Rabu, 13 Mei 2009

Di ambang penantian

Suasana di lereng gunung itu terasa mati setelah longsor besar terjadi tiga hari lalu. Tedas dan wahid alias gusgus masih berbincang menunggu kantuk. Sesekali mereka bergantian menambah kayu untuk perapian di depannya.

"apa yang akan kau kerjakan setelah ini? ...sudah sepuluh tahun kamu aktif dalam program kemanusiaan, ...seharusnya kamu juga mikir kepentingan diri sendiri.."

"hmm...,entahlah..., ga tahu lah gus. ...aku hanya ingin punya anak."

punya anak ya berarti punya istri dong! hmm... kau masih mengingatnya...?" Gusgus bertanya sambil memperhatikan roman muka Tedas yang sedikit berubah.

"ya...! ...awalnya setiap saat aku mengingatnya, kemudian setiap jam aku mengingatnya, selanjutnya aku mengingatnya tiga kali dalam setahun..., setiap kali mengingatnya dadaku seperti tergilas roda". Sambil tersenyum aku menatap langit yang temaram.

"tapi kau tidak mungkin memilikinya..."

"aku tahu..., makanya aku hanya ingin punya anak entah siapapun istriku nanti."

"itu artinya engkau tidak mencintai istrimu?

"hihihi.. aku tersenyum membuang rasa yang tiba-tiba datang. "aku akan memperlakukan istriku sebaik mungkin..., dia ibu dari anakku".

"tapi tetap saja itu penderitaan secara tidak langsung untuk istrimu?"

"...ah sudahlah gus..., kau tahu aku susah berubah untuk hal macam ini. jika aku bisa melupakannya tentu selama sepuluh tahun ini hidupku ga nyasar-nyasar kayak gini... tapi aku tetap bersyukur dengan keadaaanku. Dengan keadaan seperti ini aku bisa mengabdi pada orang-orang yang butuh bantuan.."

"sebagai sahabatmu aku hanya bisa mendoakan..., semoga gusti Allah mempertemukan kamu dengan dia, wanita istimewamu..., yuk tidur dah larut mlm nih."

Tedas menarik nafas dalam-dalam dan melepasnya perlahan. tidak ada kata yang keluar dari mulutnya,dia diam, mungkin mengulang doa yg tadi diucapkan gusgus secara sepontan, sambil beringsut mematikan api di perapian. Sebelum masuk ke tenda induk, sekali lagi tedas menghela nafas...

*******

Sudah lebih dari seminggu kami menjadi sukarelawan yang tergabung dalam organisasi yang kudirikan sepuluh tahun lalu, sebulan setelah perempuan impianku menghilang. Dulu saat kudirikan organisasi ini keinginanku cuma satu melupakan segala kenangan tentang dia. Tiap kali ada panggilan kemanusiaan aku berharap aku mati dalam menjalankan tugas, biar bisa kutunggu dia di tempatku yang baru nanti. Tak ada yang tahu tentang hal ini, bahkan sampai hari ini termasuk sahabat terbaikku.

hei jo...." panggilan sahabatku menggugah kesadaranku dari menyelami masa lalu,teman-teman karib memanggilku dengan sebutan ijo, nama sandi sewaktu aktif di organisasi pecinta alam dulu.jika bukan karena obrolan semalam dengan si wahid alias gusgus, pagi ini pasti seperti juga pagi yang lainnya, sibuk dengan segala urusan rehabilitasi pasca bencana.

"pagi-pagi ko' udah ngelamun jo..., tahu ga disini dulunya daerah angker lho."

"halakh man.. man..., siapa yang melamun... aku lagi mikir program selanjutnya nih..., program yang lagi jalan rasanya lambat banget perubahannya". Aku mencoba menghilangkan bayangan masa laluku dengan menceritakan kurangnya keterlibatan pihak pemda dalam program ini.

"Oh ya... ada apa kamu manggil saya..? gimana perkembangan penggalian mayat yang masih tertimbun longsor?"

"itulah jo... penggalian terpaksa di hentikan karena kondisi medan yang penuh resiko. di khawatirkan ada longsor susulan jika kita menggunakan alat berat lagi, getaran mesin dan bobot alat-alat berat itu di takutkan bisa menjadi penyebab tanah diatasnya kembali longsor".

