Dua bocah perempuan kakak beradik itu setiap sore hingga selepas maghrib menjajakan surabi buatan ibunya.
"jajan..jajaan..., ..surabi kang.., teteh..." begitu selalu kudengar teriakan mereka yang menjelang maghrib sampai di depan rumahku. Keluargaku adalah penggemar jajanan ini, dan hampir setiap hari membelinya. Sayangnya hari ini seluruh anggota rumah sedang pergi menjenguk paman yang sakit kecuali aku yang bertugas sebagai 'penjaga gawang'.
Aku buka pintu depan, kulihat mereka duduk di kursi panjang di sebrang rumahku sambil menatap ke arahku seolah berkata... "kak...beli jajanan kami.."
Aku mencoba tersenyum memahami keinginan mereka. Kulambaikan tanganku, memberi tanda agar mereka mendatangiku, dan dengan cepat mereka pun menggotong jajanan mereka yang di taruh di sebuah nampan cukup besar untuk ukuran tangan-tangan mungil ini.
"wah... ko' masih banyak ra? hari ini sepi ya?" sekilas kulihat nampan yang masih penuh surabi itu, dan aku semakin merasa trenyuh menatap wajah-wajah polos di depanku ini.
"Hari ini orang rumah lagi pada pergi... kakak juga masih kenyang... ini ada sedikit duit buat jajannya tiara sama rani.." aku berikan dua lembar uang kertas buat mereka. Kulihat ada sedikit kegembiraan pada wajah mereka.
"makasih kak..." sambut mereka, menerima uluran tanganku.
"rani dan rara dah maem? atau mo minum dulu...?" aku bertanya sambil berjongkok di depan mereka.
"..udah maem kak... tapi..., rani yang menjawab pertanyaanku menatap ke tiara.
"tapi apa.." tanyaku heran.
"tapi haus..." jawab keduanya kompak. Aku hanya bisa tersenyum mendengar jawaban jujur keduanya.
"bentar ya..., kakak ambil dulu" aku kemudian masuk mengambil air minum untuk duanya. Kulihat ada buah-buahan dalam piring besar diatas meja, mungkin ibu menyisakan oleh-oleh untuk menjenguk paman. Aku ambil saja untuk mereka pikirku.
"ini airnya..., ini ada buah juga buat jajan kalian di jalan..." kuberikan pada mereka buah-buahan yang sudah kumasukan dalam kresek.
"makasih kak..., rara pamit mo jualan lagi..."rara kemudian mengangat nampan dan meletakkannya di atas kepala, sementara rani yang lebih kecil menjinjing rantang untuk surabi serta kresek yang tadi kuberikan. Sekali lagi mereka menatapku sebelum berbalik dan berjalan menyusuri jalan kampung yang agak becek akibat hujan tadi pagi.
Ku iringi langkah mereka dengan senyum haru. Sebenarnya tidak ada yang aneh dari kedua anak kecil tadi, inilah potret kampungku, dimana ekonomi terasa menghimpit. Menggantungkan hidup sebagai buruh tani, tukang becak, dan sedikit mengadu keberuntungan di judi kecil-kecilan adalah gambaran sebagian besar orang-orang dikampungku. Seperti tiara dan rani, keduanya terpaksa membantu mengatasi masalah ekonomi keluarganya. Ibunya tukang cuci pakaian para tetangga yang kebetulan masih mau menggunakan tenaganya, sementara bapaknya seorang makelar untuk jasa apa saja, yang kemudian menjadi pengangguran karena sepinya order.
DAn aku...
Setelah kedua perempuan kecil tadi berlalu dan menghilang di tikungan jalan, aku kembali masuk ke dalam kamarku. Tenggelam dalam bacaan-bacaan, untuk menghindari mengingat bahwa aku juga bagian dari warga yang terpuruk oleh kerasnya hidup, masih berjuang melawannya, cinta yang kandas karena masalah materi dan kerinduan pada sahabat-sahabatku yang di kejar polisi malaysia karena menjadi TKI ilegal.
"...ya Allah..., aku masih yakin...Engkau akan selalu mencurahkan karuniaMu di dunia dan akhirat untuk hamba-hambaMU yang berjalan di jalanMU..."
Kamis, 14 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar