit, mirip wajah cantik melankolis penyanyi asal china. Anisa kecil adalah seorang anak yang tidak begitu mengenal dunia luar. Waktunya dihabiskan untuk membantu orang tuanya dan mengurusi adik-adiknya. Meski begitu anisa kecil adalah anak yang periang, pandai bergaul dan pintar.
.*****
Anisa baru saja selesai menunaikan ibadah di sepertiga akhir malam. Matanya yang sayu sebenarnya telah lelah tapi kebersihan hatinya menggerakkan tubuh yang letih itu untuk bangun di setiap akhir malam, beribadah dan mendoakan mereka, orang-orang yang datang dalam takdir kehidupannya. Dengan luwes di rapikannya mukenah dan sajadah kemudian di letakkan disisi pembaringannya.
Di rebahkannya tubuh yang akhir-akhir ini sedikit kurus karena terlalu dipaksakan untuk berpikir dan bekerja. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang gelap, segelap bayangan masa depannya sekarang. Suaminya telah berkali-kali merusak janji dan kepercayaannya. melupakan apa yang dulu pernah di ucapkan ketika dirinya akan berangkat ke negri ini. Saling menjaga dan menyayangi di kala dekat maupun jauh. Begitulah kalimat yang dulu dia dan suaminya ucapkan sesaat sebelum perjalanan panjang mengantarkan anisa ke negri ini. Bukankah apa yang sekarang di lakukannya adalah untuk kebahagiaaan dan masa depan keluarga kecilnya?
Terlalu sakit setiap kali mengingat pengkhianatan ini, belum lagi kondisi orang tua dan adik-adiknya yang tak akur dan selalu saling menyalahkan membuatnya semakin tertekan. Anisa menarik napas, matanya masih memandang kosong dalam gelap seolah menghitung atau mencari sesuatu. Mungkin sebuah jawaban. Tiba-tiba dari sudut-sudut matanya berjatuhan buliran-buliran bening dan dingin, merembes membasahi bantal. Anisa tertidur dalam keadaan menangis.
Hari hari dirantau di lewatinya dengan bekerja dalam kesedihan, hingga seorang laki-laki berpenampilan meyakinkan menawarkan cinta kepadanya. Anisa yang sedang goyah jiwanya hanyut dalam buaian cinta yang telah lama di rindukan. Tutur kata yang memikat dan sosoknya yang di pandang berwibawa dari lelaki itu membuatnya terlena. Di berikannya cinta dan kasih sayang yang telah lama mengendap. Hari-harinya kini kembali bersemi, sajak-sajak romantis lahir dari bibirnya yang mungil.
telah datang padaku
wajah rupawan dengan gaya jalan seorang pangeran
ku tak mampu lagi bersembunyi sendiri
ketika ia menawarkan kepadaku kedamaian
aku larut dalam asmara yang memabukkan itu
di hapuskannya luka-luka di hatiku
tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi
dia, sang pahlawanku
memberi luka baru
lebih sakit dari masa laluku
Lelaki yang di pujanya mengkhianatinya dengan cara yang hampir sama dengan perbuatan suaminya dulu. Anisa merasakan dunia begitu kejam pada dirinya. Sebenarnya Sang maha pemberi musibah begitu menyayanginya, hingga tidak di biarkan anisa tertipu kebahagiaan semu. Anisa mulai menyadari kesalahannya.
Hari-hari penuh kesibukan kembali menemani waktunya, mengajaknya berlari. Dengan terseok-seok anisa mengikuti kemauan sang waktu. Dia tidak ingin berhenti di sini. Sebuah senjata kini di milikinya, senjata yang di letakkan dalam hati. Senjata yang tercipta dari rentetan ujian dan gelombang kedukaan. Kesabaran.
Terbuka kembali mata hatinya dan di mulai lagi perjuangan meretas mimpi yang sempat terabaikan itu. Sekali lagi sang Maha pemberi ujian membuktikan kasihnya. Di berikan pada anisa sebuah keindahan baru. Seorang laki-laki datang memperkenalkan diri. Mengaku tulus mencintainya. Siap mengorbankan jiwa demi kebahagiaannya. Sekali lagi anisa menemukan cinta. Kali ini cinta itu lain dari cinta yang pernah di kenalnya. Anisa terpikat pada laki-laki yang dengan cara yang tidak biasa ini menawarkan ketenangan seperti yang dia idamkan. Sajak dan puisi indah kembali mewarnai hari-hari dalam hidupnya.
seorang laki-laki mengundangku ke taman
taman tempat para dewa dewi merangkai warna pelangi
aku penuhi undangannya
dengannya ku rajut kembali asa-asa yang terserak
sampai nurani berbisik mengajakku pulang
ku tulis di batu taman
untuk yang telah rela mencuri angin surga
aku begitu terbuai dalam keteduhan kelembutanmu
aku ingin berlama-lama di sini
tapi aku harus kembali pulang
aku belum layak ada di tempat ini
Laki-laki yang mengaku menyayangi anisa itu hanya bisa berdiri mematung. Membiarkan anisa berlalu. Dia ingin mengajak anisa ikut bersamanya, tapi dia juga tak berani menentang hukum sang Khalik. Sebuah sajak singkat keluar di sela redam tangisnya.
hai perempuan yang berkerudung senja
bilamana waktu mempertemukan kita kembali
meski hari begitu malam
aku tetap mengenalmu
karna aku selalu melihat mu
dengan mata hatiku
aku tetap mengenalimu
Anisa membalikkan tubuhnya, dia tersenyum. Dia membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan laki-laki yang masih tegak menatapnya.
*********
Musim semi kembali datang. Anisa menghirup udara pagi itu dengan kelegaan. Kini dia mengerti jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri. Angin yang menggerakkan daun atau daun yang melahirkan angin, tak lagi di pedulikannya. Biarlah semua menentukan pilihan dan bertanggung jawab pada pilihannya. Seperti yang sedang di lakukannya, Sekarang.
Minggu, 24 Mei 2009
abstrak
Tidak ada tetangga yang tidak iri melihat kerukunan keluarga muda ini. Yang laki-laki dikenal pintar dalam bisnis dan cukup taat menjalan agama sementara yang istrinya pun demikian. Mereka berdua dikenal sebagai pribadi yang supel, ramah, dan menyenangkan. Syam dan dyah nama pasangan ini. Apalagi dengan kehadiran putri kecilnya membuat kebahagiaan keluarga ini semakin lengkap. Seolah-olah seluruh kenikamatan dunia tercurah kepada mereka. Dan disinilah sebenarnya ujian datang menghampiri mereka dari arah yang tidak disadari sama sekali.
Bermula dari perjalanan bisnis syam ke jakarta atas undangan rekannya untuk ikut berinvestasi dalam suatu usaha baru. Setelah selama seminggu melakukan survei dan analisa serta mempelajari hal-hal yang lainnya, siang itu syam berniat pulang menggunakan kereta Api. Sambil menunggu kedatangan kereta yang akan ia tumpangi menuju kotanya, mata syam menatap seorang wanita seumuran usia istrinya duduk agak jauh dari dirinya. Wajahnya lebih cantik dari istrinya, tapi bukan itu yang membuat mata syam mengawasi wanita itu. Tepat di belakang wanita itu duduk pula tiga orang pemuda yang dari gerak geriknya mencurigakan. Tatapan mereka ke arah wanita itu seperti mata pemburu mengincar binatang buruannya. Sebenarnya wanita itupun menyadari gelagat yang tidak enak ini, maka ketika dia menatap ke arah syam dia merasa ada seorang laki-laki yang melindunginya. Perlahan dia bangkit dan berjalan menuju syam dan kemudian duduk bersebelahan.
