Tidak ada tetangga yang tidak iri melihat kerukunan keluarga muda ini. Yang laki-laki dikenal pintar dalam bisnis dan cukup taat menjalan agama sementara yang istrinya pun demikian. Mereka berdua dikenal sebagai pribadi yang supel, ramah, dan menyenangkan. Syam dan dyah nama pasangan ini. Apalagi dengan kehadiran putri kecilnya membuat kebahagiaan keluarga ini semakin lengkap. Seolah-olah seluruh kenikamatan dunia tercurah kepada mereka. Dan disinilah sebenarnya ujian datang menghampiri mereka dari arah yang tidak disadari sama sekali.
Bermula dari perjalanan bisnis syam ke jakarta atas undangan rekannya untuk ikut berinvestasi dalam suatu usaha baru. Setelah selama seminggu melakukan survei dan analisa serta mempelajari hal-hal yang lainnya, siang itu syam berniat pulang menggunakan kereta Api. Sambil menunggu kedatangan kereta yang akan ia tumpangi menuju kotanya, mata syam menatap seorang wanita seumuran usia istrinya duduk agak jauh dari dirinya. Wajahnya lebih cantik dari istrinya, tapi bukan itu yang membuat mata syam mengawasi wanita itu. Tepat di belakang wanita itu duduk pula tiga orang pemuda yang dari gerak geriknya mencurigakan. Tatapan mereka ke arah wanita itu seperti mata pemburu mengincar binatang buruannya. Sebenarnya wanita itupun menyadari gelagat yang tidak enak ini, maka ketika dia menatap ke arah syam dia merasa ada seorang laki-laki yang melindunginya. Perlahan dia bangkit dan berjalan menuju syam dan kemudian duduk bersebelahan.
Dari tatapan mata yang simpati dan senyum ramah akhirnya terlihat keduanya berbincang. Entah apa yang mereka bicarakan tapi keduanya terlihat menikmatinya. Apalagi syam di kenal sebagai sosok yang pandai dalam bergaul, wawasannya luas disamping itu dia juga pintar bercanda.
Kini keduanya sudah berada dalam satu kereta. Perjalan tidak terasa melelahkan karena keduanya asyik dan larut dalam pembicaraan. sesekali keduanya tertawa. Bahkan makin lama keduanya terlihat lebih akrab dan tidak lagi merasa sungkan.
"mas aku turun disini. salam buat istrinya. Jaga baik-baik suami gantengnya...ini kartu nama saya, siapa tahu ada waktu untuk bertemu kembali" demikian ucapan wanita itu ketika kereta berhenti di sebuah stasiun kota. Syam hanya tersenyum dan menerima kartu itu. Setelah kereta kembali melaju syam teringat pada penggalan ucapan wanita itu. "jaga suami gantengnya...", hmm... wanita secantik dia memberi pujian yang terlalu berlebihan kepadaku, " gumam syam sambil senyum-senyum sendiri tapi tetap saja hatinya senang. Dipuji seorang wanita yang di matanya sangat sempurna tentu saja membuat jiwa laki-lakinya merasa melayang.
******
Tiga bulan setelah perkenalan, syam kebetulan melakukan perjalanan bisnis ke kota wanita itu. Setelah menyelesaikan urusan bisnis, dari kamar hotelnya syam menyempatkan diri menghubungi wanita itu. terjadi tegur sapa dan basa basi sejenak kemudian keduanya berjanji bertemu di lobi hotel. Akhirnya pertemuan kedua itu terjadi. seperti sebelumnya kali ini pun keduanya terlihat gembira, terlihat dari tatapan mata dan bahasa tubuh mereka. Meski tidak di rencanakan dan hanya bermaksud menjalin persahabatan tapi akhirnya syam dan wanita itu larut dalam obrolan-obrolan yang semakin lama semakin lepas dan terbuka.
Malam semakin larut, dari obrolan yang melenakan hati, kini hasrat menguasai jiwa, ketertarikan dan kebutuhan menjelma menjadi rasa yang harus terpenuhi. senyum dan tawa itu akhirnya berakhir di kamar hotel. Tidak ada yang merasa memulai semuanya hanyut mengikuti kata dan bisikan yang entah kapan merasuknya.
********
Hampir satu tahun hubungan syam dan wanita itu, dari syam yang dulu giat shalat dan ibadah menjadi syam yang banyak melalaikannya. Jiwanya terbagi, terombang ambing antara rasa bersalah pada istrinya dan rasa sayang yang muali tumbuh pada wanita itu.
Suatu ketika saat syam bersama wanita itu, terdengar bunyi handphone dari sakunya. ada kabar dari istrinya, terpeleset dan jatuh dari tangga ketika hendak naik kelantai atas untuk solat di kamarnya. Dyah mengalami patah tulang. Bergegas syam pulang setelah mendengar kabar itu.
Akibat jatuh itu dyah mengalami kelumpuhan pada kedua kakinya. Kini syam lebih banyak menemani istrinya di banding waktu-waktu sebelumnya tapi hubungannya dengan wanita itu masih berlanjut. Terasa berat untuk melepas wanita yang menyempurnakan semua yang tidak dia dapatkan selama ini.
hati memang selalu berubah-ubah kemauannya, tapi hati tetap memberi kesempatan untuk seseorang mengenali kembali dirinya. Begitu juga yang terjadi dengan syam. suatu malam istrinya berkata
"mas... ada yang mau aku katakan..." demikian ucapan istrinya membuka obrolan di tengah malam saat syam hendak merebahkan diri berbaring disisi dyah, istrinya.
"ada apa dik?"
"hmmm... maaf sebelumnya mas, akuu..., ...adakah aku bersalah pada mas? aku merasakan sesuatu terjadi dalam diri mas.... sewaktu dulu jatuh dari tangga... saat itu aku... pikiranku merasa tidak enak, ..entah ada apa...." dyah berkata dengan terbata-bata takut ucapannya salah dan menyinggung hati suaminya, tapi disitulah jiwa syam tersentuh dan tergetar.
Syam memandang wajah istrinya... mulutnya tak mampu mengatakan apa-apa. haruskah dia ceritakan semua kesalahannya selama setahun ini, kenapa bukan dia yang kena hukum dari perbuatan nya, kenapa istrinya yang begitu baik mengalami musibah karena memikirkan kesalahan yang tidak pernah di lakukan kepadanya....
Syam pingsan.
Minggu, 24 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar