Senin, 01 Juni 2009

mujarad 4

kali ketiga aku datang ke kota ini. Apakah aku akan bisa membawanya ke hadapan ibu?. Aku menyusuri jalan menuju rumah anisa. Kali ini tanpa istirahat dan bersilahturahmi dengan pak ustadz baik hati itu.

****

Anisa memandangi ikan-ikan yang hilir mudik dan memakan pakan yang di taburkan. Dia gelisah, ada perasaan yang sulit untuk di ungkapkan. Ada apa dengan jiwanya, diapun tak tahu. Hanya dia sadar kehidupannya kini tidak lagi sama dengan yang dulu. perceraian membawanya pada status baru.

"dia pasti datang... jika dia mengajakku harus kujawab apa. Ya Allah beri aku jawaban, jangan besok tapi sekarang. jangan biarkan hamba dalam keraguan." anisa bergumam sendiri sambil menatap kincir air yang ada di kolam ikan.

Tok..tok tok tok... "assala mu'alaikum.... "
Terdengar bunyi pintu di ketup dan suara orang memberi salam, suara seorang laki-laki. "hmm.. dia tlah datang...memenuhi undangan hatinya sendiri, ...dan aku... adakah aku juga di undang oleh hatiku untuk perjalanan baru ini??" anisa menunduk. Terdengar suara ibunya dari belakang. anisa berdiri, dia memandang wajah ibunya, seolah meminta pilihan.

"ada tamu kamu di depan, sana temui..." ibunya berkata singkat melihat anisa hanya diam berdiri mematung.

Anisa menyibakkan gorden pintu tengah dan tersenyum. Laki-laki yang melihatnya pun langsung tersenyum dan terlihat gembira. Sebuah pertemuan yang telah ditunggu lama akhirnya terjadi juga. setelah berbincang sebentar keduanya terdiam. ada kekakuan dari keduanya.

"aku datang melamarmu..." berkata pelan laki laki itu memecah kebisuan. Dia tampak ragu mengucapkan kalimat indah itu. Bukan karena ragu pada kesiapan dirinya tapi ragu pada sikap Anisa yang tampak takut begitu mendengar kata-kata itu. "Ada apa anisa? jawablah..." kembali laki-laki berpenampilan sederhana itu mengulang kembali kata-katanya, tapi anisa hanya menunduk.

"Bukankah kau mencintaiku? kau juga pernah datang ke tempatku... adakah kau tidak suka dengan diri dan keadaanku?." terlihat semakin lelah wajah laki-laki yang memang belum beristirahat dari sejak datang ke kota anisa ini. Kini wajah itu semakin terlihat memelas.

"..k...kak... maafkan anisa..., anisa tak mampu..., tak bisa memenuhi keingnan kakak..., anisa takut..., anisa bingung...,....u..gggh.."
Tak ada suara yang keluar dari mulut anisa selain tangis yang tiba-tiba meledak memecah suasana yang barusan sepi.

Laki-laki yang di panggil kakak oleh anisa itu terkejut mengartikan maksud ucapan anisa. Dia semakin tak mengerti karena kini anisa menangis. perlahan dia berjongkok di depan anisa, tangannya diulurkan hendak meraih wajah yang sesenggukan itu tapi setengah jalan dia urungkan niatnya. Dia kembali duduk, terdiam. bathinnya kini menangis. Jika bukan karena rasa sayang yang begitu dalam, mungkin saat ini dia goncangkan tubuh anisa dan memaksanya berterus terang tentang maksud kalimat yang sepotong-sepotong tadi. Sangat lama rasa itu mengendap dan di biarkan terkekang di hati, kini ketika tak ada alasan untuk menahannya lagi rasa itu harus tergerus kembali. "Mengapa..., mengapa?"

Beberapa kali laki-laki itu menarik napas dalam-dalam. Ditengadahkan kepalanya karena sepertinya ia juga tak sanggup untuk tidak ikut meneteskan air mata.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya laki-laki itu memberanikan diri berjongkok kembali di depan anisa. Dengan mata berkaca-kaca dan tangan mengangkat wajah anisa yang masih menunduk dan terisak, dia bertanya sekali lagi...
"An..., katakan apa yang kau inginkan? tatap aku.., lihat mataku An..., bisakah kau berterus terang tentang kalimatmu tadi?"

Anisa masih diam. Hanya menatap mata laki-laki yang dari kedua sudut matanya mulai keluar bening air mata.

"A..an..., sekali lagi ku bertanya..."
" Maukah engkau menjadi istriku? Aku tak peduli semuanya...,"
" aku datang kesini dengan cinta yang telah lama ku redam dalam jiwa.... Aku datang kepadamu dengan niat untuk membawamu kehadapan ibuku..., Aku datang kerumahmu untuk memohon izin pada orang tuamu...."
"Izinkan aku berusaha membahagiakanmu..."

Sekali lagi anisa diam. tapi kali ini dia mulai bisa mengendalikan gundah hatinya. Ditatapnya tajam mata laki-laki itu.

"Kak... maafkan aku... aku belum siap... maafkan aku.... maafkan aku" hanya itu kata-kata yang keluar dari mulut anisa.

Laki-laki yang berjongkok di depan anisa langsung terduduk lemas di lantai begitu mendengar jawaban anisa. Tak ada lagi yang bisa di katakannya. Hatinya terasa hancur, tapi dia tak bisa mengatakan apa-apa. Meski anisa tidak mengatakan dengan jelas alasan penolakannya tapi dia memaklumi jika dalam hati anisa ada rasa trauma yang belum bisa sembuh setelah kegagalan dan ketidak percayaannya pada sosok seorang suami.

Tanpa mengatakan apa-apa, laki laki itu berdiri dan meraih tas pakaiannya yang tergeletak disisi kursi tempat duduknya Kemudian berjalan pelan keluar.

"panggil aku An.. tahan langkahku ini..., berlarilah..., katakan kau mau jadi istriku...." jerit hati laki-laki itu Sambil berjalan dengan kepala sedikit tertunduk semakin jauh meninggalkan halaman rumah anisa. Tapi tak ada kata-kata yang terdengar seperti keinginannya.

"jika masih ada rasa sayangmu untukku...jika dalam hatimu ada keyakinan untuk bersamaku...panggil namaku sekarang...!!! sebut namaku sekarang!!! sebelum aku benar-benar pulang dan tak kan lagi datang ke kotamu..." sekali lagi Hatinya berharap. Ingin sekali Dia menengok dan membalikkan badannya, memastikan apakah anisa masih menatap dan memandanginya atau memang membiarkannya pulang dalam keadaan hancur seperti ini, tapi tak jadi dilakukannya. Dia hanya berhenti sebentar di persimpangan jalan kecil yang menuju rumah anisa itu. Kemudian dia bergegas mempercepat langkahnya dan hilang di belokkan jalan.

********

Dan setiap senja datang
aku akan selalu mengingat ini

(tulisan di lembar terakhir buku diary)

1 komentar: