gugusan awan
semilir angin
lambaian pohon nyiur
berebut menerima kedatanganku
mentari yang hangat
bumi yang kupijak
dan gemericik air pancuran bambu
menyalamiku dengan syahdu
tapi tidak lama langit meredup
suasana terasa asing
...
********
Akhirnya aku tiba kembali di kota ini. kota tempat calon istriku, semoga. Dengan langkah mantap ku berjalan menuju rumah ustadz muda itu. Suasana hatiku benar-benar gembira. Didalam tas ransel yang kubawa ada sepotong pakaian pemberiannya dulu, kemeja putih dan celana lapang. Akan kupakai saat menemuinya nanti. Ada sebuah kado juga untuknya, sekuntum bunga teratai didalam toples kecil. Semoga itu bisa membuat dia mengingat kembali mimpi-mimpi kami dulu. Kubayangkan dia akan tersenyum dan menerimaku dengan hati berbunga.
Penampilanku kali ini juga berbeda dengan yang dulu, kali ini aku benar-benar merapikan diri. Tidak ada jambang, kumis dan rambut gondrong yang acak-acakan. Aku ingin terlihat rapi di depannya, Agar dia mengenaliku dan tahu bahwa aku benar-benar memperhatikan permintaanya dulu jika takdir memang mempertemukan kami. Semua ini kulakukan untuk dia, anisaku.
Setelah beristirahat sejenak di rumah pak ustadz kemudian aku diantar beliau menuju rumah anisa. Ah sepertinya ada sandungan dalam niatanku ini. Dirumah itu hanya ada orang tua dan saudara-saudaranya serta seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun. Anak kecil itu memandangku tajam, entah apa yang ada di pikiran polosnya. Andai bisa, ingin ku katakan kepadanya agar dia mengizinkan aku menjalani kehidupan bersama dia dan ibunya. Aku memang belum pernah bertemu dengan anak anisa, hanya tahu dari cerita anisa dulu. "kemana ibumu pergi nak?" aku berkata dalam hati sambil tersenyum ramah pada anak itu.
Anisa telah dua hari ini pergi dari rumah, entah kemana. Atau mungkin keluarganya menutupi keberadaannya. Aku tak berani bertanya terlalu jauh. Sebelum pergi menurut orang tuanya anisa hanya mengatakan kalau dia ada suatu keperluan ke luar kota, dan tidak lama akan kembali. Setelah menceritakan perkenalanku dulu dengan anisa dan mengutarakan niatku datang kesini, aku kemudian pamit. Keluarganya menyerahkan sepenuhnya keputusan itu pada anisa.
Telah dua hari aku menginap di rumah pak ustadz tapi tidak juga ada kepulangan anisa. Aku mulai merasa tak enak terlalu lama tinggal dan merepotkan keluarga pak ustadz.
"Dimana kamu anisa... kenapa selalu ada aral untuk mendapatkanmu. Ya Allah bagaimana lagi aku harus melanjutkannya... tunjukkan sebuah pilihan padaku." jiwaku meradang. Aku lalui malam itu dengan merenung, melamun dan entah sebutan apalagi untuk menjelaskan perasaan dan emosi yang terangkum jadi satu.
Pagi ini setelah berpamitan pada pak ustadz dan mampir ke orang tua anisa, aku pun langsung pulang. Aku tidak tahu apa yang harus kuceritakan pada ibu. Aku terbayang wajah ibu yang tersenyum mengantarkan keberangkatanku ke kota ini, kini aku tak sanggup membayangkan wajah ibu ketika aku datang nanti. Aku ingin memberikan padanya seorang anak menantu yang begitu baik, yang akan menyayanginya, sama seperti rasa sayangku pada ibu tapi hal itu belum mampu ku wujudkan.
Dengan wajah lusuh aku memasuki halaman rumah, ibu yang berada di teras langsung berjalan menyambutku.
"ada apa nak, kenapa wajahmu murung seperti ini? mana calon mantu ibu?" pertanyaan-pertanyaan ibu mengunci mulutku, aku bingung. Kulihat wajah ibu juga ikut sedih, beliau memahami kalau anaknya sedang tidak enak hati. Tapi tidak lama kemudian beliau tertawa. Aneh..., ibu belum pernah tertawa seriang ini, apalagi melihat anaknya lagi bersedih seperti saat ini. ada apa dengan ibu, apa dia menyembunyikan sesuatu?
Tidak tahan melihat wajahku yang tidak cakep semakin bertambah jelek karena melongo, ibu kemudian bercerita. Dua hari sejak kepergianku ke kota anisa, seorang wanita yang sangat cantik datang ke rumah. Dia memperkenalkan diri sebagai anisa, anisa ku. Dia menitipkan sebuah surat untukku. Tak sabar aku segera merobek amplop surat yang di sodorkan ibu.
kakak...
terima kasih karena engkau selalu menyayangiku, aku bahagia. Salam dan sembah sungkem untuk ibu.
anisa
Begitu pendek suratnya, aku baca berulang kali sampai aku hapal tiap katanya, tapi tidak ada kata-kata tentang masa depannya, tentang keinginan-keinginannya, tentang aku dan dia, tentang kami.
"dia wanita yang cantik sekali. kulitnya putih bersih, sopan dan ramah. ibu menyukainya. dia juga mengajari ibu memasak lho, katanya masakan dari negri orang sipit sana, rasanya aneh. kami tertawa bersama di dapur.... Hmmm, cukup lama dia ada disini tapi ketika ibu memintanya menginap, dia tidak mau. Dia hanya minta di tunjukkan kamarmu yang berantakan itu. Dia masuk ke dalam kamarmu sebentar. Dari balik gorden kamar, ibu mengintip apa yang dia lakukan. Dia hanya memandang fhoto dirinya yang terpajang di kamarmu, kemudian tangannya yang halus itu menyentuh dan membelai lembut sprei ranjangmu. Dia memejamkan matanya. Lalu dia keluar. ada genangan air mata dalam kelopak matanya yang bening... setelah itu dia menulis dan menitipkan surat itu."
Aku mendengarkan cerita ibu tentang kehadiran wanitaku di rumah ini. Aku kemudian bertanya, Bu katakan apa yang harus anakmu lakukan sekarang?" aku meminta nasehatnya, aku meminta doanya. Urusan jodohku harus segera terjawab.
"Berangkatlah lagi, jemput dia, katakan..., Ibu memohon kepadanya agar dia mau menjadi anak ibu. Ibu menjawab dengan wajah penuh senyum. Aku pun langsung menganggukkan kepala.
"Segera Bu, kali ini aku tidak akan pulang tanpa membawanya!!!"
Kamis, 28 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

hmmm....! Lelaki tangguh!
BalasHapus