Dari tatapan mata yang simpati dan senyum ramah akhirnya terlihat keduanya berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan tapi keduanya terlihat menikmatinya. Apalagi syam di kenal sebagai sosok yang pandai dalam bergaul, wawasannya luas disamping itu dia juga pintar bercanda.
Kini keduanya sudah berada dalam satu kereta. Perjalan tidak terasa melelahkan karena keduanya asyik dan larut dalam pembicaraan. sesekali keduanya tertawa. Bahkan makin lama keduanya terlihat lebih akrab dan tidak lagi merasa sungkan.
"mas aku turun disini. salam buat istrinya. Jaga baik-baik suami gantengnya...ini kartu nama saya, siapa tahu ada waktu untuk bertemu kembali" demikian ucapan wanita itu ketika kereta berhenti di sebuah stasiun kota. Syam hanya tersenyum dan menerima kartu itu. Setelah kereta kembali melaju syam teringat pada penggalan ucapan wanita itu. "jaga suami gantengnya...", hmm... wanita secantik dia memberi pujian yang terlalu berlebihan kepadaku, " gumam syam sambil senyum-senyum sendiri tapi tetap saja hatinya senang. Dipuji seorang wanita yang di matanya sangat sempurna tentu saja membuat jiwa laki-lakinya merasa melayang.
******
Tiga bulan setelah perkenalan, syam kebetulan melakukan perjalanan bisnis ke kota wanita itu. Setelah menyelesaikan urusan bisnis, dari kamar hotelnya syam menyempatkan diri menghubungi wanita itu. terjadi tegur sapa dan basa basi sejenak kemudian keduanya berjanji bertemu di lobi hotel. Akhirnya pertemuan kedua itu terjadi. seperti sebelumnya kali ini pun keduanya terlihat gembira, terlihat dari tatapan mata dan bahasa tubuh mereka. Meski tidak di rencanakan dan hanya bermaksud menjalin persahabatan tapi akhirnya syam dan wanita itu larut dalam obrolan-obrolan yang semakin lama semakin lepas dan terbuka.
Malam semakin larut, dari obrolan yang melenakan hati, kini hasrat menguasai jiwa, ketertarikan dan kebutuhan menjelma menjadi rasa yang harus terpenuhi. senyum dan tawa itu akhirnya berakhir di kamar hotel. Tidak ada yang merasa memulai semuanya hanyut mengikuti kata dan bisikan yang entah kapan merasuknya.
********
Hampir satu tahun hubungan syam dan wanita itu, dari syam yang dulu giat shalat dan ibadah menjadi syam yang banyak melalaikannya. Jiwanya terbagi, terombang ambing antara rasa bersalah pada istrinya dan rasa sayang yang muali tumbuh pada wanita itu.
Suatu ketika saat syam bersama wanita itu, terdengar bunyi handphone dari sakunya. ada kabar dari istrinya, terpeleset dan jatuh dari tangga ketika hendak naik kelantai atas untuk solat di kamarnya. Dyah mengalami patah tulang. Bergegas syam pulang setelah mendengar kabar itu.
Akibat jatuh itu dyah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kini syam lebih banyak menemani istrinya di banding waktu-waktu sebelumnya tapi hubungannya dengan wanita itu masih berlanjut. Terasa berat untuk melepas wanita yang menyempurnakan semua yang tidak dia dapatkan selama ini.
hati memang selalu berubah-ubah kemauannya, tapi hati tetap memberi kesempatan untuk seseorang mengenali kembali dirinya. Begitu juga yang terjadi dengan syam. suatu malam istrinya berkata
"mas... ada yang mau aku katakan..." demikian ucapan istrinya membuka obrolan di tengah malam saat syam hendak merebahkan diri berbaring disisi dyah, istrinya.
"ada apa dik?"
"hmmm... maaf sebelumnya mas, akuu..., ...adakah aku bersalah pada mas? aku merasakan sesuatu terjadi dalam diri mas.... sewaktu dulu jatuh dari tangga... saat itu aku... pikiranku merasa tidak enak, ..entah ada apa...." dyah berkata dengan terbata-bata takut ucapannya salah dan menyinggung hati suaminya, tapi disitulah jiwa syam tersentuh dan tergetar.
Syam memandang wajah istrinya... mulutnya tak mampu mengatakan apa-apa. haruskah dia ceritakan semua kesalahannya selama setahun ini, kenapa bukan dia yang kena hukum dari perbuatan nya, kenapa istrinya yang begitu baik mengalami musibah karena memikirkan kesalahan yang tidak pernah di lakukan kepadanya....
Syam pingsan.
Bermula dari perjalanan bisnis syam ke jakarta atas undangan rekannya untuk ikut berinvestasi dalam suatu usaha baru. Setelah selama seminggu melakukan survei dan analisa serta mempelajari hal-hal yang lainnya, siang itu syam berniat pulang menggunakan kereta Api. Sambil menunggu kedatangan kereta yang akan ia tumpangi menuju kotanya, mata syam menatap seorang wanita seumuran usia istrinya duduk agak jauh dari dirinya. Wajahnya lebih cantik dari istrinya, tapi bukan itu yang membuat mata syam mengawasi wanita itu. Tepat di belakang wanita itu duduk pula tiga orang pemuda yang dari gerak geriknya mencurigakan. Tatapan mereka ke arah wanita itu seperti mata pemburu mengincar binatang buruannya. Sebenarnya wanita itupun menyadari gelagat yang tidak enak ini, maka ketika dia menatap ke arah syam dia merasa ada seorang laki-laki yang melindunginya. Perlahan dia bangkit dan berjalan menuju syam dan kemudian duduk bersebelahan.
Dari tatapan mata yang simpati dan senyum ramah akhirnya terlihat keduanya berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan tapi keduanya terlihat menikmatinya. Apalagi syam di kenal sebagai sosok yang pandai dalam bergaul, wawasannya luas disamping itu dia juga pintar bercanda.
Kini keduanya sudah berada dalam satu kereta. Perjalan tidak terasa melelahkan karena keduanya asyik dan larut dalam pembicaraan. sesekali keduanya tertawa. Bahkan makin lama keduanya terlihat lebih akrab dan tidak lagi merasa sungkan.
"mas aku turun disini. salam buat istrinya. Jaga baik-baik suami gantengnya...ini kartu nama saya, siapa tahu ada waktu untuk bertemu kembali" demikian ucapan wanita itu ketika kereta berhenti di sebuah stasiun kota. Syam hanya tersenyum dan menerima kartu itu. Setelah kereta kembali melaju syam teringat pada penggalan ucapan wanita itu. "jaga suami gantengnya...", hmm... wanita secantik dia memberi pujian yang terlalu berlebihan kepadaku, " gumam syam sambil senyum-senyum sendiri tapi tetap saja hatinya senang. Dipuji seorang wanita yang di matanya sangat sempurna tentu saja membuat jiwa laki-lakinya merasa melayang.
******
Tiga bulan setelah perkenalan, syam kebetulan melakukan perjalanan bisnis ke kota wanita itu. Setelah menyelesaikan urusan bisnis, dari kamar hotelnya syam menyempatkan diri menghubungi wanita itu. terjadi tegur sapa dan basa basi sejenak kemudian keduanya berjanji bertemu di lobi hotel. Akhirnya pertemuan kedua itu terjadi. seperti sebelumnya kali ini pun keduanya terlihat gembira, terlihat dari tatapan mata dan bahasa tubuh mereka. Meski tidak di rencanakan dan hanya bermaksud menjalin persahabatan tapi akhirnya syam dan wanita itu larut dalam obrolan-obrolan yang semakin lama semakin lepas dan terbuka.
Malam semakin larut, dari obrolan yang melenakan hati, kini hasrat menguasai jiwa, ketertarikan dan kebutuhan menjelma menjadi rasa yang harus terpenuhi. senyum dan tawa itu akhirnya berakhir di kamar hotel. Tidak ada yang merasa memulai semuanya hanyut mengikuti kata dan bisikan yang entah kapan merasuknya.
********
Hampir satu tahun hubungan syam dan wanita itu, dari syam yang dulu giat shalat dan ibadah menjadi syam yang banyak melalaikannya. Jiwanya terbagi, terombang ambing antara rasa bersalah pada istrinya dan rasa sayang yang muali tumbuh pada wanita itu.
Suatu ketika saat syam bersama wanita itu, terdengar bunyi handphone dari sakunya. ada kabar dari istrinya, terpeleset dan jatuh dari tangga ketika hendak naik kelantai atas untuk solat di kamarnya. Dyah mengalami patah tulang. Bergegas syam pulang setelah mendengar kabar itu.
Akibat jatuh itu dyah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kini syam lebih banyak menemani istrinya di banding waktu-waktu sebelumnya tapi hubungannya dengan wanita itu masih berlanjut. Terasa berat untuk melepas wanita yang menyempurnakan semua yang tidak dia dapatkan selama ini.
hati memang selalu berubah-ubah kemauannya, tapi hati tetap memberi kesempatan untuk seseorang mengenali kembali dirinya. Begitu juga yang terjadi dengan syam. suatu malam istrinya berkata
"mas... ada yang mau aku katakan..." demikian ucapan istrinya membuka obrolan di tengah malam saat syam hendak merebahkan diri berbaring disisi dyah, istrinya.
"ada apa dik?"
"hmmm... maaf sebelumnya mas, akuu..., ...adakah aku bersalah pada mas? aku merasakan sesuatu terjadi dalam diri mas.... sewaktu dulu jatuh dari tangga... saat itu aku... pikiranku merasa tidak enak, ..entah ada apa...." dyah berkata dengan terbata-bata takut ucapannya salah dan menyinggung hati suaminya, tapi disitulah jiwa syam tersentuh dan tergetar.
Syam memandang wajah istrinya... mulutnya tak mampu mengatakan apa-apa. haruskah dia ceritakan semua kesalahannya selama setahun ini, kenapa bukan dia yang kena hukum dari perbuatan nya, kenapa istrinya yang begitu baik mengalami musibah karena memikirkan kesalahan yang tidak pernah di lakukan kepadanya....
Syam pingsan.
Kamis, 14 Mei 2009
siluet
Dua bocah perempuan kakak beradik itu setiap sore hingga selepas maghrib menjajakan surabi buatan ibunya.
"jajan..jajaan..., ..surabi kang.., teteh..." begitu selalu kudengar teriakan mereka yang menjelang maghrib sampai di depan rumahku. Keluargaku adalah penggemar jajanan ini, dan hampir setiap hari membelinya. Sayangnya hari ini seluruh anggota rumah sedang pergi menjenguk paman yang sakit kecuali aku yang bertugas sebagai 'penjaga gawang'.
Aku buka pintu depan, kulihat mereka duduk di kursi panjang di sebrang rumahku sambil menatap ke arahku seolah berkata... "kak...beli jajanan kami.."
Aku mencoba tersenyum memahami keinginan mereka. Kulambaikan tanganku, memberi tanda agar mereka mendatangiku, dan dengan cepat mereka pun menggotong jajanan mereka yang di taruh di sebuah nampan cukup besar untuk ukuran tangan-tangan mungil ini.
"wah... ko' masih banyak ra? hari ini sepi ya?" sekilas kulihat nampan yang masih penuh surabi itu, dan aku semakin merasa trenyuh menatap wajah-wajah polos di depanku ini.
"Hari ini orang rumah lagi pada pergi... kakak juga masih kenyang... ini ada sedikit duit buat jajannya tiara sama rani.." aku berikan dua lembar uang kertas buat mereka. Kulihat ada sedikit kegembiraan pada wajah mereka.
"makasih kak..." sambut mereka, menerima uluran tanganku.
"rani dan rara dah maem? atau mo minum dulu...?" aku bertanya sambil berjongkok di depan mereka.
"..udah maem kak... tapi..., rani yang menjawab pertanyaanku menatap ke tiara.
"tapi apa.." tanyaku heran.
"tapi haus..." jawab keduanya kompak. Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban jujur keduanya.
"bentar ya..., kakak ambil dulu" aku kemudian masuk mengambil air minum untuk duanya. Kulihat ada buah-buahan dalam piring besar diatas meja, mungkin ibu menyisakan oleh-oleh untuk menjenguk paman. Aku ambil saja untuk mereka pikirku.
"ini airnya..., ini ada buah juga buat jajan kalian di jalan..." kuberikan pada mereka buah-buahan yang sudah kumasukan dalam kresek.
"makasih kak..., rara pamit mo jualan lagi..."rara kemudian mengangat nampan dan meletakkannya di atas kepala, sementara rani yang lebih kecil menjinjing rantang untuk surabi serta kresek yang tadi kuberikan. Sekali lagi mereka menatapku sebelum berbalik dan berjalan menyusuri jalan kampung yang agak becek akibat hujan tadi pagi.
Ku iringi langkah mereka dengan senyum haru. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari kedua anak kecil tadi, inilah potret kampungku, dimana ekonomi terasa menghimpit. Menggantungkan hidup sebagai buruh tani, tukang becak, dan sedikit mengadu keberuntungan di judi kecil-kecilan adalah gambaran sebagian besar orang-orang dikampungku. Seperti tiara dan rani, keduanya terpaksa membantu mengatasi masalah ekonomi keluarganya. Ibunya tukang cuci pakaian para tetangga yang kebetulan masih mau menggunakan tenaganya, sementara bapaknya seorang makelar untuk jasa apa saja, yang kemudian menjadi pengangguran karena sepinya order.
DAn aku...
Setelah kedua perempuan kecil tadi berlalu dan menghilang di tikungan jalan, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Tenggelam dalam bacaan-bacaan, untuk menghindari mengingat bahwa aku juga bagian dari warga yang terpuruk oleh kerasnya hidup, masih berjuang melawannya, cinta yang kandas karena masalah materi dan kerinduan pada sahabat-sahabatku yang di kejar polisi malaysia karena menjadi TKI ilegal.
