Sabtu, 27 Juni 2009

curhat dalam secuil kisah

kenapa awan punya warna putih dan hitam?..., kenapa senja selalu mempesona? kenapa angin suka membawa bau tak sedap? kenapa malam penuh dengan rahasia? Aaaah..., aku semakin merasa bodoh saja mendengar pertanyaanmu.

"ko cuma senyum?" kau lagi-lagi bertanya, bahkan sekedar senyumku pun kau pertanyakan. Tahukah kamu dik, setiap pertanyaanmu adalah cerita hidupmu yang penuh keperihan dan karena aku tak pernah bisa membuat sebuah kenangan indah tentang kita maka aku hanya bisa tersenyum dan diam. Sementara engkau, meski hanya dengan bertanya ringan akan selalu terkenang selamanya dalam memori hidupku.

"kakak gak suka ya dengan pertanyaanku?"

duh lagi-lagi kau bertanya ringan, padahal dalam hatiku saat ini hanya ingin diam menikmati waktu-waktu terakhir kebersamaan kita.

"suka kok" akupun terpaksa menjawab karena kutangkap wajah jutekmu sekilas. "makasih ya" ujarku kemudian.

"lho..lho... ko' terima kasih? kakak berterima kasih untuk apa? aku kan bertanya kak, bukan memberi hadiah... parasmu berubah heran setelah mendengar ucapanku. Sesaat kemudian engkaupun mengenali dengan baik tanda-tanda kekecewaanku.

"kak..., maafkan aku. Aku telah mengecewakanmu... maafkan karena selama ini telah membuatmu banyak berharap kepadaku."

Aku semakin tak tahu harus berkata apa karna kulihat wajahmu merasa bersalah begitu rupa.

"hei... ngomong apa kamu dik, ko minta maaf segala... emang kamu salah apa ma kakak? kita berdua ini benar semua lho hanya berbeda pendapat. hihihihi..., aku tertawa kecut mencoba menghilangkan keresahanku sendiri.

"dik...?" aku kemudian menatapnya serius.

"iya kak.." jawabmu pendek menunggu ucapanku selanjutnya.

"ga' papa ding, kakak cuma kpingin manggil kamu aja..." aku memaksakan bibirku tersenyum, menghilangkan kalimat yang telah kususun dan siap meluncur keluar. Jika kalimat ini sampai keluar aku yakin aku akan menjadi laki-laki paling pecundang kepadamu.

(aku ingin membawa lari kamu dari sini, dari orang-orang yang mengaku menyayangimu)

"kak... udah malam, kakak pulang sana..."kata-katamu memecah kebisuan kita

"hmmm... bentar lagi ya... kan belum terlalu malam sekarang... bentaaar lagi...,boleh ya,...ya boleh kan?" tanyaku merajuk. Sungguh aku ingin sedikit lebih lama lagi disini karena besok semua akan jadi masa lalu dan kita akan kembali ke keadaan kita masing-masing. Tidak ada lagi kita sepasang kekasih, yang ada hanya engkau dan aku sebagai dua orang yang saling mendoakan.

Dan engkau mengangguk pelan. kemudian engkau tatap bulan yang mirip buah kesukaanku itu. Sementara kau menatap langit malam yang temaram aku berlama-lama menatap wajahmu. terakhir kali...

hayo... lagi mandang aku ya?" candamu tanpa menoleh ke arahku dan tetap menatap gugusan bintang dan bulan yang mirip pisang itu.

"emang napa..? gak boleh ya?" tanyaku pura-pura kesal. ikh, napa sih dik kamu mencandaiku disaat hatiku sedang tak ingin tertawa. aku hanya mampu bertanya dalam hati saja.

"kakak sekarang pulang ya..., aku dah capek banget nih, dah ngantuk berat. kakak tahu kan besok seperti biasa aku harus kerja. kerja yang berat untuk ukuranku. Demi ayah dan ibu, dan keluargaku."

"hmm... ya, ya..ya..." aku hanya bisa berucap itu dan mengangguk.
aku pun bangkit dan melangkah pergi meninggalkanmu.

(semuanya sudah berakhir ya... demi ketenangan dan kejernihan hati kita, memang ini jalan terbaik. Diatas itu semua, memang yang kita cari adalah ridho dan kasih sayangNYA. Dan aku malu karena memaksakan suatu dosa kepadamu. maafkan dan maafkan kakak yang beberapa waktu ini menjadi orang yang menyebalkan dan hanya menambah berat beban pikiranmu saja. masa lalu memang tak mungkin kakak bawa selamanya bersanding dengan hari ini, suka tidak suka dia harus ditinggal dan di simpan)

1 komentar: