siang terik di tengah gurun dua sosok manusia terlihat saling berpelukan. Aku mendekatinya. Samar kulihat karena debu beterbangan dengan kencang. seorang wanita berjongkok memeluk bocah kecil, berusaha melindunginya dari terjangan debu yang kencang. Dia menatapku. Bibirnya kering, wajahnya pucat dengan rambut riap tak teratur. "Dia..anisa..., anisaaa...." aku berteriak memanggil sebuah nama.
"Hei..bangun..bangun...., kamu mimpi. kamu menangis? nyebut..nyebut..., ada apa nak, mimpi apa? Ibu membangunkanku dari mimpi yang menakutkan itu. Kutarik nafas dalam-dalam, kuterima segelas air putih yang di sodorkan ibu. Jantungku kembali tenang. Ada apa disana, ada apa dengan keadaan wanita yang kusayang itu? Aku tak bisa menduga arti mimpiku. Malam itu aku tidak sanggup memicingkan mata lagi. Kusebut namanya berkali-kali. Kudoakan keselamatan dan memohon perlindungan kepada Allah untuknya.
Kutulis semua keadaan perasaanku di buku diary. Setiap kali mengingat wanita itu aku hanya bisa berdoa, dan berdoa. Memasrahkan dan memohon ampun atas hatiku yang tak sanggup menghilangkan perasaan cinta ini. "Ampuni hamba yang selalu dzholim ini ya Allah..."
Beberapa kali ibu mengingatkanku untuk segera mencari pendamping hidup, bahkan beliau menyodorkan beberapa nama, bermaksud menjodohkanku, tapi aku tak bisa menerimanya. Hatiku tak bisa mengingkari apa yang aku mimpikan meskipun itu sebenarnya suatu dosa dan hanya bertepuk sebelah tangan.
**********
Tahun berganti, umurku semakin tua dan mulai menjadi perbincangan tetangga sebagai orang tidak laku jodoh. Aku tak begitu memikirkannya. Sebenarnya akupun berusaha menghapus wanita itu dari hatiku, tapi setiap kali ku hadirkan sosok lain dalam hatiku, jiwaku menolaknya.
Suatu malam, selesai melaksanakan ibadah sunnah, aku merenung. Aku berusaha membuat keputusan, kali ini aku harus bisa. Entah darimana mulai memikirkannya, saat itu tiba-tiba melintas sebuah pilihan. Aku akan datangi wanita itu. Anisa, aku akan mencarimu, memastikan engkau bahagia, setelah itu aku pun akan ikhlas.
Pagi hari selesai melaksanakan sholat subuh, aku berkemas. Dua potong pakaian, sarung, dan beberapa perlengkapan lain kumasukan pada tas ranselku. Aku kemudian meminta izin ke ibu. Dengan besar hati ibu mengizinkan pencarianku yang tidak jelas arahnya itu.
Bermodalkan uang tabungan yang ada, aku menggunakan bus umum menuju kota anisa. Alamat yang pernah dia berikan padaku sbenarnya tidak lengkap, tapi kemantapan hatiku mengalahkan semuanya. Aku harus dan pasti menemukannya. Gumamku meyakinkan diri sendiri.
********
Beberapa tempat telah kudatangi, alamat dan nama tempat yang mirip atau memiliki kesamaan dengan cerita yang dulu pernah anisa katakan padaku telah ku jelajahi, tapi tak kutemukan sosoknya. Aku mulai putus asa. Uang bekalku sudah sangat tipis.
Hari masih pagi ketika ku beristirahat di sebuah masjid. Sambil beristirahat, ku cuci pakaian yang kotor. Wajahku pun semakin dekil, rambut mulai kusut dan tubuh semakin kurus karena mengurangi jatah makanku sendiri agar uang bekal ini masih cukup untuk pulang nanti.
Seharian aku dimasjid ini. Kuputuskan selesai sholat isya ini aku akan pulang kembali. Adzan isya baru saja berkumandang. Beberapa orang tampak menuju masjid. Aku tersenyum sendiri melihat beberapa kekeluarga mengajak anak-anaknya sholat berjamaah di masjid ini. Saat hendak menuju tempat wudhlu dalam cahaya lampu yang tidak terang aku berpapasan dengan seorang perempuan muda menggandeng anaknya memasuki serambi depan masjid. Wajahnya mirip sekali dengan anisa. Anisa, ...diakah anisa ku itu? Hatiku berdegup kencang. Aku tak berani bertanya, ku biarkan wanita dan anaknya itu berlalu melewatiku.
Selesai sholat isya berjamaah aku bergegas menuju serambi masjid, ku tunggu dia dan anaknya pulang. Akhirnya wanita yang sangat mirip dengan anisa itu memang keluar. Dia keluar paling akhir dari dalam masjid. Seperti tadi aku hanya bisa memandangnya. Sementara wania itu tampak acuh saja, mungkin tidak merasakan ada orang yang memperhatikannya.
Tiba-tiba suara seseorang menegurku sambil menepuk pundakku.
" saudaraku..., tidak baik melihat wanita dengan pandangan lama seperti itu."
Aku menoleh dan membalikkan tubuhku. Didepanku berdiri laki-laki yang usianya sedikit lebih tua dariku. Dia adalah imam sholat isya tadi. Aku mencoba tersenyum, menghilangkan rasa kaget tadi.
"ada yang bisa saya bantu?" tanyanya kemudian. Aku menggeleng dan tersenyum. Tidak berani menyakan siapa wanita tadi. Aku pun diajak berbincang sambil dudk di teras masjid. Setelah itu bapak yang baik hati ini mengajakku pulang ke rumahnya. Aku dipersilahkan menginap. Sebelum tidur kami sempat mengobrol, dan akhirnya aku mengaku jujur padanya. Kuceritakan tujuan perjalanan ini. ternyata wanita tadi memang benar anisa adanya. Dia tinggal bersama anak dan suaminya, tak jauh dari rumah pak ustadz muda ini. Aku di nasehati agar mengubur rasa cintaku kepadanya dan di minta agar besok segera pulang, meninggalkan tempat ini.
Jam menunjukkan pukul satu dini hari, aku terbangun dari tidurku yang tidak bisa pulas. Aku beranjak bangun menuju kamar mandi yang berad di sudut kamar. Aku ingin menunaikan ibadah sunnah seperti biasa. Selesai mengerjakan sholat malam, dengan menahan air mata yang mulai terasa memadati kelopak mata, aku berdoa untuk anisa dan keluarga kecilnya. Suaraku menjadi serak dan sesekali ada tarikan nafas.
"Ya Allah, berikan kebahagiaan untuk anisa dan keluarganya, ...jauhkan dia dan keluarganya dari fitnah dan musibah, ...dan jadikan aku ikhlas pada setiap kehendakMU, ...Ampuni juga hamba yang selama ini telah dhzolim pada diri hamba sendiri..." Kemudian kusebut asmaNya berulang kali sampai jiwaku merasa tenang kembali .
Di sebelah kamar yang ku tempati ternyata pak ustadz muda juga sedang menunaikan ibadah sepertiga malam, dan dia mendengar semua rintihan doa-doaku. Aku tidak tahu jika dia ikut mengamini setiap doa yang ku panjatkan.
Selepas sholat subuh berjamaah di masjid, aku memohon diri, pamit pada ustadz muda yang baik hati itu. Sebelumnya pak ustadz muda itu meminta alamatku entah untuk apa.
************
Setahun setelah kepergianku ke kota anisa dan menemukannya, aku masih belum juga di karunia pendamping hidup. Aku mulai malas untuk mencari, waktuku kuhabiskan dengan bekerja segiat-giatnya membangun usaha di bidang pertanian. Aku merasakan kebahagiaan meski setiap malam menjelang tidur tak bisa ku pungkiri bahawa aku membutuhkan seorang istri untuk melengkapi kebahagiaan hidupku.
sore itu sepulang dari perkebunan, aku duduk di teras melepas lelah. Ibuku menghampiri, di tangannya ada sepucuk surat yang di sodorkan kepadaku.
"ada surat dari pak pos tadi siang, ibu gak kenal pengirimnya. ini..." aku menerima surat yang di berikan ibu. tertulis pengirimnya nama seorang laki-laki.
kepada saudaraku
semoga senantiasa engkau dalam keadaan hati dan jiwa yang berbahagia selalu. Aku akan mengabarkan kepadamu sebuah berita. Entah ini menjadi berita bahagia untukmu atau bukan, tapi hatiku mendorong tanganku untuk menulis dan memberitahukannya kepadamu.
Aku tak perlu bercerita banyak, karena ku yakin engkau tahu asal dan alasan dari cerita yang ingin ku sampaikan. Empat bulan lalu anita bercerai. Kita tidak tahu keinginan dan kehendak serta takdir Allah, kabar ini aku sampaikan kepadamu dengan tujuan jika engkau memang belum menemukan belahan jiwa, pendamping hidupmu, segeralah engkau datang kemari.
semoga Allah mengampuni kita dan selalu menunjukkan pilihan terbaik untuk hidup kita.
ku tutup surat itu. Aku tidak tahu apakah harus bahagia atau bersedih.
"bu... sepertinya, jodohku segera datang..., tapi aku mohon ibu bersedia menerima keadaan mantu ibu itu dengan kedua tangan terbuka"
ibuku tersenyum. Dia malah balik bertanya, "kapan kau akan membawanya ke hadapan ibu? oh ya nak, ibu sudah tahu wanitamu. ketika engkau pergi, ibu membaca diarymu. Maafkan ibu ya..., ibu mernyayangi kamu. Ibu tunggu calon mantu ibu dengan kedua tangan akan ibu peluk dia seperti ibu memelukmu..." ibu tersenyum dan masuk kedalam rumah. Tinggal aku yang bengong. Bahagia dan tak percaya.
Kamis, 28 Mei 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

smoga apa2 yang dikau inginkan,akan menjadi nyata dalam naungan ridha Ilah!
BalasHapus