"...ya Allah..., aku masih yakin...Engkau akan selalu mencurahkan karuniaMu di dunia dan akhirat untuk hamba-hambaMU yang berjalan di jalanMU..."
"jajan..jajaan..., ..surabi kang.., teteh..." begitu selalu kudengar teriakan mereka yang menjelang maghrib sampai di depan rumahku. Keluargaku adalah penggemar jajanan ini, dan hampir setiap hari membelinya. Sayangnya hari ini seluruh anggota rumah sedang pergi menjenguk paman yang sakit kecuali aku yang bertugas sebagai 'penjaga gawang'.
Aku buka pintu depan, kulihat mereka duduk di kursi panjang di sebrang rumahku sambil menatap ke arahku seolah berkata... "kak...beli jajanan kami.."
Aku mencoba tersenyum memahami keinginan mereka. Kulambaikan tanganku, memberi tanda agar mereka mendatangiku, dan dengan cepat mereka pun menggotong jajanan mereka yang di taruh di sebuah nampan cukup besar untuk ukuran tangan-tangan mungil ini.
"wah... ko' masih banyak ra? hari ini sepi ya?" sekilas kulihat nampan yang masih penuh surabi itu, dan aku semakin merasa trenyuh menatap wajah-wajah polos di depanku ini.
"Hari ini orang rumah lagi pada pergi... kakak juga masih kenyang... ini ada sedikit duit buat jajannya tiara sama rani.." aku berikan dua lembar uang kertas buat mereka. Kulihat ada sedikit kegembiraan pada wajah mereka.
"makasih kak..." sambut mereka, menerima uluran tanganku.
"rani dan rara dah maem? atau mo minum dulu...?" aku bertanya sambil berjongkok di depan mereka.
"..udah maem kak... tapi..., rani yang menjawab pertanyaanku menatap ke tiara.
"tapi apa.." tanyaku heran.
"tapi haus..." jawab keduanya kompak. Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban jujur keduanya.
"bentar ya..., kakak ambil dulu" aku kemudian masuk mengambil air minum untuk duanya. Kulihat ada buah-buahan dalam piring besar diatas meja, mungkin ibu menyisakan oleh-oleh untuk menjenguk paman. Aku ambil saja untuk mereka pikirku.
"ini airnya..., ini ada buah juga buat jajan kalian di jalan..." kuberikan pada mereka buah-buahan yang sudah kumasukan dalam kresek.
"makasih kak..., rara pamit mo jualan lagi..."rara kemudian mengangat nampan dan meletakkannya di atas kepala, sementara rani yang lebih kecil menjinjing rantang untuk surabi serta kresek yang tadi kuberikan. Sekali lagi mereka menatapku sebelum berbalik dan berjalan menyusuri jalan kampung yang agak becek akibat hujan tadi pagi.
Ku iringi langkah mereka dengan senyum haru. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari kedua anak kecil tadi, inilah potret kampungku, dimana ekonomi terasa menghimpit. Menggantungkan hidup sebagai buruh tani, tukang becak, dan sedikit mengadu keberuntungan di judi kecil-kecilan adalah gambaran sebagian besar orang-orang dikampungku. Seperti tiara dan rani, keduanya terpaksa membantu mengatasi masalah ekonomi keluarganya. Ibunya tukang cuci pakaian para tetangga yang kebetulan masih mau menggunakan tenaganya, sementara bapaknya seorang makelar untuk jasa apa saja, yang kemudian menjadi pengangguran karena sepinya order.
DAn aku...
Setelah kedua perempuan kecil tadi berlalu dan menghilang di tikungan jalan, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Tenggelam dalam bacaan-bacaan, untuk menghindari mengingat bahwa aku juga bagian dari warga yang terpuruk oleh kerasnya hidup, masih berjuang melawannya, cinta yang kandas karena masalah materi dan kerinduan pada sahabat-sahabatku yang di kejar polisi malaysia karena menjadi TKI ilegal.
"...ya Allah..., aku masih yakin...Engkau akan selalu mencurahkan karuniaMu di dunia dan akhirat untuk hamba-hambaMU yang berjalan di jalanMU..."
Rabu, 13 Mei 2009
Di ambang penantian
Suasana di lereng gunung itu terasa mati setelah longsor besar terjadi tiga hari lalu. Tedas dan wahid alias gusgus masih berbincang menunggu kantuk. Sesekali mereka bergantian menambah kayu untuk perapian di depannya.
"apa yang akan kau kerjakan setelah ini? ...sudah sepuluh tahun kamu aktif dalam program kemanusiaan, ...seharusnya kamu juga mikir kepentingan diri sendiri.."
"hmm...,entahlah..., ga tahu lah gus. ...aku hanya ingin punya anak."
punya anak ya berarti punya istri dong! hmm... kau masih mengingatnya...?" Gusgus bertanya sambil memperhatikan roman muka Tedas yang sedikit berubah.
"ya...! ...awalnya setiap saat aku mengingatnya, kemudian setiap jam aku mengingatnya, selanjutnya aku mengingatnya tiga kali dalam setahun..., setiap kali mengingatnya dadaku seperti tergilas roda". Sambil tersenyum aku menatap langit yang temaram.
"tapi kau tidak mungkin memilikinya..."
"aku tahu..., makanya aku hanya ingin punya anak entah siapapun istriku nanti."
"itu artinya engkau tidak mencintai istrimu?
"hihihi.. aku tersenyum membuang rasa yang tiba-tiba datang. "aku akan memperlakukan istriku sebaik mungkin..., dia ibu dari anakku".
"tapi tetap saja itu penderitaan secara tidak langsung untuk istrimu?"
"...ah sudahlah gus..., kau tahu aku susah berubah untuk hal macam ini. jika aku bisa melupakannya tentu selama sepuluh tahun ini hidupku ga nyasar-nyasar kayak gini... tapi aku tetap bersyukur dengan keadaaanku. Dengan keadaan seperti ini aku bisa mengabdi pada orang-orang yang butuh bantuan.."
"sebagai sahabatmu aku hanya bisa mendoakan..., semoga gusti Allah mempertemukan kamu dengan dia, wanita istimewamu..., yuk tidur dah larut mlm nih."
Tedas menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya perlahan. tidak ada kata yang keluar dari mulutnya,dia diam, mungkin mengulang doa yg tadi diucapkan gusgus secara sepontan, sambil beringsut mematikan api di perapian. Sebelum masuk ke tenda induk, sekali lagi tedas menghela nafas...
*******
Sudah lebih dari seminggu kami menjadi sukarelawan yang tergabung dalam organisasi yang kudirikan sepuluh tahun lalu, sebulan setelah perempuan impianku menghilang. Dulu saat kudirikan organisasi ini keinginanku cuma satu melupakan segala kenangan tentang dia. Tiap kali ada panggilan kemanusiaan aku berharap aku mati dalam menjalankan tugas, biar bisa kutunggu dia di tempatku yang baru nanti. Tak ada yang tahu tentang hal ini, bahkan sampai hari ini termasuk sahabat terbaikku.
hei jo...." panggilan sahabatku menggugah kesadaranku dari menyelami masa lalu,teman-teman karib memanggilku dengan sebutan ijo, nama sandi sewaktu aktif di organisasi pecinta alam dulu.jika bukan karena obrolan semalam dengan si wahid alias gusgus, pagi ini pasti seperti juga pagi yang lainnya, sibuk dengan segala urusan rehabilitasi pasca bencana.
"pagi-pagi ko' udah ngelamun jo..., tahu ga disini dulunya daerah angker lho."
"halakh man.. man..., siapa yang melamun... aku lagi mikir program selanjutnya nih..., program yang lagi jalan rasanya lambat banget perubahannya". Aku mencoba menghilangkan bayangan masa laluku dengan menceritakan kurangnya keterlibatan pihak pemda dalam program ini.
"Oh ya... ada apa kamu manggil saya..? gimana perkembangan penggalian mayat yang masih tertimbun longsor?"
"itulah jo... penggalian terpaksa di hentikan karena kondisi medan yang penuh resiko. di khawatirkan ada longsor susulan jika kita menggunakan alat berat lagi, getaran mesin dan bobot alat-alat berat itu di takutkan bisa menjadi penyebab tanah diatasnya kembali longsor".
"terus..." aku mulai berpikir alernatif lain sembari mendengarkan penjelasan firman, penggalian seharusnya bisa selesai dua tiga hari ini kemudian seluruh tenaga sukarelawan bisa di kerahkan membantu membuat kembali sarana dan prasarana lain.
"kita menunggu keputusan ketua Bakornas sebagai penanggung jawab di lapangan, sebaiknya kamu ikut ke lokasi sekarang".
"hmm..., ..kita kesana sekarang!" aku langsung menjawab dan mengajak firman agar segera mengantarkan aku ketempat penggalian. Dalam situasi darurat seperti ini waktu benar-benar berharga, sayangnya pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang mengatasi ini terkadang seperti terlambat dalam meresponnya.
**********
Penggalian masih berlangsung ketika kami sampai, hanya alat-alat berat tidak digunakan dan masih berada di sekitar area penggalian. Dengan susah payah kami menuju ke atas tebing, mencoba melihat kebawah dan menghitung kemungkinan juga cara alternatif meneruskan penggalian.
Dari atas memang terlihat semuanya, bagaimana longsor telah menghancurkan pemukiman di lereng ini. Bahkan tanah yang kupijak terasa bergerak tanda bahaya masih benar-benar dekat dengan kawasan ini.
Saat masih mengawasi dari pinggir tebing entah karena tidak tahu atau memang ada penggalian yang memaksa di hidupkannya alat berat, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas ku dan aku tak sanggup menghindar dari amblas tanah yang kupijak dan runtuhan tanah juga pohon dari atasku...., ya Allah... seruku terbeliak dan tak mampu menghindari terjangan dan tarikan kebawah sekaligus.
*******
Setelah longsor susulan dirasa tidak terjadi lagi, teman-teman tedas bersama sukarelawan yang lain segera bertindak cepat melakukan penggalian. Firman dan wahid dibantu beberapa warga mulai menggali tempat dimana tedas jatuh dan tertimbun. Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh tedas ke permukaan. tubuh itu masih hangat, masih terasa denyut dan aliran darah meskipun sangat lemah. Ini adalah sebuah keajaiban. Tanpa dikomando, mereka bergegas menggotong dan membawa tedas kerumah sakit.
********
Awan terlihat tenang. Ada cahaya yang jauh untuk di jangkau. Tedas berusaha berlari menghampiri cahaya itu. Seorang perempuan melambaikan tangannya. Tedas semakin cepat berlari menuju perempuan yang diselimuti kabut dan cahaya. Samar-samar dia mengenali wajah perempuan yang masih jauh itu. Tedas hentikan larinya. Dia tertegun menatap nanar perempuan yang masih berada jauh dari hadapannya, tapi ingatannya bekerja, sosok perempuan yang dia lihat mirip dengan kekasihnya dulu. Perempuan yang selalu hadir dalam hatinya.
"...di ...a...kah....? ...s....r.....i........., sri...................,srii...."
**********
Hari kesepuluh tedas koma dirumah sakit. Beberapa bagian tubuhnya terbalut perban karena mengalami patah tulang. Diantara beberapa sahabat yang menungguinya, ada seorang wanita yang ikut hadir menemaninya. Dari wajahnya yang bersih terbesit kecemasan pada pasien di depannya. Tak henti-hentinya dia membisikkan kata-kata dengan mendekatkan wajahnya ke telinga tedas. Dan...
"...s.....r.....i..................."
bibir tedas yang kering bergetar mengucap sebuah nama, Setelah sepuluh hari diam seperti mati. Perlahan matanya terbuka...
Wanita yang berada disisi tedas tak kuasa membendung airmatanya, buliran-puliran bening jatuh mengalir di pipinya. Dia memeluk sosok lelaki di depannya hingga membuat seisi kamar itu terharu.
"sr..i..., sri..."
"...ssst..., sudah jangan bicara banyak dulu..." Wanita yang ada disisinya berkata dengan tatapan mata penuh kasih. Tedas hanya bisa menatap wajah didepannya dengan tatapan lemah, dia masih berada diantara alam bawah sadar dan kenyataan didepannya. Dokter yang dari tadi berdiri disisi yang bersebrangan dengan wanita itu kemudian mulai memeriksa kondisi tedas.
*****
Hari kelima setelah tedas sadar dari koma selama sepuluh hari, atau hari ke lima belas tedas berbaring menjadi pasien di rumah sakit.
Pagi ini dokter telah memeriksa kondisi tedas, dan mengizinkan tedas sedikit lebih bebas menggerakkan organ tubuhnya, juga membolehkan tedas berbincang setelah selama lima hari ini hanya boleh mengucap satu dua kata.
Mata tedas tak pernah lepas dari memperhatikan wanita yang duduk di dekatnya. Banyak pertanyaan muncul diotaknya. Bagaimana sri bisa tiba-tiba hadir disaat kondisi kritisnya setelah selama sepuluh tahun menghilang begitu saja. Terlalu banyak yang ada dalam pikirannya hingga tedas bingung harus mulai darimana dulu membuka obrolan dengan wanita yang entah sejak berapa hari ini menemani dan merawat dirinya.
Bukan hanya tedas yang bingung, sri pun menjadi sedikit grogi dsengan keadaan ini, meski selama beberapa hari ini dia sudah menyiapkan diri untuk bercerita bila tedas telah siap nanti, tapi tetap saja suasana di pagi ini terasa lain, apalagi ditatap oleh mata dari seorang laki-laki yang pernah di kecewakannya. Setelah mencoba bersikap santai, sri kemudian memulai berbicara dengan laki-laki yang terbaring di dekatnya ini.
"...gmn perasaannya saat ini mas?"
"Alhamdulillah baik..., baik sekali sri..."
"kamu dah sarapan sri?" tedas mencoba lebih mencairkan suasana
"udah tadi dengan sahabatmu, si wahid..."
"oh...,mmh...., ...sri..., ada yang ingin aku tanyakan.... tapi bingung...., kamu tahu kan apa yang ada dalam pikiranku...?", tedas akhirnya memberanikan diri bertanya pada wanita yang masih tampak cantik di usia yang tidak muda lagi ini.
