kepada nya yang luhur
seberapa kali kuingat dirimu
lebih baik tidak kuceritakan
biar jadi sempurna kerinduan ini
tapi ada sedih sejumlah tetesan air mata
waktu kau pergi ketimur
"kenapa suara pamitmu tak kudengar?"
aku tak tahu
hal baik apa yang pernah kuberikan padamu
tapi kau selalu mengatakan aku termasuk sangat baik
maka kubiarkan saja pujianmu itu menghiburku
lalu tentang sejarah yang kau namakan catatan merah
aku lebih suka menyebutnya kealpaan yang manusiawi.
:.ni, semoga perjalananmu ini suatu saat bisa kudengar kabar bahagianya
Selasa, 13 Oktober 2009
Sabtu, 27 Juni 2009
curhat dalam secuil kisah
kenapa awan punya warna putih dan hitam?..., kenapa senja selalu mempesona? kenapa angin suka membawa bau tak sedap? kenapa malam penuh dengan rahasia? Aaaah..., aku semakin merasa bodoh saja mendengar pertanyaanmu.
"ko cuma senyum?" kau lagi-lagi bertanya, bahkan sekedar senyumku pun kau pertanyakan. Tahukah kamu dik, setiap pertanyaanmu adalah cerita hidupmu yang penuh keperihan dan karena aku tak pernah bisa membuat sebuah kenangan indah tentang kita maka aku hanya bisa tersenyum dan diam. Sementara engkau, meski hanya dengan bertanya ringan akan selalu terkenang selamanya dalam memori hidupku.
"kakak gak suka ya dengan pertanyaanku?"
duh lagi-lagi kau bertanya ringan, padahal dalam hatiku saat ini hanya ingin diam menikmati waktu-waktu terakhir kebersamaan kita.
"suka kok" akupun terpaksa menjawab karena kutangkap wajah jutekmu sekilas. "makasih ya" ujarku kemudian.
"lho..lho... ko' terima kasih? kakak berterima kasih untuk apa? aku kan bertanya kak, bukan memberi hadiah... parasmu berubah heran setelah mendengar ucapanku. Sesaat kemudian engkaupun mengenali dengan baik tanda-tanda kekecewaanku.
"kak..., maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu... maafkan karena selama ini telah membuatmu banyak berharap kepadaku."
Aku semakin tak tahu harus berkata apa karna kulihat wajahmu merasa bersalah begitu rupa.
"hei... ngomong apa kamu dik, ko minta maaf segala... emang kamu salah apa ma kakak? kita berdua ini benar semua lho hanya berbeda pendapat. hihihihi..., aku tertawa kecut mencoba menghilangkan keresahanku sendiri.
"dik...?" aku kemudian menatapnya serius.
"iya kak.." jawabmu pendek menunggu ucapanku selanjutnya.
"ga' papa ding, kakak cuma kpingin manggil kamu aja..." aku memaksakan bibirku tersenyum, menghilangkan kalimat yang telah kususun dan siap meluncur keluar. Jika kalimat ini sampai keluar aku yakin aku akan menjadi laki-laki paling pecundang kepadamu.
(aku ingin membawa lari kamu dari sini, dari orang-orang yang mengaku menyayangimu)
"kak... udah malam, kakak pulang sana..."kata-katamu memecah kebisuan kita
"hmmm... bentar lagi ya... kan belum terlalu malam sekarang... bentaaar lagi...,boleh ya,...ya boleh kan?" tanyaku merajuk. Sungguh aku ingin sedikit lebih lama lagi disini karena besok semua akan jadi masa lalu dan kita akan kembali ke keadaan kita masing-masing. Tidak ada lagi kita sepasang kekasih, yang ada hanya engkau dan aku sebagai dua orang yang saling mendoakan.
Dan engkau mengangguk pelan. kemudian engkau tatap bulan yang mirip buah kesukaanku itu. Sementara kau menatap langit malam yang temaram aku berlama-lama menatap wajahmu. terakhir kali...
hayo... lagi mandang aku ya?" candamu tanpa menoleh ke arahku dan tetap menatap gugusan bintang dan bulan yang mirip pisang itu.
"emang napa..? gak boleh ya?" tanyaku pura-pura kesal. ikh, napa sih dik kamu mencandaiku disaat hatiku sedang tak ingin tertawa. aku hanya mampu bertanya dalam hati saja.
"kakak sekarang pulang ya..., aku dah capek banget nih, dah ngantuk berat. kakak tahu kan besok seperti biasa aku harus kerja. kerja yang berat untuk ukuranku. Demi ayah dan ibu, dan keluargaku."
"hmm... ya, ya..ya..." aku hanya bisa berucap itu dan mengangguk.
aku pun bangkit dan melangkah pergi meninggalkanmu.
(semuanya sudah berakhir ya... demi ketenangan dan kejernihan hati kita, memang ini jalan terbaik. Diatas itu semua, memang yang kita cari adalah ridho dan kasih sayangNYA. Dan aku malu karena memaksakan suatu dosa kepadamu. maafkan dan maafkan kakak yang beberapa waktu ini menjadi orang yang menyebalkan dan hanya menambah berat beban pikiranmu saja. masa lalu memang tak mungkin kakak bawa selamanya bersanding dengan hari ini, suka tidak suka dia harus ditinggal dan di simpan)
"ko cuma senyum?" kau lagi-lagi bertanya, bahkan sekedar senyumku pun kau pertanyakan. Tahukah kamu dik, setiap pertanyaanmu adalah cerita hidupmu yang penuh keperihan dan karena aku tak pernah bisa membuat sebuah kenangan indah tentang kita maka aku hanya bisa tersenyum dan diam. Sementara engkau, meski hanya dengan bertanya ringan akan selalu terkenang selamanya dalam memori hidupku.
"kakak gak suka ya dengan pertanyaanku?"
duh lagi-lagi kau bertanya ringan, padahal dalam hatiku saat ini hanya ingin diam menikmati waktu-waktu terakhir kebersamaan kita.
"suka kok" akupun terpaksa menjawab karena kutangkap wajah jutekmu sekilas. "makasih ya" ujarku kemudian.
"lho..lho... ko' terima kasih? kakak berterima kasih untuk apa? aku kan bertanya kak, bukan memberi hadiah... parasmu berubah heran setelah mendengar ucapanku. Sesaat kemudian engkaupun mengenali dengan baik tanda-tanda kekecewaanku.
"kak..., maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu... maafkan karena selama ini telah membuatmu banyak berharap kepadaku."
Aku semakin tak tahu harus berkata apa karna kulihat wajahmu merasa bersalah begitu rupa.
"hei... ngomong apa kamu dik, ko minta maaf segala... emang kamu salah apa ma kakak? kita berdua ini benar semua lho hanya berbeda pendapat. hihihihi..., aku tertawa kecut mencoba menghilangkan keresahanku sendiri.
"dik...?" aku kemudian menatapnya serius.
"iya kak.." jawabmu pendek menunggu ucapanku selanjutnya.
"ga' papa ding, kakak cuma kpingin manggil kamu aja..." aku memaksakan bibirku tersenyum, menghilangkan kalimat yang telah kususun dan siap meluncur keluar. Jika kalimat ini sampai keluar aku yakin aku akan menjadi laki-laki paling pecundang kepadamu.
(aku ingin membawa lari kamu dari sini, dari orang-orang yang mengaku menyayangimu)
"kak... udah malam, kakak pulang sana..."kata-katamu memecah kebisuan kita
"hmmm... bentar lagi ya... kan belum terlalu malam sekarang... bentaaar lagi...,boleh ya,...ya boleh kan?" tanyaku merajuk. Sungguh aku ingin sedikit lebih lama lagi disini karena besok semua akan jadi masa lalu dan kita akan kembali ke keadaan kita masing-masing. Tidak ada lagi kita sepasang kekasih, yang ada hanya engkau dan aku sebagai dua orang yang saling mendoakan.
Dan engkau mengangguk pelan. kemudian engkau tatap bulan yang mirip buah kesukaanku itu. Sementara kau menatap langit malam yang temaram aku berlama-lama menatap wajahmu. terakhir kali...
hayo... lagi mandang aku ya?" candamu tanpa menoleh ke arahku dan tetap menatap gugusan bintang dan bulan yang mirip pisang itu.
"emang napa..? gak boleh ya?" tanyaku pura-pura kesal. ikh, napa sih dik kamu mencandaiku disaat hatiku sedang tak ingin tertawa. aku hanya mampu bertanya dalam hati saja.
"kakak sekarang pulang ya..., aku dah capek banget nih, dah ngantuk berat. kakak tahu kan besok seperti biasa aku harus kerja. kerja yang berat untuk ukuranku. Demi ayah dan ibu, dan keluargaku."
"hmm... ya, ya..ya..." aku hanya bisa berucap itu dan mengangguk.
aku pun bangkit dan melangkah pergi meninggalkanmu.
(semuanya sudah berakhir ya... demi ketenangan dan kejernihan hati kita, memang ini jalan terbaik. Diatas itu semua, memang yang kita cari adalah ridho dan kasih sayangNYA. Dan aku malu karena memaksakan suatu dosa kepadamu. maafkan dan maafkan kakak yang beberapa waktu ini menjadi orang yang menyebalkan dan hanya menambah berat beban pikiranmu saja. masa lalu memang tak mungkin kakak bawa selamanya bersanding dengan hari ini, suka tidak suka dia harus ditinggal dan di simpan)
Selasa, 09 Juni 2009
bercanda dengan diri sendiri
hari ini sebenarnya hati lagi bersedih, tapi ku coba mengalihkannya dengan menulis di blog. Tidak seperti biasanya yang tentang perenungan, kali ini aku ingin mengarang cerita humor... aah semoga saja lucu kalaupun tidak ya bearti aku memang tidak bakat menghibur orang, hmmm...
Dimulai....
suatu sore udin curhat pada bejo tentang masa depan hubungannya dengan novi, anak orang kaya di kampungnya.
udin : "jo..., aku sudah bosen pacaran backstreet, tp klo terang2an kayaknya ga bakal deh di izinin ma orang tuanya novi"
bejo : "kamu usaha lebih giat lagi dunk"
udin : "udah.. tapi tetep aja lah jo, berapa sih upah seorang buruh?"
bejo : "klo gitu doa, b'doa tiap malam..."
udin : "itu juga udah aku lakuin, tiap malam bangun dan sholat trs b'doa..."
bejo : "gimana bunyi doanya?"
udin : " ya..gitu.., aku minta rezeqiku lebih banyak..."
bejo : (begaya pinter, sambil jari2nya mukul jidatnya sendiri..)" kayaknya doanya salah din..."
udin : "kamu punya doa yang mujarab jo?" (udin tampak serius menunggu jawaban bejo)
bejo : aaah... eeeee... doanya gini din..., kamu bedoa biar keluarga cewek kamu melarat gimana? drpd kamu bdoa biar kamu kaya tp ga juga terkabul sapa tahu kalo di balik jadi terkabulkan...!!"
udin : "sinting kamu jo..!!"
******
seorang pemuda yang baru saja di tolak cintanya mengirim sms pada pujaan hatinya dengan pesan ancaman
"gara-gara kamu menolakku, maka aku akan bunuh diri besok pagi"
kemudian sang gadis membala sms tersebut "kenapa harus nunggu besok, sekarang dong bunuh dirinya!"
si pemuda membalas sms itu "besok kan hari libur, kalo hari ini aku masih sibuk kerja!!"
******
si otong, bocah yang baru berumur lima tahun adalah anak tetangga japra. otong kritis banget. Suatu sore selepas sholat ashar japra berjongkok mengamati tanaman di terasnya, kemudian otong datang menghampiri dengan wajah bingung...
japra : "kamu napa tong?"(sambil melihat ada orang gila lewat di depan kami)
otong: "anu oom.. ada burung..."
japra : "ooo, itu orang gila..., kalo orang gila ya gitu tong.., burungnya kelihatan jawabku apa adanya... kupikir si otong melihat burungnya orang gila tapi ternyata salah.
otong :" berarti oom juga orang gila dong...?"
japra : (kaget)"lho?"
otong : " itu burung oom kelihatan.. katanya sambil cekikikan..."
japra : "ups.. baru sadar, jongkok pake sarung lum pake cd terlalu ketarik ke atas... asem, malu berat niy!!"
******
ok, sekian dulu mencoba bikin cerita lucunya. kalau gak lucu maklum ya, namanya juga hati lagi sedih.
Dimulai....
suatu sore udin curhat pada bejo tentang masa depan hubungannya dengan novi, anak orang kaya di kampungnya.
udin : "jo..., aku sudah bosen pacaran backstreet, tp klo terang2an kayaknya ga bakal deh di izinin ma orang tuanya novi"
bejo : "kamu usaha lebih giat lagi dunk"
udin : "udah.. tapi tetep aja lah jo, berapa sih upah seorang buruh?"
bejo : "klo gitu doa, b'doa tiap malam..."
udin : "itu juga udah aku lakuin, tiap malam bangun dan sholat trs b'doa..."
bejo : "gimana bunyi doanya?"
udin : " ya..gitu.., aku minta rezeqiku lebih banyak..."
bejo : (begaya pinter, sambil jari2nya mukul jidatnya sendiri..)" kayaknya doanya salah din..."
udin : "kamu punya doa yang mujarab jo?" (udin tampak serius menunggu jawaban bejo)
bejo : aaah... eeeee... doanya gini din..., kamu bedoa biar keluarga cewek kamu melarat gimana? drpd kamu bdoa biar kamu kaya tp ga juga terkabul sapa tahu kalo di balik jadi terkabulkan...!!"
udin : "sinting kamu jo..!!"
******
seorang pemuda yang baru saja di tolak cintanya mengirim sms pada pujaan hatinya dengan pesan ancaman
"gara-gara kamu menolakku, maka aku akan bunuh diri besok pagi"
kemudian sang gadis membala sms tersebut "kenapa harus nunggu besok, sekarang dong bunuh dirinya!"
si pemuda membalas sms itu "besok kan hari libur, kalo hari ini aku masih sibuk kerja!!"
******
si otong, bocah yang baru berumur lima tahun adalah anak tetangga japra. otong kritis banget. Suatu sore selepas sholat ashar japra berjongkok mengamati tanaman di terasnya, kemudian otong datang menghampiri dengan wajah bingung...
japra : "kamu napa tong?"(sambil melihat ada orang gila lewat di depan kami)
otong: "anu oom.. ada burung..."
japra : "ooo, itu orang gila..., kalo orang gila ya gitu tong.., burungnya kelihatan jawabku apa adanya... kupikir si otong melihat burungnya orang gila tapi ternyata salah.
otong :" berarti oom juga orang gila dong...?"
japra : (kaget)"lho?"
otong : " itu burung oom kelihatan.. katanya sambil cekikikan..."
japra : "ups.. baru sadar, jongkok pake sarung lum pake cd terlalu ketarik ke atas... asem, malu berat niy!!"
******
ok, sekian dulu mencoba bikin cerita lucunya. kalau gak lucu maklum ya, namanya juga hati lagi sedih.
Senin, 01 Juni 2009
mujarad 4
kali ketiga aku datang ke kota ini. Apakah aku akan bisa membawanya ke hadapan ibu?. Aku menyusuri jalan menuju rumah anisa. Kali ini tanpa istirahat dan bersilahturahmi dengan pak ustadz baik hati itu.
****
Anisa memandangi ikan-ikan yang hilir mudik dan memakan pakan yang di taburkan. Dia gelisah, ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Ada apa dengan jiwanya, diapun tak tahu. Hanya dia sadar kehidupannya kini tidak lagi sama dengan yang dulu. perceraian membawanya pada status baru.
"dia pasti datang... jika dia mengajakku harus kujawab apa. Ya Allah beri aku jawaban, jangan besok tapi sekarang. jangan biarkan hamba dalam keraguan." anisa bergumam sendiri sambil menatap kincir air yang ada di kolam ikan.
Tok..tok tok tok... "assala mu'alaikum.... "
Terdengar bunyi pintu di ketup dan suara orang memberi salam, suara seorang laki-laki. "hmm.. dia tlah datang...memenuhi undangan hatinya sendiri, ...dan aku... adakah aku juga di undang oleh hatiku untuk perjalanan baru ini??" anisa menunduk. Terdengar suara ibunya dari belakang. anisa berdiri, dia memandang wajah ibunya, seolah meminta pilihan.
"ada tamu kamu di depan, sana temui..." ibunya berkata singkat melihat anisa hanya diam berdiri mematung.
Anisa menyibakkan gorden pintu tengah dan tersenyum. Laki-laki yang melihatnya pun langsung tersenyum dan terlihat gembira. Sebuah pertemuan yang telah ditunggu lama akhirnya terjadi juga. setelah berbincang sebentar keduanya terdiam. ada kekakuan dari keduanya.
"aku datang melamarmu..." berkata pelan laki laki itu memecah kebisuan. Dia tampak ragu mengucapkan kalimat indah itu. Bukan karena ragu pada kesiapan dirinya tapi ragu pada sikap Anisa yang tampak takut begitu mendengar kata-kata itu. "Ada apa anisa? jawablah..." kembali laki-laki berpenampilan sederhana itu mengulang kembali kata-katanya, tapi anisa hanya menunduk.
"Bukankah kau mencintaiku? kau juga pernah datang ke tempatku... adakah kau tidak suka dengan diri dan keadaanku?." terlihat semakin lelah wajah laki-laki yang memang belum beristirahat dari sejak datang ke kota anisa ini. Kini wajah itu semakin terlihat memelas.
"..k...kak... maafkan anisa..., anisa tak mampu..., tak bisa memenuhi keingnan kakak..., anisa takut..., anisa bingung...,....u..gggh.."
Tak ada suara yang keluar dari mulut anisa selain tangis yang tiba-tiba meledak memecah suasana yang barusan sepi.
Laki-laki yang di panggil kakak oleh anisa itu terkejut mengartikan maksud ucapan anisa. Dia semakin tak mengerti karena kini anisa menangis. perlahan dia berjongkok di depan anisa, tangannya diulurkan hendak meraih wajah yang sesenggukan itu tapi setengah jalan dia urungkan niatnya. Dia kembali duduk, terdiam. bathinnya kini menangis. Jika bukan karena rasa sayang yang begitu dalam, mungkin saat ini dia goncangkan tubuh anisa dan memaksanya berterus terang tentang maksud kalimat yang sepotong-sepotong tadi. Sangat lama rasa itu mengendap dan di biarkan terkekang di hati, kini ketika tak ada alasan untuk menahannya lagi rasa itu harus tergerus kembali. "Mengapa..., mengapa?"
Beberapa kali laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkan kepalanya karena sepertinya ia juga tak sanggup untuk tidak ikut meneteskan air mata.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya laki-laki itu memberanikan diri berjongkok kembali di depan anisa. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan mengangkat wajah anisa yang masih menunduk dan terisak, dia bertanya sekali lagi...
"An..., katakan apa yang kau inginkan? tatap aku.., lihat mataku An..., bisakah kau berterus terang tentang kalimatmu tadi?"
Anisa masih diam. Hanya menatap mata laki-laki yang dari kedua sudut matanya mulai keluar bening air mata.
"A..an..., sekali lagi ku bertanya..."
" Maukah engkau menjadi istriku? Aku tak peduli semuanya...,"
" aku datang kesini dengan cinta yang telah lama ku redam dalam jiwa.... Aku datang kepadamu dengan niat untuk membawamu kehadapan ibuku..., Aku datang kerumahmu untuk memohon izin pada orang tuamu...."
"Izinkan aku berusaha membahagiakanmu..."
Sekali lagi anisa diam. tapi kali ini dia mulai bisa mengendalikan gundah hatinya. Ditatapnya tajam mata laki-laki itu.
"Kak... maafkan aku... aku belum siap... maafkan aku.... maafkan aku" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut anisa.
Laki-laki yang berjongkok di depan anisa langsung terduduk lemas di lantai begitu mendengar jawaban anisa. Tak ada lagi yang bisa di katakannya. Hatinya terasa hancur, tapi dia tak bisa mengatakan apa-apa. Meski anisa tidak mengatakan dengan jelas alasan penolakannya tapi dia memaklumi jika dalam hati anisa ada rasa trauma yang belum bisa sembuh setelah kegagalan dan ketidak percayaannya pada sosok seorang suami.
Tanpa mengatakan apa-apa, laki laki itu berdiri dan meraih tas pakaiannya yang tergeletak disisi kursi tempat duduknya Kemudian berjalan pelan keluar.
"panggil aku An.. tahan langkahku ini..., berlarilah..., katakan kau mau jadi istriku...." jerit hati laki-laki itu Sambil berjalan dengan kepala sedikit tertunduk semakin jauh meninggalkan halaman rumah anisa. Tapi tak ada kata-kata yang terdengar seperti keinginannya.
"jika masih ada rasa sayangmu untukku...jika dalam hatimu ada keyakinan untuk bersamaku...panggil namaku sekarang...!!! sebut namaku sekarang!!! sebelum aku benar-benar pulang dan tak kan lagi datang ke kotamu..." sekali lagi Hatinya berharap. Ingin sekali Dia menengok dan membalikkan badannya, memastikan apakah anisa masih menatap dan memandanginya atau memang membiarkannya pulang dalam keadaan hancur seperti ini, tapi tak jadi dilakukannya. Dia hanya berhenti sebentar di persimpangan jalan kecil yang menuju rumah anisa itu. Kemudian dia bergegas mempercepat langkahnya dan hilang di belokkan jalan.
********
Dan setiap senja datang
aku akan selalu mengingat ini
(tulisan di lembar terakhir buku diary)
****
Anisa memandangi ikan-ikan yang hilir mudik dan memakan pakan yang di taburkan. Dia gelisah, ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Ada apa dengan jiwanya, diapun tak tahu. Hanya dia sadar kehidupannya kini tidak lagi sama dengan yang dulu. perceraian membawanya pada status baru.
"dia pasti datang... jika dia mengajakku harus kujawab apa. Ya Allah beri aku jawaban, jangan besok tapi sekarang. jangan biarkan hamba dalam keraguan." anisa bergumam sendiri sambil menatap kincir air yang ada di kolam ikan.
Tok..tok tok tok... "assala mu'alaikum.... "
Terdengar bunyi pintu di ketup dan suara orang memberi salam, suara seorang laki-laki. "hmm.. dia tlah datang...memenuhi undangan hatinya sendiri, ...dan aku... adakah aku juga di undang oleh hatiku untuk perjalanan baru ini??" anisa menunduk. Terdengar suara ibunya dari belakang. anisa berdiri, dia memandang wajah ibunya, seolah meminta pilihan.
"ada tamu kamu di depan, sana temui..." ibunya berkata singkat melihat anisa hanya diam berdiri mematung.
Anisa menyibakkan gorden pintu tengah dan tersenyum. Laki-laki yang melihatnya pun langsung tersenyum dan terlihat gembira. Sebuah pertemuan yang telah ditunggu lama akhirnya terjadi juga. setelah berbincang sebentar keduanya terdiam. ada kekakuan dari keduanya.
"aku datang melamarmu..." berkata pelan laki laki itu memecah kebisuan. Dia tampak ragu mengucapkan kalimat indah itu. Bukan karena ragu pada kesiapan dirinya tapi ragu pada sikap Anisa yang tampak takut begitu mendengar kata-kata itu. "Ada apa anisa? jawablah..." kembali laki-laki berpenampilan sederhana itu mengulang kembali kata-katanya, tapi anisa hanya menunduk.
"Bukankah kau mencintaiku? kau juga pernah datang ke tempatku... adakah kau tidak suka dengan diri dan keadaanku?." terlihat semakin lelah wajah laki-laki yang memang belum beristirahat dari sejak datang ke kota anisa ini. Kini wajah itu semakin terlihat memelas.
"..k...kak... maafkan anisa..., anisa tak mampu..., tak bisa memenuhi keingnan kakak..., anisa takut..., anisa bingung...,....u..gggh.."
Tak ada suara yang keluar dari mulut anisa selain tangis yang tiba-tiba meledak memecah suasana yang barusan sepi.
Laki-laki yang di panggil kakak oleh anisa itu terkejut mengartikan maksud ucapan anisa. Dia semakin tak mengerti karena kini anisa menangis. perlahan dia berjongkok di depan anisa, tangannya diulurkan hendak meraih wajah yang sesenggukan itu tapi setengah jalan dia urungkan niatnya. Dia kembali duduk, terdiam. bathinnya kini menangis. Jika bukan karena rasa sayang yang begitu dalam, mungkin saat ini dia goncangkan tubuh anisa dan memaksanya berterus terang tentang maksud kalimat yang sepotong-sepotong tadi. Sangat lama rasa itu mengendap dan di biarkan terkekang di hati, kini ketika tak ada alasan untuk menahannya lagi rasa itu harus tergerus kembali. "Mengapa..., mengapa?"
Beberapa kali laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkan kepalanya karena sepertinya ia juga tak sanggup untuk tidak ikut meneteskan air mata.
Setelah terdiam cukup lama, akhirnya laki-laki itu memberanikan diri berjongkok kembali di depan anisa. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan mengangkat wajah anisa yang masih menunduk dan terisak, dia bertanya sekali lagi...
"An..., katakan apa yang kau inginkan? tatap aku.., lihat mataku An..., bisakah kau berterus terang tentang kalimatmu tadi?"
Anisa masih diam. Hanya menatap mata laki-laki yang dari kedua sudut matanya mulai keluar bening air mata.
"A..an..., sekali lagi ku bertanya..."
" Maukah engkau menjadi istriku? Aku tak peduli semuanya...,"
" aku datang kesini dengan cinta yang telah lama ku redam dalam jiwa.... Aku datang kepadamu dengan niat untuk membawamu kehadapan ibuku..., Aku datang kerumahmu untuk memohon izin pada orang tuamu...."
"Izinkan aku berusaha membahagiakanmu..."
Sekali lagi anisa diam. tapi kali ini dia mulai bisa mengendalikan gundah hatinya. Ditatapnya tajam mata laki-laki itu.
"Kak... maafkan aku... aku belum siap... maafkan aku.... maafkan aku" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut anisa.
Laki-laki yang berjongkok di depan anisa langsung terduduk lemas di lantai begitu mendengar jawaban anisa. Tak ada lagi yang bisa di katakannya. Hatinya terasa hancur, tapi dia tak bisa mengatakan apa-apa. Meski anisa tidak mengatakan dengan jelas alasan penolakannya tapi dia memaklumi jika dalam hati anisa ada rasa trauma yang belum bisa sembuh setelah kegagalan dan ketidak percayaannya pada sosok seorang suami.
Tanpa mengatakan apa-apa, laki laki itu berdiri dan meraih tas pakaiannya yang tergeletak disisi kursi tempat duduknya Kemudian berjalan pelan keluar.
"panggil aku An.. tahan langkahku ini..., berlarilah..., katakan kau mau jadi istriku...." jerit hati laki-laki itu Sambil berjalan dengan kepala sedikit tertunduk semakin jauh meninggalkan halaman rumah anisa. Tapi tak ada kata-kata yang terdengar seperti keinginannya.
"jika masih ada rasa sayangmu untukku...jika dalam hatimu ada keyakinan untuk bersamaku...panggil namaku sekarang...!!! sebut namaku sekarang!!! sebelum aku benar-benar pulang dan tak kan lagi datang ke kotamu..." sekali lagi Hatinya berharap. Ingin sekali Dia menengok dan membalikkan badannya, memastikan apakah anisa masih menatap dan memandanginya atau memang membiarkannya pulang dalam keadaan hancur seperti ini, tapi tak jadi dilakukannya. Dia hanya berhenti sebentar di persimpangan jalan kecil yang menuju rumah anisa itu. Kemudian dia bergegas mempercepat langkahnya dan hilang di belokkan jalan.
********
Dan setiap senja datang
aku akan selalu mengingat ini
(tulisan di lembar terakhir buku diary)
Kamis, 28 Mei 2009
mujarad 3
gugusan awan
semilir angin
lambaian pohon nyiur
berebut menerima kedatanganku
mentari yang hangat
bumi yang kupijak
dan gemericik air pancuran bambu
menyalamiku dengan syahdu
tapi tidak lama langit meredup
suasana terasa asing
...
********
Akhirnya aku tiba kembali di kota ini. kota tempat calon istriku, semoga. Dengan langkah mantap ku berjalan menuju rumah ustadz muda itu. Suasana hatiku benar-benar gembira. Didalam tas ransel yang kubawa ada sepotong pakaian pemberiannya dulu, kemeja putih dan celana lapang. Akan kupakai saat menemuinya nanti. Ada sebuah kado juga untuknya, sekuntum bunga teratai didalam toples kecil. Semoga itu bisa membuat dia mengingat kembali mimpi-mimpi kami dulu. Kubayangkan dia akan tersenyum dan menerimaku dengan hati berbunga.
Penampilanku kali ini juga berbeda dengan yang dulu, kali ini aku benar-benar merapikan diri. Tidak ada jambang, kumis dan rambut gondrong yang acak-acakan. Aku ingin terlihat rapi di depannya, Agar dia mengenaliku dan tahu bahwa aku benar-benar memperhatikan permintaanya dulu jika takdir memang mempertemukan kami. Semua ini kulakukan untuk dia, anisaku.
Setelah beristirahat sejenak di rumah pak ustadz kemudian aku diantar beliau menuju rumah anisa. Ah sepertinya ada sandungan dalam niatanku ini. Dirumah itu hanya ada orang tua dan saudara-saudaranya serta seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak kecil itu memandangku tajam, entah apa yang ada di pikiran polosnya. Andai bisa, ingin ku katakan kepadanya agar dia mengizinkan aku menjalani kehidupan bersama dia dan ibunya. Aku memang belum pernah bertemu dengan anak anisa, hanya tahu dari cerita anisa dulu. "kemana ibumu pergi nak?" aku berkata dalam hati sambil tersenyum ramah pada anak itu.
Anisa telah dua hari ini pergi dari rumah, entah kemana. Atau mungkin keluarganya menutupi keberadaannya. Aku tak berani bertanya terlalu jauh. Sebelum pergi menurut orang tuanya anisa hanya mengatakan kalau dia ada suatu keperluan ke luar kota, dan tidak lama akan kembali. Setelah menceritakan perkenalanku dulu dengan anisa dan mengutarakan niatku datang kesini, aku kemudian pamit. Keluarganya menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anisa.
Telah dua hari aku menginap di rumah pak ustadz tapi tidak juga ada kepulangan anisa. Aku mulai merasa tak enak terlalu lama tinggal dan merepotkan keluarga pak ustadz.
"Dimana kamu anisa... kenapa selalu ada aral untuk mendapatkanmu. Ya Allah bagaimana lagi aku harus melanjutkannya... tunjukkan sebuah pilihan padaku." jiwaku meradang. Aku lalui malam itu dengan merenung, melamun dan entah sebutan apalagi untuk menjelaskan perasaan dan emosi yang terangkum jadi satu.
Pagi ini setelah berpamitan pada pak ustadz dan mampir ke orang tua anisa, aku pun langsung pulang. Aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan pada ibu. Aku terbayang wajah ibu yang tersenyum mengantarkan keberangkatanku ke kota ini, kini aku tak sanggup membayangkan wajah ibu ketika aku datang nanti. Aku ingin memberikan padanya seorang anak menantu yang begitu baik, yang akan menyayanginya, sama seperti rasa sayangku pada ibu tapi hal itu belum mampu ku wujudkan.
Dengan wajah lusuh aku memasuki halaman rumah, ibu yang berada di teras langsung berjalan menyambutku.
"ada apa nak, kenapa wajahmu murung seperti ini? mana calon mantu ibu?" pertanyaan-pertanyaan ibu mengunci mulutku, aku bingung. Kulihat wajah ibu juga ikut sedih, beliau memahami kalau anaknya sedang tidak enak hati. Tapi tidak lama kemudian beliau tertawa. Aneh..., ibu belum pernah tertawa seriang ini, apalagi melihat anaknya lagi bersedih seperti saat ini. ada apa dengan ibu, apa dia menyembunyikan sesuatu?
Tidak tahan melihat wajahku yang tidak cakep semakin bertambah jelek karena melongo, ibu kemudian bercerita. Dua hari sejak kepergianku ke kota anisa, seorang wanita yang sangat cantik datang ke rumah. Dia memperkenalkan diri sebagai anisa, anisa ku. Dia menitipkan sebuah surat untukku. Tak sabar aku segera merobek amplop surat yang di sodorkan ibu.
kakak...
terima kasih karena engkau selalu menyayangiku, aku bahagia. Salam dan sembah sungkem untuk ibu.
anisa
Begitu pendek suratnya, aku baca berulang kali sampai aku hapal tiap katanya, tapi tidak ada kata-kata tentang masa depannya, tentang keinginan-keinginannya, tentang aku dan dia, tentang kami.
"dia wanita yang cantik sekali. kulitnya putih bersih, sopan dan ramah. ibu menyukainya. dia juga mengajari ibu memasak lho, katanya masakan dari negri orang sipit sana, rasanya aneh. kami tertawa bersama di dapur.... Hmmm, cukup lama dia ada disini tapi ketika ibu memintanya menginap, dia tidak mau. Dia hanya minta di tunjukkan kamarmu yang berantakan itu. Dia masuk ke dalam kamarmu sebentar. Dari balik gorden kamar, ibu mengintip apa yang dia lakukan. Dia hanya memandang fhoto dirinya yang terpajang di kamarmu, kemudian tangannya yang halus itu menyentuh dan membelai lembut sprei ranjangmu. Dia memejamkan matanya. Lalu dia keluar. ada genangan air mata dalam kelopak matanya yang bening... setelah itu dia menulis dan menitipkan surat itu."
Aku mendengarkan cerita ibu tentang kehadiran wanitaku di rumah ini. Aku kemudian bertanya, Bu katakan apa yang harus anakmu lakukan sekarang?" aku meminta nasehatnya, aku meminta doanya. Urusan jodohku harus segera terjawab.
"Berangkatlah lagi, jemput dia, katakan..., Ibu memohon kepadanya agar dia mau menjadi anak ibu. Ibu menjawab dengan wajah penuh senyum. Aku pun langsung menganggukkan kepala.
"Segera Bu, kali ini aku tidak akan pulang tanpa membawanya!!!"
semilir angin
lambaian pohon nyiur
berebut menerima kedatanganku
mentari yang hangat
bumi yang kupijak
dan gemericik air pancuran bambu
menyalamiku dengan syahdu
tapi tidak lama langit meredup
suasana terasa asing
...
********
Akhirnya aku tiba kembali di kota ini. kota tempat calon istriku, semoga. Dengan langkah mantap ku berjalan menuju rumah ustadz muda itu. Suasana hatiku benar-benar gembira. Didalam tas ransel yang kubawa ada sepotong pakaian pemberiannya dulu, kemeja putih dan celana lapang. Akan kupakai saat menemuinya nanti. Ada sebuah kado juga untuknya, sekuntum bunga teratai didalam toples kecil. Semoga itu bisa membuat dia mengingat kembali mimpi-mimpi kami dulu. Kubayangkan dia akan tersenyum dan menerimaku dengan hati berbunga.
Penampilanku kali ini juga berbeda dengan yang dulu, kali ini aku benar-benar merapikan diri. Tidak ada jambang, kumis dan rambut gondrong yang acak-acakan. Aku ingin terlihat rapi di depannya, Agar dia mengenaliku dan tahu bahwa aku benar-benar memperhatikan permintaanya dulu jika takdir memang mempertemukan kami. Semua ini kulakukan untuk dia, anisaku.
Setelah beristirahat sejenak di rumah pak ustadz kemudian aku diantar beliau menuju rumah anisa. Ah sepertinya ada sandungan dalam niatanku ini. Dirumah itu hanya ada orang tua dan saudara-saudaranya serta seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak kecil itu memandangku tajam, entah apa yang ada di pikiran polosnya. Andai bisa, ingin ku katakan kepadanya agar dia mengizinkan aku menjalani kehidupan bersama dia dan ibunya. Aku memang belum pernah bertemu dengan anak anisa, hanya tahu dari cerita anisa dulu. "kemana ibumu pergi nak?" aku berkata dalam hati sambil tersenyum ramah pada anak itu.
Anisa telah dua hari ini pergi dari rumah, entah kemana. Atau mungkin keluarganya menutupi keberadaannya. Aku tak berani bertanya terlalu jauh. Sebelum pergi menurut orang tuanya anisa hanya mengatakan kalau dia ada suatu keperluan ke luar kota, dan tidak lama akan kembali. Setelah menceritakan perkenalanku dulu dengan anisa dan mengutarakan niatku datang kesini, aku kemudian pamit. Keluarganya menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anisa.
Telah dua hari aku menginap di rumah pak ustadz tapi tidak juga ada kepulangan anisa. Aku mulai merasa tak enak terlalu lama tinggal dan merepotkan keluarga pak ustadz.
"Dimana kamu anisa... kenapa selalu ada aral untuk mendapatkanmu. Ya Allah bagaimana lagi aku harus melanjutkannya... tunjukkan sebuah pilihan padaku." jiwaku meradang. Aku lalui malam itu dengan merenung, melamun dan entah sebutan apalagi untuk menjelaskan perasaan dan emosi yang terangkum jadi satu.
Pagi ini setelah berpamitan pada pak ustadz dan mampir ke orang tua anisa, aku pun langsung pulang. Aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan pada ibu. Aku terbayang wajah ibu yang tersenyum mengantarkan keberangkatanku ke kota ini, kini aku tak sanggup membayangkan wajah ibu ketika aku datang nanti. Aku ingin memberikan padanya seorang anak menantu yang begitu baik, yang akan menyayanginya, sama seperti rasa sayangku pada ibu tapi hal itu belum mampu ku wujudkan.
Dengan wajah lusuh aku memasuki halaman rumah, ibu yang berada di teras langsung berjalan menyambutku.
"ada apa nak, kenapa wajahmu murung seperti ini? mana calon mantu ibu?" pertanyaan-pertanyaan ibu mengunci mulutku, aku bingung. Kulihat wajah ibu juga ikut sedih, beliau memahami kalau anaknya sedang tidak enak hati. Tapi tidak lama kemudian beliau tertawa. Aneh..., ibu belum pernah tertawa seriang ini, apalagi melihat anaknya lagi bersedih seperti saat ini. ada apa dengan ibu, apa dia menyembunyikan sesuatu?
Tidak tahan melihat wajahku yang tidak cakep semakin bertambah jelek karena melongo, ibu kemudian bercerita. Dua hari sejak kepergianku ke kota anisa, seorang wanita yang sangat cantik datang ke rumah. Dia memperkenalkan diri sebagai anisa, anisa ku. Dia menitipkan sebuah surat untukku. Tak sabar aku segera merobek amplop surat yang di sodorkan ibu.
kakak...
terima kasih karena engkau selalu menyayangiku, aku bahagia. Salam dan sembah sungkem untuk ibu.
anisa
Begitu pendek suratnya, aku baca berulang kali sampai aku hapal tiap katanya, tapi tidak ada kata-kata tentang masa depannya, tentang keinginan-keinginannya, tentang aku dan dia, tentang kami.
"dia wanita yang cantik sekali. kulitnya putih bersih, sopan dan ramah. ibu menyukainya. dia juga mengajari ibu memasak lho, katanya masakan dari negri orang sipit sana, rasanya aneh. kami tertawa bersama di dapur.... Hmmm, cukup lama dia ada disini tapi ketika ibu memintanya menginap, dia tidak mau. Dia hanya minta di tunjukkan kamarmu yang berantakan itu. Dia masuk ke dalam kamarmu sebentar. Dari balik gorden kamar, ibu mengintip apa yang dia lakukan. Dia hanya memandang fhoto dirinya yang terpajang di kamarmu, kemudian tangannya yang halus itu menyentuh dan membelai lembut sprei ranjangmu. Dia memejamkan matanya. Lalu dia keluar. ada genangan air mata dalam kelopak matanya yang bening... setelah itu dia menulis dan menitipkan surat itu."
Aku mendengarkan cerita ibu tentang kehadiran wanitaku di rumah ini. Aku kemudian bertanya, Bu katakan apa yang harus anakmu lakukan sekarang?" aku meminta nasehatnya, aku meminta doanya. Urusan jodohku harus segera terjawab.
"Berangkatlah lagi, jemput dia, katakan..., Ibu memohon kepadanya agar dia mau menjadi anak ibu. Ibu menjawab dengan wajah penuh senyum. Aku pun langsung menganggukkan kepala.
"Segera Bu, kali ini aku tidak akan pulang tanpa membawanya!!!"
mujarad 2
siang terik di tengah gurun dua sosok manusia terlihat saling berpelukan. Aku mendekatinya. Samar kulihat karena debu beterbangan dengan kencang. seorang wanita berjongkok memeluk bocah kecil, berusaha melindunginya dari terjangan debu yang kencang. Dia menatapku. Bibirnya kering, wajahnya pucat dengan rambut riap tak teratur. "Dia..anisa..., anisaaa...." aku berteriak memanggil sebuah nama.
"Hei..bangun..bangun...., kamu mimpi. kamu menangis? nyebut..nyebut..., ada apa nak, mimpi apa? Ibu membangunkanku dari mimpi yang menakutkan itu. Kutarik nafas dalam-dalam, kuterima segelas air putih yang di sodorkan ibu. Jantungku kembali tenang. Ada apa disana, ada apa dengan keadaan wanita yang kusayang itu? Aku tak bisa menduga arti mimpiku. Malam itu aku tidak sanggup memicingkan mata lagi. Kusebut namanya berkali-kali. Kudoakan keselamatan dan memohon perlindungan kepada Allah untuknya.
Kutulis semua keadaan perasaanku di buku diary. Setiap kali mengingat wanita itu aku hanya bisa berdoa, dan berdoa. Memasrahkan dan memohon ampun atas hatiku yang tak sanggup menghilangkan perasaan cinta ini. "Ampuni hamba yang selalu dzholim ini ya Allah..."
Beberapa kali ibu mengingatkanku untuk segera mencari pendamping hidup, bahkan beliau menyodorkan beberapa nama, bermaksud menjodohkanku, tapi aku tak bisa menerimanya. Hatiku tak bisa mengingkari apa yang aku mimpikan meskipun itu sebenarnya suatu dosa dan hanya bertepuk sebelah tangan.
**********
Tahun berganti, umurku semakin tua dan mulai menjadi perbincangan tetangga sebagai orang tidak laku jodoh. Aku tak begitu memikirkannya. Sebenarnya akupun berusaha menghapus wanita itu dari hatiku, tapi setiap kali ku hadirkan sosok lain dalam hatiku, jiwaku menolaknya.
Suatu malam, selesai melaksanakan ibadah sunnah, aku merenung. Aku berusaha membuat keputusan, kali ini aku harus bisa. Entah darimana mulai memikirkannya, saat itu tiba-tiba melintas sebuah pilihan. Aku akan datangi wanita itu. Anisa, aku akan mencarimu, memastikan engkau bahagia, setelah itu aku pun akan ikhlas.
Pagi hari selesai melaksanakan sholat subuh, aku berkemas. Dua potong pakaian, sarung, dan beberapa perlengkapan lain kumasukan pada tas ranselku. Aku kemudian meminta izin ke ibu. Dengan besar hati ibu mengizinkan pencarianku yang tidak jelas arahnya itu.
Bermodalkan uang tabungan yang ada, aku menggunakan bus umum menuju kota anisa. Alamat yang pernah dia berikan padaku sbenarnya tidak lengkap, tapi kemantapan hatiku mengalahkan semuanya. Aku harus dan pasti menemukannya. Gumamku meyakinkan diri sendiri.
********
Beberapa tempat telah kudatangi, alamat dan nama tempat yang mirip atau memiliki kesamaan dengan cerita yang dulu pernah anisa katakan padaku telah ku jelajahi, tapi tak kutemukan sosoknya. Aku mulai putus asa. Uang bekalku sudah sangat tipis.
Hari masih pagi ketika ku beristirahat di sebuah masjid. Sambil beristirahat, ku cuci pakaian yang kotor. Wajahku pun semakin dekil, rambut mulai kusut dan tubuh semakin kurus karena mengurangi jatah makanku sendiri agar uang bekal ini masih cukup untuk pulang nanti.
Seharian aku dimasjid ini. Kuputuskan selesai sholat isya ini aku akan pulang kembali. Adzan isya baru saja berkumandang. Beberapa orang tampak menuju masjid. Aku tersenyum sendiri melihat beberapa kekeluarga mengajak anak-anaknya sholat berjamaah di masjid ini. Saat hendak menuju tempat wudhlu dalam cahaya lampu yang tidak terang aku berpapasan dengan seorang perempuan muda menggandeng anaknya memasuki serambi depan masjid. Wajahnya mirip sekali dengan anisa. Anisa, ...diakah anisa ku itu? Hatiku berdegup kencang. Aku tak berani bertanya, ku biarkan wanita dan anaknya itu berlalu melewatiku.
Selesai sholat isya berjamaah aku bergegas menuju serambi masjid, ku tunggu dia dan anaknya pulang. Akhirnya wanita yang sangat mirip dengan anisa itu memang keluar. Dia keluar paling akhir dari dalam masjid. Seperti tadi aku hanya bisa memandangnya. Sementara wania itu tampak acuh saja, mungkin tidak merasakan ada orang yang memperhatikannya.
Tiba-tiba suara seseorang menegurku sambil menepuk pundakku.
" saudaraku..., tidak baik melihat wanita dengan pandangan lama seperti itu."
Aku menoleh dan membalikkan tubuhku. Didepanku berdiri laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dariku. Dia adalah imam sholat isya tadi. Aku mencoba tersenyum, menghilangkan rasa kaget tadi.
"ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng dan tersenyum. Tidak berani menyakan siapa wanita tadi. Aku pun diajak berbincang sambil dudk di teras masjid. Setelah itu bapak yang baik hati ini mengajakku pulang ke rumahnya. Aku dipersilahkan menginap. Sebelum tidur kami sempat mengobrol, dan akhirnya aku mengaku jujur padanya. Kuceritakan tujuan perjalanan ini. ternyata wanita tadi memang benar anisa adanya. Dia tinggal bersama anak dan suaminya, tak jauh dari rumah pak ustadz muda ini. Aku di nasehati agar mengubur rasa cintaku kepadanya dan di minta agar besok segera pulang, meninggalkan tempat ini.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku terbangun dari tidurku yang tidak bisa pulas. Aku beranjak bangun menuju kamar mandi yang berad di sudut kamar. Aku ingin menunaikan ibadah sunnah seperti biasa. Selesai mengerjakan sholat malam, dengan menahan air mata yang mulai terasa memadati kelopak mata, aku berdoa untuk anisa dan keluarga kecilnya. Suaraku menjadi serak dan sesekali ada tarikan nafas.
"Ya Allah, berikan kebahagiaan untuk anisa dan keluarganya, ...jauhkan dia dan keluarganya dari fitnah dan musibah, ...dan jadikan aku ikhlas pada setiap kehendakMU, ...Ampuni juga hamba yang selama ini telah dhzolim pada diri hamba sendiri..." Kemudian kusebut asmaNya berulang kali sampai jiwaku merasa tenang kembali .
Di sebelah kamar yang ku tempati ternyata pak ustadz muda juga sedang menunaikan ibadah sepertiga malam, dan dia mendengar semua rintihan doa-doaku. Aku tidak tahu jika dia ikut mengamini setiap doa yang ku panjatkan.
Selepas sholat subuh berjamaah di masjid, aku memohon diri, pamit pada ustadz muda yang baik hati itu. Sebelumnya pak ustadz muda itu meminta alamatku entah untuk apa.
************
Setahun setelah kepergianku ke kota anisa dan menemukannya, aku masih belum juga di karunia pendamping hidup. Aku mulai malas untuk mencari, waktuku kuhabiskan dengan bekerja segiat-giatnya membangun usaha di bidang pertanian. Aku merasakan kebahagiaan meski setiap malam menjelang tidur tak bisa ku pungkiri bahawa aku membutuhkan seorang istri untuk melengkapi kebahagiaan hidupku.
sore itu sepulang dari perkebunan, aku duduk di teras melepas lelah. Ibuku menghampiri, di tangannya ada sepucuk surat yang di sodorkan kepadaku.
"ada surat dari pak pos tadi siang, ibu gak kenal pengirimnya. ini..." aku menerima surat yang di berikan ibu. tertulis pengirimnya nama seorang laki-laki.
kepada saudaraku
semoga senantiasa engkau dalam keadaan hati dan jiwa yang berbahagia selalu. Aku akan mengabarkan kepadamu sebuah berita. Entah ini menjadi berita bahagia untukmu atau bukan, tapi hatiku mendorong tanganku untuk menulis dan memberitahukannya kepadamu.
Aku tak perlu bercerita banyak, karena ku yakin engkau tahu asal dan alasan dari cerita yang ingin ku sampaikan. Empat bulan lalu anita bercerai. Kita tidak tahu keinginan dan kehendak serta takdir Allah, kabar ini aku sampaikan kepadamu dengan tujuan jika engkau memang belum menemukan belahan jiwa, pendamping hidupmu, segeralah engkau datang kemari.
semoga Allah mengampuni kita dan selalu menunjukkan pilihan terbaik untuk hidup kita.
ku tutup surat itu. Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau bersedih.
"bu... sepertinya, jodohku segera datang..., tapi aku mohon ibu bersedia menerima keadaan mantu ibu itu dengan kedua tangan terbuka"
ibuku tersenyum. Dia malah balik bertanya, "kapan kau akan membawanya ke hadapan ibu? oh ya nak, ibu sudah tahu wanitamu. ketika engkau pergi, ibu membaca diarymu. Maafkan ibu ya..., ibu mernyayangi kamu. Ibu tunggu calon mantu ibu dengan kedua tangan akan ibu peluk dia seperti ibu memelukmu..." ibu tersenyum dan masuk kedalam rumah. Tinggal aku yang bengong. Bahagia dan tak percaya.
"Hei..bangun..bangun...., kamu mimpi. kamu menangis? nyebut..nyebut..., ada apa nak, mimpi apa? Ibu membangunkanku dari mimpi yang menakutkan itu. Kutarik nafas dalam-dalam, kuterima segelas air putih yang di sodorkan ibu. Jantungku kembali tenang. Ada apa disana, ada apa dengan keadaan wanita yang kusayang itu? Aku tak bisa menduga arti mimpiku. Malam itu aku tidak sanggup memicingkan mata lagi. Kusebut namanya berkali-kali. Kudoakan keselamatan dan memohon perlindungan kepada Allah untuknya.
Kutulis semua keadaan perasaanku di buku diary. Setiap kali mengingat wanita itu aku hanya bisa berdoa, dan berdoa. Memasrahkan dan memohon ampun atas hatiku yang tak sanggup menghilangkan perasaan cinta ini. "Ampuni hamba yang selalu dzholim ini ya Allah..."
Beberapa kali ibu mengingatkanku untuk segera mencari pendamping hidup, bahkan beliau menyodorkan beberapa nama, bermaksud menjodohkanku, tapi aku tak bisa menerimanya. Hatiku tak bisa mengingkari apa yang aku mimpikan meskipun itu sebenarnya suatu dosa dan hanya bertepuk sebelah tangan.
**********
Tahun berganti, umurku semakin tua dan mulai menjadi perbincangan tetangga sebagai orang tidak laku jodoh. Aku tak begitu memikirkannya. Sebenarnya akupun berusaha menghapus wanita itu dari hatiku, tapi setiap kali ku hadirkan sosok lain dalam hatiku, jiwaku menolaknya.
Suatu malam, selesai melaksanakan ibadah sunnah, aku merenung. Aku berusaha membuat keputusan, kali ini aku harus bisa. Entah darimana mulai memikirkannya, saat itu tiba-tiba melintas sebuah pilihan. Aku akan datangi wanita itu. Anisa, aku akan mencarimu, memastikan engkau bahagia, setelah itu aku pun akan ikhlas.
Pagi hari selesai melaksanakan sholat subuh, aku berkemas. Dua potong pakaian, sarung, dan beberapa perlengkapan lain kumasukan pada tas ranselku. Aku kemudian meminta izin ke ibu. Dengan besar hati ibu mengizinkan pencarianku yang tidak jelas arahnya itu.
Bermodalkan uang tabungan yang ada, aku menggunakan bus umum menuju kota anisa. Alamat yang pernah dia berikan padaku sbenarnya tidak lengkap, tapi kemantapan hatiku mengalahkan semuanya. Aku harus dan pasti menemukannya. Gumamku meyakinkan diri sendiri.
********
Beberapa tempat telah kudatangi, alamat dan nama tempat yang mirip atau memiliki kesamaan dengan cerita yang dulu pernah anisa katakan padaku telah ku jelajahi, tapi tak kutemukan sosoknya. Aku mulai putus asa. Uang bekalku sudah sangat tipis.
Hari masih pagi ketika ku beristirahat di sebuah masjid. Sambil beristirahat, ku cuci pakaian yang kotor. Wajahku pun semakin dekil, rambut mulai kusut dan tubuh semakin kurus karena mengurangi jatah makanku sendiri agar uang bekal ini masih cukup untuk pulang nanti.
Seharian aku dimasjid ini. Kuputuskan selesai sholat isya ini aku akan pulang kembali. Adzan isya baru saja berkumandang. Beberapa orang tampak menuju masjid. Aku tersenyum sendiri melihat beberapa kekeluarga mengajak anak-anaknya sholat berjamaah di masjid ini. Saat hendak menuju tempat wudhlu dalam cahaya lampu yang tidak terang aku berpapasan dengan seorang perempuan muda menggandeng anaknya memasuki serambi depan masjid. Wajahnya mirip sekali dengan anisa. Anisa, ...diakah anisa ku itu? Hatiku berdegup kencang. Aku tak berani bertanya, ku biarkan wanita dan anaknya itu berlalu melewatiku.
Selesai sholat isya berjamaah aku bergegas menuju serambi masjid, ku tunggu dia dan anaknya pulang. Akhirnya wanita yang sangat mirip dengan anisa itu memang keluar. Dia keluar paling akhir dari dalam masjid. Seperti tadi aku hanya bisa memandangnya. Sementara wania itu tampak acuh saja, mungkin tidak merasakan ada orang yang memperhatikannya.
Tiba-tiba suara seseorang menegurku sambil menepuk pundakku.
" saudaraku..., tidak baik melihat wanita dengan pandangan lama seperti itu."
Aku menoleh dan membalikkan tubuhku. Didepanku berdiri laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dariku. Dia adalah imam sholat isya tadi. Aku mencoba tersenyum, menghilangkan rasa kaget tadi.
"ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng dan tersenyum. Tidak berani menyakan siapa wanita tadi. Aku pun diajak berbincang sambil dudk di teras masjid. Setelah itu bapak yang baik hati ini mengajakku pulang ke rumahnya. Aku dipersilahkan menginap. Sebelum tidur kami sempat mengobrol, dan akhirnya aku mengaku jujur padanya. Kuceritakan tujuan perjalanan ini. ternyata wanita tadi memang benar anisa adanya. Dia tinggal bersama anak dan suaminya, tak jauh dari rumah pak ustadz muda ini. Aku di nasehati agar mengubur rasa cintaku kepadanya dan di minta agar besok segera pulang, meninggalkan tempat ini.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku terbangun dari tidurku yang tidak bisa pulas. Aku beranjak bangun menuju kamar mandi yang berad di sudut kamar. Aku ingin menunaikan ibadah sunnah seperti biasa. Selesai mengerjakan sholat malam, dengan menahan air mata yang mulai terasa memadati kelopak mata, aku berdoa untuk anisa dan keluarga kecilnya. Suaraku menjadi serak dan sesekali ada tarikan nafas.
"Ya Allah, berikan kebahagiaan untuk anisa dan keluarganya, ...jauhkan dia dan keluarganya dari fitnah dan musibah, ...dan jadikan aku ikhlas pada setiap kehendakMU, ...Ampuni juga hamba yang selama ini telah dhzolim pada diri hamba sendiri..." Kemudian kusebut asmaNya berulang kali sampai jiwaku merasa tenang kembali .
Di sebelah kamar yang ku tempati ternyata pak ustadz muda juga sedang menunaikan ibadah sepertiga malam, dan dia mendengar semua rintihan doa-doaku. Aku tidak tahu jika dia ikut mengamini setiap doa yang ku panjatkan.
Selepas sholat subuh berjamaah di masjid, aku memohon diri, pamit pada ustadz muda yang baik hati itu. Sebelumnya pak ustadz muda itu meminta alamatku entah untuk apa.
************
Setahun setelah kepergianku ke kota anisa dan menemukannya, aku masih belum juga di karunia pendamping hidup. Aku mulai malas untuk mencari, waktuku kuhabiskan dengan bekerja segiat-giatnya membangun usaha di bidang pertanian. Aku merasakan kebahagiaan meski setiap malam menjelang tidur tak bisa ku pungkiri bahawa aku membutuhkan seorang istri untuk melengkapi kebahagiaan hidupku.
sore itu sepulang dari perkebunan, aku duduk di teras melepas lelah. Ibuku menghampiri, di tangannya ada sepucuk surat yang di sodorkan kepadaku.
"ada surat dari pak pos tadi siang, ibu gak kenal pengirimnya. ini..." aku menerima surat yang di berikan ibu. tertulis pengirimnya nama seorang laki-laki.
kepada saudaraku
semoga senantiasa engkau dalam keadaan hati dan jiwa yang berbahagia selalu. Aku akan mengabarkan kepadamu sebuah berita. Entah ini menjadi berita bahagia untukmu atau bukan, tapi hatiku mendorong tanganku untuk menulis dan memberitahukannya kepadamu.
Aku tak perlu bercerita banyak, karena ku yakin engkau tahu asal dan alasan dari cerita yang ingin ku sampaikan. Empat bulan lalu anita bercerai. Kita tidak tahu keinginan dan kehendak serta takdir Allah, kabar ini aku sampaikan kepadamu dengan tujuan jika engkau memang belum menemukan belahan jiwa, pendamping hidupmu, segeralah engkau datang kemari.
semoga Allah mengampuni kita dan selalu menunjukkan pilihan terbaik untuk hidup kita.
ku tutup surat itu. Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau bersedih.
"bu... sepertinya, jodohku segera datang..., tapi aku mohon ibu bersedia menerima keadaan mantu ibu itu dengan kedua tangan terbuka"
ibuku tersenyum. Dia malah balik bertanya, "kapan kau akan membawanya ke hadapan ibu? oh ya nak, ibu sudah tahu wanitamu. ketika engkau pergi, ibu membaca diarymu. Maafkan ibu ya..., ibu mernyayangi kamu. Ibu tunggu calon mantu ibu dengan kedua tangan akan ibu peluk dia seperti ibu memelukmu..." ibu tersenyum dan masuk kedalam rumah. Tinggal aku yang bengong. Bahagia dan tak percaya.
Selasa, 26 Mei 2009
mujarad
Jejeran pohon kelapa itu tampak rapi berbaris. Ujung-ujung pelepah dan daunnya bergoyang halus di elus angin pagi yang sejuk. Anisa duduk di serambi rumah orang tuanya. Matanya memandang lepas melewati pucuk-pucuk tertinggi daun pohon kelapa. Menatap lepas ke langit yang berwarna biru pucat dengan gumpalan-gumpalan kecil awan. Hari begitu cerah, secerah harapan yang terpatri dalam otaknya. Anisa tersenyum penuh arti.
Tadi pagi selepas sarapan bersama suami dan buah hatinya yang masih kecil, anisa telah membulatkan tekad untuk merantau ke negri yang belum pernah ada dalam bayangan pikiran sebelumnya. Negri yang kini menjadi primadona untuk merubah nasib seperti yang telah di buktikan beberapa sahabatnya.
Anisa, wanita dengan wajah yang oriental dengan mata sayu dan agak sipit, mirip wajah cantik melankolis penyanyi asal china. Anisa kecil adalah seorang anak yang tidak begitu mengenal dunia luar. Waktunya dihabiskan untuk membantu orang tuanya dan mengurusi adik-adiknya. Meski begitu anisa kecil adalah anak yang periang, pandai bergaul dan pintar.
.*****
Anisa baru saja selesai menunaikan ibadah di sepertiga akhir malam. Matanya yang sayu sebenarnya telah lelah tapi kebersihan hatinya menggerakkan tubuh yang letih itu untuk bangun di setiap akhir malam, beribadah dan mendoakan mereka, orang-orang yang datang dalam takdir kehidupannya. Dengan luwes di rapikannya mukenah dan sajadah kemudian di letakkan disisi pembaringannya.
Di rebahkannya tubuh yang akhir-akhir ini sedikit kurus karena terlalu dipaksakan untuk berpikir dan bekerja. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang gelap, segelap bayangan masa depannya sekarang. Suaminya telah berkali-kali merusak janji dan kepercayaannya. melupakan apa yang dulu pernah di ucapkan ketika dirinya akan berangkat ke negri ini. Saling menjaga dan menyayangi di kala dekat maupun jauh. Begitulah kalimat yang dulu dia dan suaminya ucapkan sesaat sebelum perjalanan panjang mengantarkan anisa ke negri ini. Bukankah apa yang sekarang di lakukannya adalah untuk kebahagiaaan dan masa depan keluarga kecilnya?
Terlalu sakit setiap kali mengingat pengkhianatan ini, belum lagi kondisi orang tua dan adik-adiknya yang tak akur dan selalu saling menyalahkan membuatnya semakin tertekan. Anisa menarik napas, matanya masih memandang kosong dalam gelap seolah menghitung atau mencari sesuatu. Mungkin sebuah jawaban. Tiba-tiba dari sudut-sudut matanya berjatuhan buliran-buliran bening dan dingin, merembes membasahi bantal. Anisa tertidur dalam keadaan menangis.
Hari hari dirantau di lewatinya dengan bekerja dalam kesedihan, hingga seorang laki-laki berpenampilan meyakinkan menawarkan cinta kepadanya. Anisa yang sedang goyah jiwanya hanyut dalam buaian cinta yang telah lama di rindukan. Tutur kata yang memikat dan sosoknya yang di pandang berwibawa dari lelaki itu membuatnya terlena. Di berikannya cinta dan kasih sayang yang telah lama mengendap. Hari-harinya kini kembali bersemi, sajak-sajak romantis lahir dari bibirnya yang mungil.
telah datang padaku
wajah rupawan dengan gaya jalan seorang pangeran
ku tak mampu lagi bersembunyi sendiri
ketika ia menawarkan kepadaku kedamaian
aku larut dalam asmara yang memabukkan itu
di hapuskannya luka-luka di hatiku
tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi
dia, sang pahlawanku
memberi luka baru
lebih sakit dari masa laluku
Lelaki yang di pujanya mengkhianatinya dengan cara yang hampir sama dengan perbuatan suaminya dulu. Anisa merasakan dunia begitu kejam pada dirinya. Sebenarnya Sang maha pemberi musibah begitu menyayanginya, hingga tidak di biarkan anisa tertipu kebahagiaan semu. Anisa mulai menyadari kesalahannya.