"terus..." aku mulai berpikir alernatif lain sembari mendengarkan penjelasan firman, penggalian seharusnya bisa selesai dua tiga hari ini kemudian seluruh tenaga sukarelawan bisa di kerahkan membantu membuat kembali sarana dan prasarana lain.

"kita menunggu keputusan ketua Bakornas sebagai penanggung jawab di lapangan, sebaiknya kamu ikut ke lokasi sekarang".

"hmm..., ..kita kesana sekarang!" aku langsung menjawab dan mengajak firman agar segera mengantarkan aku ketempat penggalian. Dalam situasi darurat seperti ini waktu benar-benar berharga, sayangnya pemerintah sebagai pihak yang paling berwenang mengatasi ini terkadang seperti terlambat dalam meresponnya.

**********

Penggalian masih berlangsung ketika kami sampai, hanya alat-alat berat tidak digunakan dan masih berada di sekitar area penggalian. Dengan susah payah kami menuju ke atas tebing, mencoba melihat kebawah dan menghitung kemungkinan juga cara alternatif meneruskan penggalian.

Dari atas memang terlihat semuanya, bagaimana longsor telah menghancurkan pemukiman di lereng ini. Bahkan tanah yang kupijak terasa bergerak tanda bahaya masih benar-benar dekat dengan kawasan ini.

Saat masih mengawasi dari pinggir tebing entah karena tidak tahu atau memang ada penggalian yang memaksa di hidupkannya alat berat, tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari atas ku dan aku tak sanggup menghindar dari amblas tanah yang kupijak dan runtuhan tanah juga pohon dari atasku...., ya Allah... seruku terbeliak dan tak mampu menghindari terjangan dan tarikan kebawah sekaligus.

*******

Setelah longsor susulan dirasa tidak terjadi lagi, teman-teman tedas bersama sukarelawan yang lain segera bertindak cepat melakukan penggalian. Firman dan wahid dibantu beberapa warga mulai menggali tempat dimana tedas jatuh dan tertimbun. Dengan hati-hati mereka mengangkat tubuh tedas ke permukaan. tubuh itu masih hangat, masih terasa denyut dan aliran darah meskipun sangat lemah. Ini adalah sebuah keajaiban. Tanpa dikomando, mereka bergegas menggotong dan membawa tedas kerumah sakit.

********

Awan terlihat tenang. Ada cahaya yang jauh untuk di jangkau. Tedas berusaha berlari menghampiri cahaya itu. Seorang perempuan melambaikan tangannya. Tedas semakin cepat berlari menuju perempuan yang diselimuti kabut dan cahaya. Samar-samar dia mengenali wajah perempuan yang masih jauh itu. Tedas hentikan larinya. Dia tertegun menatap nanar perempuan yang masih berada jauh dari hadapannya, tapi ingatannya bekerja, sosok perempuan yang dia lihat mirip dengan kekasihnya dulu. Perempuan yang selalu hadir dalam hatinya.

"...di ...a...kah....? ...s....r.....i........., sri...................,srii...."

**********

Hari kesepuluh tedas koma dirumah sakit. Beberapa bagian tubuhnya terbalut perban karena mengalami patah tulang. Diantara beberapa sahabat yang menungguinya, ada seorang wanita yang ikut hadir menemaninya. Dari wajahnya yang bersih terbesit kecemasan pada pasien di depannya. Tak henti-hentinya dia membisikkan kata-kata dengan mendekatkan wajahnya ke telinga tedas. Dan...

"...s.....r.....i..................."

bibir tedas yang kering bergetar mengucap sebuah nama, Setelah sepuluh hari diam seperti mati. Perlahan matanya terbuka...

Wanita yang berada disisi tedas tak kuasa membendung airmatanya, buliran-puliran bening jatuh mengalir di pipinya. Dia memeluk sosok lelaki di depannya hingga membuat seisi kamar itu terharu.

"sr..i..., sri..."

"...ssst..., sudah jangan bicara banyak dulu..." Wanita yang ada disisinya berkata dengan tatapan mata penuh kasih. Tedas hanya bisa menatap wajah didepannya dengan tatapan lemah, dia masih berada diantara alam bawah sadar dan kenyataan didepannya. Dokter yang dari tadi berdiri disisi yang bersebrangan dengan wanita itu kemudian mulai memeriksa kondisi tedas.

*****

Hari kelima setelah tedas sadar dari koma selama sepuluh hari, atau hari ke lima belas tedas berbaring menjadi pasien di rumah sakit.

Pagi ini dokter telah memeriksa kondisi tedas, dan mengizinkan tedas sedikit lebih bebas menggerakkan organ tubuhnya, juga membolehkan tedas berbincang setelah selama lima hari ini hanya boleh mengucap satu dua kata.

Mata tedas tak pernah lepas dari memperhatikan wanita yang duduk di dekatnya. Banyak pertanyaan muncul diotaknya. Bagaimana sri bisa tiba-tiba hadir disaat kondisi kritisnya setelah selama sepuluh tahun menghilang begitu saja. Terlalu banyak yang ada dalam pikirannya hingga tedas bingung harus mulai darimana dulu membuka obrolan dengan wanita yang entah sejak berapa hari ini menemani dan merawat dirinya.

Bukan hanya tedas yang bingung, sri pun menjadi sedikit grogi dsengan keadaan ini, meski selama beberapa hari ini dia sudah menyiapkan diri untuk bercerita bila tedas telah siap nanti, tapi tetap saja suasana di pagi ini terasa lain, apalagi ditatap oleh mata dari seorang laki-laki yang pernah di kecewakannya. Setelah mencoba bersikap santai, sri kemudian memulai berbicara dengan laki-laki yang terbaring di dekatnya ini.

"...gmn perasaannya saat ini mas?"

"Alhamdulillah baik..., baik sekali sri..."

"kamu dah sarapan sri?" tedas mencoba lebih mencairkan suasana

"udah tadi dengan sahabatmu, si wahid..."

"oh...,mmh...., ...sri..., ada yang ingin aku tanyakan.... tapi bingung...., kamu tahu kan apa yang ada dalam pikiranku...?", tedas akhirnya memberanikan diri bertanya pada wanita yang masih tampak cantik di usia yang tidak muda lagi ini.

"...ya... aku mengerti. Memang sekarang adalah waktu yang tepat untuk menjelaskan semuanya. Tentang masa lalu kita..., juga bagaimana tiba-tiba aku bisa ada disini sekarang. Sri menatap sebentar kearah jendela di depannya, kemudian mengalihkan pandangannya ke arah tedas yang terbaring dengan mata tetap memandang memperhatikan dirinya.

"...mas..., sebelumnya aku minta maaf padamu...., aku sudah membuatmu terluka selama sepuluh tahun ini... Dulu aku pergi tanpa mengatakan alasan apapun, Ketika hubungan kita sudah sangat serius..., ...mendadak orang tuaku menjodohkan aku dengan laki-laki pilihannya. Aku tak sanggup untuk menolaknya, aku tahu jika aku ceritakan ini padamu, engkau tak kan mau mengerti, aku tahu sifatmu... keras jika sudah punya keinginan, apalagi jika kamu merasa yakin dengan keinginanmu. Itu sebabnya aku pergi tanpa mengatakan apapun..., kebetulan orang tuaku pindah tempat dinas. Sebesar apapun cintaku padamu, aku tetap patuh dengan kemauan mereka. Sri menarik nafas pelan, kemudian meneruskan ceritanya...

"kemudian aku menikah dengan laki-laki pilihan bapak. ternyata dia seorang yang sangat baik. Akupun berusaha menjadi istri yang berbakti dan patuh kepadanya. kebaikannya meluluhkan hatiku..., sayangnya..., usia pernikahan kami hanya berumur 4tahun...disuatu pagi dia terkena serangan jantung...dan..kemudian dia pergi untuk selamanya. Dari pernikahan kami hadir seorang putri. Kini aku hidup dengan putriku. Hmmm... Sambil bercerita sri berulang kali menarik nafas dan sesekali menatap ke arah jendela.

Suatu siang kebetulan aku melihat berita di salah satu televisi swasta...., ada berita tentang longsor susulan yang juga mengakibatkan korban dari pihak sukarelawan..., ada kamu..., salah satu korbannya. Aku kaget... sekian lama tidak pernah mendengar berita kamu, tiba-tiba ada kabar seperti ini.

Aku kaget dan bingung... ada keinginan untuk membiarkan masa lalu tetap sebuah masa lalu, tapi aku ingat ucapan kamu dulu..., lakukan apa yang pertama kali ada dalam hatimu, jika kamu menemukan masalah yang membuat kamu ragu-ragu. Saat itu yang muncul pertama kali dalam pikiranku adalah aku harus ke tempat kamu. Maka hari itu juga aku berangkat..., dan...., kamu lihat sekarang aku ada di depanmu.

Sri tampak tegar menceritakan semuanya. Dia berusaha menempatkan dirinya secara wajar diantara masa lalu dan apa yang kini ada di depannya.

Tedas mendengarkan setiap kata yang terucap dari sri tanpa memotong ataupun bertanya.

Setelah sri selesai bercerita tedas menarik nafas beberapa kali. Hanya satu yang ada dalam pikirannya saat ini... apakah sri mau meneruskan hidupnya dengan dirinya.

"sri..., kamu tahu kan apa yang terjadi dengan diriku selama sepuluh tahun ini?"

"ya..., aku mendapat banyak cerita tentang kamu dari wahid saat kamu masih terbaring koma".

"sri..., kamu masih sayang aku kan?" tedas akhirnya bertanya apa yang mengganjal dalam pikirannya. "aku berterima kasih kamu mau merawat dan menemaniku selama aku di sini. apakah aku masih bisa menjadi bagian dari masa depanmu?"

Sri menundukkan kepalanya...

"sri... kalau kamu bersedia mendampingi hari-hari ku, aku tidak menjamin kamu bahagia. keadaanku saat ini kan hanya merepotkan saja ya...?"tedas tertawa kecil, dia berusaha menyembunyikan kecemasan dalam hatinya. Dia takut sri tidak mengabulkan keinginannya, dan itu artinya dia benar-benar harus mengubur impiannya selama ini.

"sri...kamu bisa kan menjawab pertanyaanku tadi?" Tedas benar-benar menginginkan jawaban dari sri. Masa depannya ada di jawaban sri saat ini.

"hhmmm..., mas... sebenarnya aku..., aku..., aku malas merawat orang sakit..., tapi sayangnya yang sakit adalah orang yang aku sayang..." Sri menjawab pertanyaan tedas dengan sedikit bercanda, dia tersenyum melihat tedas tampak kaget dan bingung.
"Aku mau menemani kamu..." Sri melanjutkan kata-katanya.

"benarkah sri...?" tedas tampak kaget bercampur bahagia.

"ya... asal mas tedas berjanji mencukur kumis dan berewok mas ini. aku gak mau punya suami jorok lho ya..., oh ya satu lagi mas..., deketin putriku dan terima dia sebagai anakmu juga, aku gak jamin bisa punya anak di usia tua begini..." Sri kembali tersenyum melihat tedas melongo mendengar kata-katanya.

"hmm..., Sri... aku bahagia hari ini. aku akan buktikan aku mampu jadi ayah baru buat putri kamu, putri kita, soal momongan baru..., hmm... sebenarnya aku ingin punya anak, apalagi dari orang yang benar-benar aku harapkan jadi istriku, tapi semua terserah sama gusti Allah. menjadi bagian dari kehidupan kalian aku sudah bahagia. Bahagia sekali..." tedas meraih tangan sri. Digenggamnya tangan itu dan didekatkan ke wajahnya. tedas mencium tangan sri dengan lembut. Ada butir air mata menetes dari keduanya.

"aku sayang kamu..." kata-kata itu keluar dari kedua nya secara berbarengan, hingga membuat keduanya tertawa penuh arti.

Udara di rumah sakit terasa semakin sejuk mengikuti kesejukkan dua hati yang baru saja mendapatkan keajaiban karuniaNya.

1 komentar:

  1. GREAT! BAGUS BANGET KAK! INILAH , DN SEPERTI INILAH YG AK INGINKAN! SEMUANYA DAPAT! KEY...! KK BERHASIL MEMBUAT CERPEN PERTAMA, MG SELANJUTNYA, BS LBH BAIK LG! GOOD LUCK!

    BalasHapus