"...ya... aku mengerti. Memang sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Tentang masa lalu kita..., juga bagaimana tiba-tiba aku bisa ada disini sekarang. Sri menatap sebentar kearah jendela di depannya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tedas yang terbaring dengan mata tetap memandang memperhatikan dirinya.
"...mas..., sebelumnya aku minta maaf padamu...., aku sudah membuatmu terluka selama sepuluh tahun ini... Dulu aku pergi tanpa mengatakan alasan apapun, Ketika hubungan kita sudah sangat serius..., ...mendadak orang tuaku menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya. Aku tak sanggup untuk menolaknya, aku tahu jika aku ceritakan ini padamu, engkau tak kan mau mengerti, aku tahu sifatmu... keras jika sudah punya keinginan, apalagi jika kamu merasa yakin dengan keinginanmu. Itu sebabnya aku pergi tanpa mengatakan apapun..., kebetulan orang tuaku pindah tempat dinas. Sebesar apapun cintaku padamu, aku tetap patuh dengan kemauan mereka. Sri menarik nafas pelan, kemudian meneruskan ceritanya...
"kemudian aku menikah dengan laki-laki pilihan bapak. ternyata dia seorang yang sangat baik. Akupun berusaha menjadi istri yang berbakti dan patuh kepadanya. kebaikannya meluluhkan hatiku..., sayangnya..., usia pernikahan kami hanya berumur 4tahun...disuatu pagi dia terkena serangan jantung...dan..kemudian dia pergi untuk selamanya. Dari pernikahan kami hadir seorang putri. Kini aku hidup dengan putriku. Hmmm... Sambil bercerita sri berulang kali menarik nafas dan sesekali menatap ke arah jendela.
Suatu siang kebetulan aku melihat berita di salah satu televisi swasta...., ada berita tentang longsor susulan yang juga mengakibatkan korban dari pihak sukarelawan..., ada kamu..., salah satu korbannya. Aku kaget... sekian lama tidak pernah mendengar berita kamu, tiba-tiba ada kabar seperti ini.
Aku kaget dan bingung... ada keinginan untuk membiarkan masa lalu tetap sebuah masa lalu, tapi aku ingat ucapan kamu dulu..., lakukan apa yang pertama kali ada dalam hatimu, jika kamu menemukan masalah yang membuat kamu ragu-ragu. Saat itu yang muncul pertama kali dalam pikiranku adalah aku harus ke tempat kamu. Maka hari itu juga aku berangkat..., dan...., kamu lihat sekarang aku ada di depanmu.
Sri tampak tegar menceritakan semuanya. Dia berusaha menempatkan dirinya secara wajar diantara masa lalu dan apa yang kini ada di depannya.
Tedas mendengarkan setiap kata yang terucap dari sri tanpa memotong ataupun bertanya.
Setelah sri selesai bercerita tedas menarik nafas beberapa kali. Hanya satu yang ada dalam pikirannya saat ini... apakah sri mau meneruskan hidupnya dengan dirinya.
"sri..., kamu tahu kan apa yang terjadi dengan diriku selama sepuluh tahun ini?"
"ya..., aku mendapat banyak cerita tentang kamu dari wahid saat kamu masih terbaring koma".
"sri..., kamu masih sayang aku kan?" tedas akhirnya bertanya apa yang mengganjal dalam pikirannya. "aku berterima kasih kamu mau merawat dan menemaniku selama aku di sini. apakah aku masih bisa menjadi bagian dari masa depanmu?"
Sri menundukkan kepalanya...
"sri... kalau kamu bersedia mendampingi hari-hari ku, aku tidak menjamin kamu bahagia. keadaanku saat ini kan hanya merepotkan saja ya...?"tedas tertawa kecil, dia berusaha menyembunyikan kecemasan dalam hatinya. Dia takut sri tidak mengabulkan keinginannya, dan itu artinya dia benar-benar harus mengubur impiannya selama ini.
"sri...kamu bisa kan menjawab pertanyaanku tadi?" Tedas benar-benar menginginkan jawaban dari sri. Masa depannya ada di jawaban sri saat ini.
"hhmmm..., mas... sebenarnya aku..., aku..., aku malas merawat orang sakit..., tapi sayangnya yang sakit adalah orang yang aku sayang..." Sri menjawab pertanyaan tedas dengan sedikit bercanda, dia tersenyum melihat tedas tampak kaget dan bingung.
"Aku mau menemani kamu..." Sri melanjutkan kata-katanya.
"benarkah sri...?" tedas tampak kaget bercampur bahagia.
"ya... asal mas tedas berjanji mencukur kumis dan berewok mas ini. aku gak mau punya suami jorok lho ya..., oh ya satu lagi mas..., deketin putriku dan terima dia sebagai anakmu juga, aku gak jamin bisa punya anak di usia tua begini..." Sri kembali tersenyum melihat tedas melongo mendengar kata-katanya.
"hmm..., Sri... aku bahagia hari ini. aku akan buktikan aku mampu jadi ayah baru buat putri kamu, putri kita, soal momongan baru..., hmm... sebenarnya aku ingin punya anak, apalagi dari orang yang benar-benar aku harapkan jadi istriku, tapi semua terserah sama gusti Allah. menjadi bagian dari kehidupan kalian aku sudah bahagia. Bahagia sekali..." tedas meraih tangan sri. Digenggamnya tangan itu dan didekatkan ke wajahnya. tedas mencium tangan sri dengan lembut. Ada butir air mata menetes dari keduanya.
"aku sayang kamu..." kata-kata itu keluar dari kedua nya secara berbarengan, hingga membuat keduanya tertawa penuh arti.
Udara di rumah sakit terasa semakin sejuk mengikuti kesejukkan dua hati yang baru saja mendapatkan keajaiban karuniaNya.
"apa yang akan kau kerjakan setelah ini? ...sudah sepuluh tahun kamu aktif dalam program kemanusiaan, ...seharusnya kamu juga mikir kepentingan diri sendiri.."
"hmm...,entahlah..., ga tahu lah gus. ...aku hanya ingin punya anak."
punya anak ya berarti punya istri dong! hmm... kau masih mengingatnya...?" Gusgus bertanya sambil memperhatikan roman muka Tedas yang sedikit berubah.
"ya...! ...awalnya setiap saat aku mengingatnya, kemudian setiap jam aku mengingatnya, selanjutnya aku mengingatnya tiga kali dalam setahun..., setiap kali mengingatnya dadaku seperti tergilas roda". Sambil tersenyum aku menatap langit yang temaram.
"tapi kau tidak mungkin memilikinya..."
"aku tahu..., makanya aku hanya ingin punya anak entah siapapun istriku nanti."
"itu artinya engkau tidak mencintai istrimu?
"hihihi.. aku tersenyum membuang rasa yang tiba-tiba datang. "aku akan memperlakukan istriku sebaik mungkin..., dia ibu dari anakku".
"tapi tetap saja itu penderitaan secara tidak langsung untuk istrimu?"