Hari-hari penuh kesibukan kembali menemani waktunya, mengajaknya berlari. Dengan terseok-seok anisa mengikuti kemauan sang waktu. Dia tidak ingin berhenti di sini. Sebuah senjata kini di milikinya, senjata yang di letakkan dalam hati. Senjata yang tercipta dari rentetan ujian dan gelombang kedukaan. Kesabaran.
Terbuka kembali mata hatinya dan di mulai lagi perjuangan meretas mimpi yang sempat terabaikan itu. Sekali lagi sang Maha pemberi ujian membuktikan kasihnya. Di berikan pada anisa sebuah keindahan baru. Seorang laki-laki datang memperkenalkan diri. Mengaku tulus mencintainya. Siap mengorbankan jiwa demi kebahagiaannya. Sekali lagi anisa menemukan cinta. Kali ini cinta itu lain dari cinta yang pernah di kenalnya. Anisa terpikat pada laki-laki yang dengan cara yang tidak biasa ini menawarkan ketenangan seperti yang dia idamkan. Sajak dan puisi indah kembali mewarnai hari-hari dalam hidupnya.
seorang laki-laki mengundangku ke taman
taman tempat para dewa dewi merangkai warna pelangi
aku penuhi undangannya
dengannya ku rajut kembali asa-asa yang terserak
sampai nurani berbisik mengajakku pulang
ku tulis di batu taman
untuk yang telah rela mencuri angin surga
aku begitu terbuai dalam keteduhan kelembutanmu
aku ingin berlama-lama di sini
tapi aku harus kembali pulang
aku belum layak ada di tempat ini
Laki-laki yang mengaku menyayangi anisa itu hanya bisa berdiri mematung. Membiarkan anisa berlalu. Dia ingin mengajak anisa ikut bersamanya, tapi dia juga tak berani menentang hukum sang Khalik. Sebuah sajak singkat keluar di sela redam tangisnya.
hai perempuan yang berkerudung senja
bilamana waktu mempertemukan kita kembali
meski hari begitu malam
aku tetap mengenalmu
karna aku selalu melihat mu
dengan mata hatiku
aku tetap mengenalimu
Anisa membalikkan tubuhnya, dia tersenyum. Dia membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan laki-laki yang masih tegak menatapnya.
*********
Musim semi kembali datang. Anisa menghirup udara pagi itu dengan kelegaan. Kini dia mengerti jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri. Angin yang menggerakkan daun atau daun yang melahirkan angin, tak lagi di pedulikannya. Biarlah semua menentukan pilihan dan bertanggung jawab pada pilihannya. Seperti yang sedang di lakukannya, Sekarang.
Tadi pagi selepas sarapan bersama suami dan buah hatinya yang masih kecil, anisa telah membulatkan tekad untuk merantau ke negri yang belum pernah ada dalam bayangan pikiran sebelumnya. Negri yang kini menjadi primadona untuk merubah nasib seperti yang telah di buktikan beberapa sahabatnya.
Anisa, wanita dengan wajah yang oriental dengan mata sayu dan agak sipit, mirip wajah cantik melankolis penyanyi asal china. Anisa kecil adalah seorang anak yang tidak begitu mengenal dunia luar. Waktunya dihabiskan untuk membantu orang tuanya dan mengurusi adik-adiknya. Meski begitu anisa kecil adalah anak yang periang, pandai bergaul dan pintar.
.*****
Anisa baru saja selesai menunaikan ibadah di sepertiga akhir malam. Matanya yang sayu sebenarnya telah lelah tapi kebersihan hatinya menggerakkan tubuh yang letih itu untuk bangun di setiap akhir malam, beribadah dan mendoakan mereka, orang-orang yang datang dalam takdir kehidupannya. Dengan luwes di rapikannya mukenah dan sajadah kemudian di letakkan disisi pembaringannya.
Di rebahkannya tubuh yang akhir-akhir ini sedikit kurus karena terlalu dipaksakan untuk berpikir dan bekerja. Matanya menerawang menatap langit-langit kamar yang gelap, segelap bayangan masa depannya sekarang. Suaminya telah berkali-kali merusak janji dan kepercayaannya. melupakan apa yang dulu pernah di ucapkan ketika dirinya akan berangkat ke negri ini. Saling menjaga dan menyayangi di kala dekat maupun jauh. Begitulah kalimat yang dulu dia dan suaminya ucapkan sesaat sebelum perjalanan panjang mengantarkan anisa ke negri ini. Bukankah apa yang sekarang di lakukannya adalah untuk kebahagiaaan dan masa depan keluarga kecilnya?
Terlalu sakit setiap kali mengingat pengkhianatan ini, belum lagi kondisi orang tua dan adik-adiknya yang tak akur dan selalu saling menyalahkan membuatnya semakin tertekan. Anisa menarik napas, matanya masih memandang kosong dalam gelap seolah menghitung atau mencari sesuatu. Mungkin sebuah jawaban. Tiba-tiba dari sudut-sudut matanya berjatuhan buliran-buliran bening dan dingin, merembes membasahi bantal. Anisa tertidur dalam keadaan menangis.
Hari hari dirantau di lewatinya dengan bekerja dalam kesedihan, hingga seorang laki-laki berpenampilan meyakinkan menawarkan cinta kepadanya. Anisa yang sedang goyah jiwanya hanyut dalam buaian cinta yang telah lama di rindukan. Tutur kata yang memikat dan sosoknya yang di pandang berwibawa dari lelaki itu membuatnya terlena. Di berikannya cinta dan kasih sayang yang telah lama mengendap. Hari-harinya kini kembali bersemi, sajak-sajak romantis lahir dari bibirnya yang mungil.
telah datang padaku
wajah rupawan dengan gaya jalan seorang pangeran
ku tak mampu lagi bersembunyi sendiri
ketika ia menawarkan kepadaku kedamaian
aku larut dalam asmara yang memabukkan itu
di hapuskannya luka-luka di hatiku
tapi ternyata itu hanya sebuah ilusi
dia, sang pahlawanku
memberi luka baru
lebih sakit dari masa laluku
Lelaki yang di pujanya mengkhianatinya dengan cara yang hampir sama dengan perbuatan suaminya dulu. Anisa merasakan dunia begitu kejam pada dirinya. Sebenarnya Sang maha pemberi musibah begitu menyayanginya, hingga tidak di biarkan anisa tertipu kebahagiaan semu. Anisa mulai menyadari kesalahannya.
Hari-hari penuh kesibukan kembali menemani waktunya, mengajaknya berlari. Dengan terseok-seok anisa mengikuti kemauan sang waktu. Dia tidak ingin berhenti di sini. Sebuah senjata kini di milikinya, senjata yang di letakkan dalam hati. Senjata yang tercipta dari rentetan ujian dan gelombang kedukaan. Kesabaran.
Terbuka kembali mata hatinya dan di mulai lagi perjuangan meretas mimpi yang sempat terabaikan itu. Sekali lagi sang Maha pemberi ujian membuktikan kasihnya. Di berikan pada anisa sebuah keindahan baru. Seorang laki-laki datang memperkenalkan diri. Mengaku tulus mencintainya. Siap mengorbankan jiwa demi kebahagiaannya. Sekali lagi anisa menemukan cinta. Kali ini cinta itu lain dari cinta yang pernah di kenalnya. Anisa terpikat pada laki-laki yang dengan cara yang tidak biasa ini menawarkan ketenangan seperti yang dia idamkan. Sajak dan puisi indah kembali mewarnai hari-hari dalam hidupnya.
seorang laki-laki mengundangku ke taman
taman tempat para dewa dewi merangkai warna pelangi
aku penuhi undangannya
dengannya ku rajut kembali asa-asa yang terserak
sampai nurani berbisik mengajakku pulang
ku tulis di batu taman
untuk yang telah rela mencuri angin surga
aku begitu terbuai dalam keteduhan kelembutanmu
aku ingin berlama-lama di sini
tapi aku harus kembali pulang
aku belum layak ada di tempat ini
Laki-laki yang mengaku menyayangi anisa itu hanya bisa berdiri mematung. Membiarkan anisa berlalu. Dia ingin mengajak anisa ikut bersamanya, tapi dia juga tak berani menentang hukum sang Khalik. Sebuah sajak singkat keluar di sela redam tangisnya.
hai perempuan yang berkerudung senja
bilamana waktu mempertemukan kita kembali
meski hari begitu malam
aku tetap mengenalmu
karna aku selalu melihat mu
dengan mata hatiku
aku tetap mengenalimu
Anisa membalikkan tubuhnya, dia tersenyum. Dia membungkukkan tubuhnya kemudian berlalu meninggalkan laki-laki yang masih tegak menatapnya.
*********
Musim semi kembali datang. Anisa menghirup udara pagi itu dengan kelegaan. Kini dia mengerti jawaban-jawaban dari pertanyaannya sendiri. Angin yang menggerakkan daun atau daun yang melahirkan angin, tak lagi di pedulikannya. Biarlah semua menentukan pilihan dan bertanggung jawab pada pilihannya. Seperti yang sedang di lakukannya, Sekarang.
Langganan:
Postingan (Atom)