"...ah sudahlah gus..., kau tahu aku susah berubah untuk hal macam ini. jika aku bisa melupakannya tentu selama sepuluh tahun ini hidupku ga nyasar-nyasar kayak gini... tapi aku tetap bersyukur dengan keadaaanku. Dengan keadaan seperti ini aku bisa mengabdi pada orang-orang yang butuh bantuan.."
"sebagai sahabatmu aku hanya bisa mendoakan..., semoga gusti Allah mempertemukan kamu dengan dia, wanita istimewamu..., yuk tidur dah larut mlm nih."
Tedas menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya perlahan. tidak ada kata yang keluar dari mulutnya,dia diam, mungkin mengulang doa yg tadi diucapkan gusgus secara sepontan, sambil beringsut mematikan api di perapian. Sebelum masuk ke tenda induk, sekali lagi tedas menghela nafas...
*******
Sudah lebih dari seminggu kami menjadi sukarelawan yang tergabung dalam organisasi yang kudirikan sepuluh tahun lalu, sebulan setelah perempuan impianku menghilang. Dulu saat kudirikan organisasi ini keinginanku cuma satu melupakan segala kenangan tentang dia. Tiap kali ada panggilan kemanusiaan aku berharap aku mati dalam menjalankan tugas, biar bisa kutunggu dia di tempatku yang baru nanti. Tak ada yang tahu tentang hal ini, bahkan sampai hari ini termasuk sahabat terbaikku.
hei jo...." panggilan sahabatku menggugah kesadaranku dari menyelami masa lalu,teman-teman karib memanggilku dengan sebutan ijo, nama sandi sewaktu aktif di organisasi pecinta alam dulu.jika bukan karena obrolan semalam dengan si wahid alias gusgus, pagi ini pasti seperti juga pagi yang lainnya, sibuk dengan segala urusan rehabilitasi pasca bencana.
"pagi-pagi ko' udah ngelamun jo..., tahu ga disini dulunya daerah angker lho."
"halakh man.. man..., siapa yang melamun... aku lagi mikir program selanjutnya nih..., program yang lagi jalan rasanya lambat banget perubahannya". Aku mencoba menghilangkan bayangan masa laluku dengan menceritakan kurangnya keterlibatan pihak pemda dalam program ini.
"Oh ya... ada apa kamu manggil saya..? gimana perkembangan penggalian mayat yang masih tertimbun longsor?"
"itulah jo... penggalian terpaksa di hentikan karena kondisi medan yang penuh resiko. di khawatirkan ada longsor susulan jika kita menggunakan alat berat lagi, getaran mesin dan bobot alat-alat berat itu di takutkan bisa menjadi penyebab tanah diatasnya kembali longsor".
"terus..." aku mulai berpikir alernatif lain sembari mendengarkan penjelasan firman, penggalian seharusnya bisa selesai dua tiga hari ini kemudian seluruh tenaga sukarelawan bisa di kerahkan membantu membuat kembali sarana dan prasarana lain.
"kita menunggu keputusan ketua Bakornas sebagai penanggung jawab di lapangan, sebaiknya kamu ikut ke lokasi sekarang".
"hmm..., ..kita kesana sekarang!" aku langsung menjawab dan mengajak firman agar segera mengantarkan aku ketempat penggalian. Dalam situasi darurat seperti ini waktu benar-benar berharga, sayangnya pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang mengatasi ini terkadang seperti terlambat dalam meresponnya.
**********
Penggalian masih berlangsung ketika kami sampai, hanya alat-alat berat tidak digunakan dan masih berada di sekitar area penggalian. Dengan susah payah kami menuju ke atas tebing, mencoba melihat kebawah dan menghitung kemungkinan juga cara alternatif meneruskan penggalian.
Dari atas memang terlihat semuanya, bagaimana longsor telah menghancurkan pemukiman di lereng ini. Bahkan tanah yang kupijak terasa bergerak tanda bahaya masih benar-benar dekat dengan kawasan ini.
Saat masih mengawasi dari pinggir tebing entah karena tidak tahu atau memang ada penggalian yang memaksa di hidupkannya alat berat, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas ku dan aku tak sanggup menghindar dari amblas tanah yang kupijak dan runtuhan tanah juga pohon dari atasku...., ya Allah... seruku terbeliak dan tak mampu menghindari terjangan dan tarikan kebawah sekaligus.
*******
Setelah longsor susulan dirasa tidak terjadi lagi, teman-teman tedas bersama sukarelawan yang lain segera bertindak cepat melakukan penggalian. Firman dan wahid dibantu beberapa warga mulai menggali tempat dimana tedas jatuh dan tertimbun. Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh tedas ke permukaan. tubuh itu masih hangat, masih terasa denyut dan aliran darah meskipun sangat lemah. Ini adalah sebuah keajaiban. Tanpa dikomando, mereka bergegas menggotong dan membawa tedas kerumah sakit.
********
Awan terlihat tenang. Ada cahaya yang jauh untuk di jangkau. Tedas berusaha berlari menghampiri cahaya itu. Seorang perempuan melambaikan tangannya. Tedas semakin cepat berlari menuju perempuan yang diselimuti kabut dan cahaya. Samar-samar dia mengenali wajah perempuan yang masih jauh itu. Tedas hentikan larinya. Dia tertegun menatap nanar perempuan yang masih berada jauh dari hadapannya, tapi ingatannya bekerja, sosok perempuan yang dia lihat mirip dengan kekasihnya dulu. Perempuan yang selalu hadir dalam hatinya.
"...di ...a...kah....? ...s....r.....i........., sri...................,srii...."
**********
Hari kesepuluh tedas koma dirumah sakit. Beberapa bagian tubuhnya terbalut perban karena mengalami patah tulang. Diantara beberapa sahabat yang menungguinya, ada seorang wanita yang ikut hadir menemaninya. Dari wajahnya yang bersih terbesit kecemasan pada pasien di depannya. Tak henti-hentinya dia membisikkan kata-kata dengan mendekatkan wajahnya ke telinga tedas. Dan...
"...s.....r.....i..................."
bibir tedas yang kering bergetar mengucap sebuah nama, Setelah sepuluh hari diam seperti mati. Perlahan matanya terbuka...
Wanita yang berada disisi tedas tak kuasa membendung airmatanya, buliran-puliran bening jatuh mengalir di pipinya. Dia memeluk sosok lelaki di depannya hingga membuat seisi kamar itu terharu.
"sr..i..., sri..."
"...ssst..., sudah jangan bicara banyak dulu..." Wanita yang ada disisinya berkata dengan tatapan mata penuh kasih. Tedas hanya bisa menatap wajah didepannya dengan tatapan lemah, dia masih berada diantara alam bawah sadar dan kenyataan didepannya. Dokter yang dari tadi berdiri disisi yang bersebrangan dengan wanita itu kemudian mulai memeriksa kondisi tedas.
*****
Hari kelima setelah tedas sadar dari koma selama sepuluh hari, atau hari ke lima belas tedas berbaring menjadi pasien di rumah sakit.
Pagi ini dokter telah memeriksa kondisi tedas, dan mengizinkan tedas sedikit lebih bebas menggerakkan organ tubuhnya, juga membolehkan tedas berbincang setelah selama lima hari ini hanya boleh mengucap satu dua kata.
Mata tedas tak pernah lepas dari memperhatikan wanita yang duduk di dekatnya. Banyak pertanyaan muncul diotaknya. Bagaimana sri bisa tiba-tiba hadir disaat kondisi kritisnya setelah selama sepuluh tahun menghilang begitu saja. Terlalu banyak yang ada dalam pikirannya hingga tedas bingung harus mulai darimana dulu membuka obrolan dengan wanita yang entah sejak berapa hari ini menemani dan merawat dirinya.
Bukan hanya tedas yang bingung, sri pun menjadi sedikit grogi dsengan keadaan ini, meski selama beberapa hari ini dia sudah menyiapkan diri untuk bercerita bila tedas telah siap nanti, tapi tetap saja suasana di pagi ini terasa lain, apalagi ditatap oleh mata dari seorang laki-laki yang pernah di kecewakannya. Setelah mencoba bersikap santai, sri kemudian memulai berbicara dengan laki-laki yang terbaring di dekatnya ini.
"...gmn perasaannya saat ini mas?"
"Alhamdulillah baik..., baik sekali sri..."
"kamu dah sarapan sri?" tedas mencoba lebih mencairkan suasana
"udah tadi dengan sahabatmu, si wahid..."
"oh...,mmh...., ...sri..., ada yang ingin aku tanyakan.... tapi bingung...., kamu tahu kan apa yang ada dalam pikiranku...?", tedas akhirnya memberanikan diri bertanya pada wanita yang masih tampak cantik di usia yang tidak muda lagi ini.
"...ya... aku mengerti. Memang sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Tentang masa lalu kita..., juga bagaimana tiba-tiba aku bisa ada disini sekarang. Sri menatap sebentar kearah jendela di depannya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tedas yang terbaring dengan mata tetap memandang memperhatikan dirinya.
"...mas..., sebelumnya aku minta maaf padamu...., aku sudah membuatmu terluka selama sepuluh tahun ini... Dulu aku pergi tanpa mengatakan alasan apapun, Ketika hubungan kita sudah sangat serius..., ...mendadak orang tuaku menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya. Aku tak sanggup untuk menolaknya, aku tahu jika aku ceritakan ini padamu, engkau tak kan mau mengerti, aku tahu sifatmu... keras jika sudah punya keinginan, apalagi jika kamu merasa yakin dengan keinginanmu. Itu sebabnya aku pergi tanpa mengatakan apapun..., kebetulan orang tuaku pindah tempat dinas. Sebesar apapun cintaku padamu, aku tetap patuh dengan kemauan mereka. Sri menarik nafas pelan, kemudian meneruskan ceritanya...
"kemudian aku menikah dengan laki-laki pilihan bapak. ternyata dia seorang yang sangat baik. Akupun berusaha menjadi istri yang berbakti dan patuh kepadanya. kebaikannya meluluhkan hatiku..., sayangnya..., usia pernikahan kami hanya berumur 4tahun...disuatu pagi dia terkena serangan jantung...dan..kemudian dia pergi untuk selamanya. Dari pernikahan kami hadir seorang putri. Kini aku hidup dengan putriku. Hmmm... Sambil bercerita sri berulang kali menarik nafas dan sesekali menatap ke arah jendela.
Suatu siang kebetulan aku melihat berita di salah satu televisi swasta...., ada berita tentang longsor susulan yang juga mengakibatkan korban dari pihak sukarelawan..., ada kamu..., salah satu korbannya. Aku kaget... sekian lama tidak pernah mendengar berita kamu, tiba-tiba ada kabar seperti ini.
Aku kaget dan bingung... ada keinginan untuk membiarkan masa lalu tetap sebuah masa lalu, tapi aku ingat ucapan kamu dulu..., lakukan apa yang pertama kali ada dalam hatimu, jika kamu menemukan masalah yang membuat kamu ragu-ragu. Saat itu yang muncul pertama kali dalam pikiranku adalah aku harus ke tempat kamu. Maka hari itu juga aku berangkat..., dan...., kamu lihat sekarang aku ada di depanmu.
Sri tampak tegar menceritakan semuanya. Dia berusaha menempatkan dirinya secara wajar diantara masa lalu dan apa yang kini ada di depannya.
Tedas mendengarkan setiap kata yang terucap dari sri tanpa memotong ataupun bertanya.
Setelah sri selesai bercerita tedas menarik nafas beberapa kali. Hanya satu yang ada dalam pikirannya saat ini... apakah sri mau meneruskan hidupnya dengan dirinya.
"sri..., kamu tahu kan apa yang terjadi dengan diriku selama sepuluh tahun ini?"
"ya..., aku mendapat banyak cerita tentang kamu dari wahid saat kamu masih terbaring koma".
"sri..., kamu masih sayang aku kan?" tedas akhirnya bertanya apa yang mengganjal dalam pikirannya. "aku berterima kasih kamu mau merawat dan menemaniku selama aku di sini. apakah aku masih bisa menjadi bagian dari masa depanmu?"
Sri menundukkan kepalanya...
"sri... kalau kamu bersedia mendampingi hari-hari ku, aku tidak menjamin kamu bahagia. keadaanku saat ini kan hanya merepotkan saja ya...?"tedas tertawa kecil, dia berusaha menyembunyikan kecemasan dalam hatinya. Dia takut sri tidak mengabulkan keinginannya, dan itu artinya dia benar-benar harus mengubur impiannya selama ini.
"sri...kamu bisa kan menjawab pertanyaanku tadi?" Tedas benar-benar menginginkan jawaban dari sri. Masa depannya ada di jawaban sri saat ini.
"hhmmm..., mas... sebenarnya aku..., aku..., aku malas merawat orang sakit..., tapi sayangnya yang sakit adalah orang yang aku sayang..." Sri menjawab pertanyaan tedas dengan sedikit bercanda, dia tersenyum melihat tedas tampak kaget dan bingung.
"Aku mau menemani kamu..." Sri melanjutkan kata-katanya.
"benarkah sri...?" tedas tampak kaget bercampur bahagia.
"ya... asal mas tedas berjanji mencukur kumis dan berewok mas ini. aku gak mau punya suami jorok lho ya..., oh ya satu lagi mas..., deketin putriku dan terima dia sebagai anakmu juga, aku gak jamin bisa punya anak di usia tua begini..." Sri kembali tersenyum melihat tedas melongo mendengar kata-katanya.
"hmm..., Sri... aku bahagia hari ini. aku akan buktikan aku mampu jadi ayah baru buat putri kamu, putri kita, soal momongan baru..., hmm... sebenarnya aku ingin punya anak, apalagi dari orang yang benar-benar aku harapkan jadi istriku, tapi semua terserah sama gusti Allah. menjadi bagian dari kehidupan kalian aku sudah bahagia. Bahagia sekali..." tedas meraih tangan sri. Digenggamnya tangan itu dan didekatkan ke wajahnya. tedas mencium tangan sri dengan lembut. Ada butir air mata menetes dari keduanya.
"aku sayang kamu..." kata-kata itu keluar dari kedua nya secara berbarengan, hingga membuat keduanya tertawa penuh arti.
Udara di rumah sakit terasa semakin sejuk mengikuti kesejukkan dua hati yang baru saja mendapatkan keajaiban karuniaNya.
Kamis, 07 Mei 2009
Langganan:
Postingan (Atom)
